Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Pendidikan Simbol Hari Santri

Redaksi by Redaksi
23/10/2021
in Headline, Redaksi
Hari Santri

Hari Santri sejatinya hanya simbol. Sebuah pesan moral untuk bangsa ini agar ngelakoni nilai-nilai karakter santri.

Arti kata santri masih banyak tafsir. Asal muasal istilah santri juga banyak versinya. Satu di antaranya dibahas dalam buku “Kebudayaan Islam di Jawa Timur: Kajian Beberapa Unsur Budaya Masa Peralihan” karya M. Habib Mustopo. Di sini  disebutkan bahwa santri berasal dari bahasa sansekerta “sastri” yang artinya “literate”, alias melek huruf.

Ini menarik, karena santri memang identik dengan pembelajar. Tempat belajar mereka disebut pesantren. Bukan sekadar tempat dalam arti lokasi. Pesantren adalah ekosistem belajar. Karena pesantren sendiri kalau dalam sistem pelafalan bahasa jawa berasal dari kata per-santri-an, segala hal yang berhubungan dengan santri.

Konsep pendidikan dalam pesantren tidak hanya tatap muka dalam kelas. Ia adalah proses pendidikan kehidupan. Mulai dari bangun, tidur, hingga bangun lagi. Proses pendewasaan melalui sistem pedagogis.

Pesantren sejatinya pendidikan yang memanusiakan manusia. Meskipun prakteknya tidak selalu ideal. Tapi inti pengajaran di pesantren, para santri belajar tentang life skill, wisdom, dan bahkan politik.

Pendidikan juga seharusnya membebaskan. Membuka jalan bagi pikiran yang bebas, imajinasi yang luas. Memberi ruang kepada setiap otak manusia untuk berkembang. Ini yang dipraktekan di pesantren yang ideal.

Feodalisme dan hegemoni pengetahuan sering terjadi dalam dunia pendidikan kita. Tapi tidak terjadi di dalam sistem pendidikan pesantren ideal. Pendidikan pesantren mengajarkan kesetaraan yang santun, egalitarian yang budiman.

Santri-santri dari pesantren ideal tidak hanya sekadar menjadi intelektual. Mereka bertumbuh menjadi raussan fikr, enlightened intellectual, para alim yang tercerahkan. Memberi manfaat bagi semua orang yang ada di sekitarnya.

Santri-santri dari pesantren ideal tak pernah menunjukkan diri. Tak ada yang tahu keberadaannya. Karena mereka menyebar, masuk ke dalam identitas-identitas lain. Menjelma menjadi petani, pekerja sosial, karyawan kantoran, dan sebagian menjadi pegawai Pemerintah.

Orang-orang yang mengaku santri sudah dipastikan bukan dari pesantren ideal. Mereka biasanya alumnus dari pesantren abal-abal yang konsisten dalam menerapkan sistem feodalis, dan menginternalisasi feodalisme dalam dirinya.

Mereka yang belum selesai membaca tapi merasa sudah khatam. Mereka yang baru melihat makanan mengaku faham rasa. Mereka yang tidak mengerti bahwa santri adalah pendidikan simbolik.

Simbol, jika tidak dimengerti dengan benar, bisa membuat orang tersesat. Saat orang menganggap simbol adalah substansi, maka biasanya salah kaprah. Karena simbol adalah instrumen untuk mentransformasikan pesan. Bukan pesan itu sendiri.

Termasuk dalam pendidikan. Simbol digunakan untuk mendistribusikan ide. Mengejawantahkan makna yang rumit menjadi sederhana dan mudah difahami.

Simbol digunakan manusia untuk terus berkembang biak dengan saling berkomunikasi. Bahasa sebagai alat komunikasi adalah rangkaian simbol berupa kata-kata, angka-angka, suara, warna, dan bentuk-bentuk visual yang disepakati bersama.

Kembali soal santri dari pesantren ideal. Mereka akan sedih saat melihat santri menjadi komoditas politik. Santri dijadikan alat untuk hegemoni politik. Santri diklaim secara sepihak, menjadi milik kelompok penguasa untuk mengukuhkan kekuasaannya.

Santri dari pesantren ideal akan resah saat mendapati simbol-simbol pesantren disalahgunakan kelompok elitis. Seolah pesantren adalah milik para pemuka, tuan-tuan yang bersorban. Sarung dan peci seakan menjadi bukti santri sejati.

Terakhir, santri dari pesantren ideal menitipkan pesan dalam dua paragraf penutup berikut ini:

“Para penguasa, ayolah jadikan pesantren sebagai solusi masalah pendidikan. Jangan jerumuskan reputasi para santri. Kalian boleh berpolitik, tapi jangan politisasi pesantren.”

“Untuk kolega penguasa yang numpang hidup dari mereka. Mohon untuk tidak terbawa suasana. Jangan terjebak kasih palsu para penindas. Jangan melihat mereka sebagai manusia ideal. Sesungguhnya kekuasaan bukan jalan tunggal untuk memenangkan kehidupan ini.”

Selamat Hari Santri. Tanpa tanggal, tanpa upacara. ~

Tags: Hari SantriKekuasaanPendidikanPolitik
Previous Post

Bojonegoro Urban: Kronik Perjuangan Santri, Pemuda, dan Pahlawan

Next Post

Roemantis, Sedekah Kuliner Berkonsep Modern di Bojonegoro 

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Iran: Kemajuan Sains di Tengah Embargo
Redaksi

‎Iran: Kemajuan Sains di Tengah Embargo

23/03/2026
‎Jambaran, Jejak Bledug Geni dalam Proyek Strategis Nasional
Redaksi

‎Jambaran, Jejak Bledug Geni dalam Proyek Strategis Nasional

05/03/2026
‎Identitas Kultural dalam Pembangunan Taman Perbatasan
Redaksi

‎Identitas Kultural dalam Pembangunan Taman Perbatasan

09/01/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara

Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara

12/04/2026
Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan

Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan

12/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: