Kehilangan tidak pernah mudah, terlebih kehilangan mereka yang kita cintai sepenuh hati.
Setelah beberapa hari berita mengenai tenggelamnya Eril, putra dari Ridwan Kamil (RK) memenuhi timeline, hari ini RK kembali bekerja secara resmi untuk pertama kalinya pasca kehilangan putra pertamanya. Banyak media membahas mengenai mimic mukanya yang masih menyimpan kesedihan.
Itu ditunjukkan dari matanya yang sembab, meski bibirnya ditarik paksa untuk tersenyum. Apa yang diharapkan dari orang tua yang baru saja kehilangan anaknya? Muka Bahagia penuh tawa?
Kehilangan tidak pernah mudah. Ini membawa ingatan saya pada serial Grey’s Anatomy ketika para dokter residen, yaitu Meredith dan teman-temannya, baru saja kehilangan seorang sahabat, George O’Malley. Dalam satu scene di season 6 itu diperlihatkan bahwa Meredith dan teman-temannya justru tertawa di pemakaman George.
Mereka mengira semua masih baik-baik saja, sampai pada suatu ketika mereka menyadari bahwa ada yang hilang dari mereka, kehadiran George. Hal yang dilakukan Meredith dan teman-temannya saat tertawa terbahak-bahak di pemakaman George adalah bentuk denial atau penolakan. Mereka menolak menerima bahwa korban kecelakaan yang meninggal itu adalah George, dan untuk itu mereka menolak bersedih.
Hal yang terjadi selanjutnya adalah anger atau marah. Satu per satu dari mereka mulai sadar bahwa George tidak lagi ada bersama mereka, dan untuk itu mereka merasa marah atau kecewa. Selanjutnya aka nada proses bargaining, proses negoisasi dengan melakukan pengandaian.
Apakah prosesnya berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak.
Hal yang terjadi selanjutnya adalah depresi. Orang mulai meratapi keadaan paska kehilangan. Perasaan kosong dan juga kesedihan mendalam yang seolah-olah mengubah seluruh hidup mereka. Banyak yang mengatakan fase ini adalah fase paling krusial yang akan menentukan kesembuhan.
Apakah luka itu akan segera dapat sembuh atau justru semakin berlarut-larut, yang menyebabkannya kembali pada fase sebelumnya, kembali marah dan melakukan penolakan atas keadaan.
Banyak orang menjadi gila disebabkan oleh ketidakmampuannya mengatasi depresi. Untuk itu mereka kembali merasakan amarah dan melakukan penolakan, hingga menipu dirinya sendiri dengan ilusi yang dibuat oleh pikiran untuk menenangkannya. Akibatnya, mereka tidak lagi bisa membedakan antara realitas dan ilusi yang dibuatnya.
Sebaliknya, mereka yang bisa mengatasi fase depresi akan perlahan bisa menerima keadaan. Fase itu disebut dengan fase acceptance. Fase ketika orang dapat mengendalikan kesedihannya, mengatasi depresi dengan baik, dan perlahan sembuh.
Luka akibat kehilangan itu akan perlahan menutup dengan baik, dan tak akan menyebabkan rasa ngilu di kemudian hari. Pada tahap itulah mungkin luka dikatakan telah sembuh.
Kemarin, di perjalanan melintasi Marvell City Mall, sebelum kumandang adzan ashar, terdengar suara qiroah dari seorang wanita diputar pada speaker masjid di seberang jalan. Suara itu mirip sekali dengan suara almarhumah ibu saya ketika diminta mengaji dalam acara-acara pernikahan.
Empat tahun setelah kepergiannya, luka itu ternyata masih ada. Saya menyadari ketika tiba-tiba dada saya terasa sakit yang membuat saya menangis sepanjang jalan.
Jika kalian percaya dengan perkataan tentang waktu menyembuhkan segalanya, maka mungkin perlu kita pertanyakan kembali mengenai kontribusi waktu dalam proses penyembuhan. Hal yang saya pelajari selama ini adalah bahwa menyembuhkan luka bukan saja perkara waktu, tapi bagaimana mengobati luka dan kondisi psikis masing-masing yang menderita.
Kita tidak tahu di tahap mana pak Ridwan Kamil sekeluarga sedang berada, tapi ada baiknya menunda permintaan foto, wawancara terkait bagaimana kronologi tenggelamnya Eril, atau pertanyaan-pernyataan lain yang justru menjadi garam pada luka yang masih menganga.
Biarkan mereka satu keluarga berduka. Beri ruang privat untuk mereka bisa menangis atau mengenang. Setidaknya, itulah hal paling bijak yang bisa dilakukan.








