Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Pendeta yang Memberdayakan Lahan Kecil

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
25/12/2019
in JURNAKULTURA
Pendeta yang Memberdayakan Lahan Kecil

Rasa sakit terbesar dalam hidup kita, bisa menjadi pembebasan terbesar kita — Richard Joyner. 

Musim panas 2005, Pendeta Richard Joyner dari Gereja Conetoe Chapel Missionary Baptist merasa resah. Dalam sebulan, ada dua orang meninggal di daerah yang hanya ditinggali penduduk sebanyak 300 jiwa tersebut.

Ya, daerah Conetoe yang terletak di Edgecombe County, Carolina Utara itu, didominasi ras Afro-Amerika — sebuah daerah yang mayoritas rumah tangganya hidup di bawah garis kemiskinan, dengan warga usia 20-39 tahun lebih kerap meninggal akibat penyakit jantung daripada kecelakaan.

“Saya telah menutup terlalu banyak peti mati pada anak muda,” kata Joyner, “Bagaimana bisa menghibur seseorang yang baru saja kehilangan anak karena gizi buruk, bahwa ini rencana Tuhan, ketika seharusnya itu bisa dicegah?” Ucap pendeta yang pada 2017 berusia 64 tahun itu.

Pendeta Joyner amat bersedih dengan kenyataan yang dia lihat. Kesedihan membabi-buta itu, membuatnya kian intensif berdoa. Suatu hari, ia semacam mendapat Ilham untuk lebih membuka mata terhadap lingkungan sekitar.

Pendeta Joyner mulai melihat segalanya dengan mata lebih terbuka. Dia melihat sekeliling, dan yang dia lihat hanyalah tanah kosong, lahan tandus dan ladang pertanian yang tak tergarap dengan baik. Dari sana, ia kepikiran melibatkan anak-anak muda untuk memberdayakan tanah dan lahan tersebut.

Melalui program gereja, di musim panas tahun itu juga, ia memulai agenda kemah pemuda dengan giat memanfaatkan lahan kecil yang dimiliki gereja, dengan peralatan dan benih yang disumbang masyarakat sekitar.

Joyner menunjukkan pada para peserta kemah yang berusia 4 hingga 16 tahun itu tentang bagaimana cara menanam makanan dan bagaimana memanfaatkan lahan kecil di dekat gereja, untuk menanam sayuran yang hasilnya bisa dinikmati sendiri.

Di awal panenan, mereka mampu mengonsumsi sendiri sejumlah hasil panen berupa sawi, ubi dan bermacam sayuran lain. Namun pada tahun berikutnya, mereka sudah mampu mengirim kotak sayuran gratis pada warga lanjut usia.

“Seorang wanita berusia 97 tahun sangat bersemangat, dia mencium anak-anak,” kata Joyner.

Sejumlah masyarakat senang atas gerakan bermanfaat yang diinisiasi Joyner tersebut. Tapi, tak semua orang menyambutnya dengan pikiran positif. Beberapa orang gereja, bahkan mempertanyakan giat tersebut, alih-alih berpartisipasi dan mendukung dalam urusan agraria.

Tapi, Joyner tetap keukeuh menjalankan kegiatan itu. Ia bangga pada anak-anak yang membawa makanan pada orang-orang yang membutuhkan, terlebih, anak-anak juga amat menikmati proses menanam.

Di lain sisi, Joyner yakin bahwa  merawat tanaman, menjual hasil bumi, dan melacak data digital memberi pelajaran berharga dalam sains, teknologi, matematika, hingga nutrisi pada anak-anak didiknya.

Hari ini, berkat semangat Joyner serta bantuan dari Organisasi Gereja dan Lembaga Lingkungan yang menyediakan dukungan logistik dan keuangan, lahan kecil milik gereja Conetoe itu berubah menjadi lembaga bernama Conetoe Family Life Center yang memiliki lahan seluas 8,5 Hektar.

Kini, Conetoe Family Life Center telah menjadi lembaga yang memiliki misi meningkatkan kesehatan masyarakat dengan meningkatkan akses pada makanan sehat, meningkatkan aktivitas fisik, hingga menyediakan akses ke layanan kesehatan.

Rumah Sakit, sekolah, dan restoran setempat berpartisipasi dengan membeli salad sayuran, paprika, brokoli, stroberi, hingga tanaman lain hasil tanaman pendeta Joyner beserta jemaatnya untuk kafetaria dan pelanggan mereka.

Sedang seperempat dari hasil panen, dibagikan gratis pada anggota gereja.

Dari apa yang dilakukan Pendeta Joyner tersebut, berdampak sesuatu yang amat spektakuler. Penelitian dari East Carolina University menemukan bahwa berat badan penduduk Conetoe turun ke angka ideal, begitupun tekanan darah mereka.

Selain itu, masyarakat sudah jarang berkunjung ke UGD Rumah Sakit karena mayoritas mengonsumsi makanan segar dan menyehatkan.

Melihat keberhasilan dan hasil atas apa yang dilakukan dia bersama para jemaat gerejanya, Pendeta Richard Joyner berkata: rasa sakit terbesar dalam hidup kita, bisa menjadi pembebasan terbesar kita.

——

Kisah ini disarikan dan diolah dari sebuah artikel karya Jeff Chu yang dipublish di Reader’s Digest pada 19 Oktober 2017.

Tags: AgrariaGerejaPendeta
Previous Post

Serangan Gaib ke Warung Sego Buwuhan Bojonegoro Hebohkan Twitter

Next Post

Memprediksi Biaya yang Dikeluarkan Manajemen Persibo untuk Akuisisi Klub Liga 2

BERITA MENARIK LAINNYA

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan
Cecurhatan

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan

18/05/2026
‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

11/06/2026
Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

10/06/2026
Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori

Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori

09/06/2026
Berkah Bumi: Berawal Rembesan Alami, Diubah Jadi Konsesi

Berkah Bumi: Berawal Rembesan Alami, Diubah Jadi Konsesi

08/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: