Saat berada di tempat pustaka (perpustakaan) kampus, penulis menjadi nyaman. Tidak sekadar nyaman, tetapi serasa ada semangat yang beda kala ingin membaca, menulis, hingga menuntaskan pekerjaan.
Mungkin, sebagian orang menganggap ke perpustakaan itu tidak penting. Apalagi, bila alasan yang dikemukakan buku digital sudah banyak. Bisa diunduh, lalu dibaca kapan dan di mana saja.
Jika itu alasannya, ditambah pula karena “sibuk”, maka civitas akademika kampus mana pun mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa, tidak akan pernah menengok perpustakaan kampusnya sendiri.
Bagi penulis, itu hak panjenengan. Tugas penulis sekadar menggambarkan secuil realita. Toh bila itu benar, iya alhamdulillah. Namun jika tidak, mohon maaf. “Gitu saja kok repot”, kama qala Gus Dur.
Perlu penulis jelaskan, kala penulis melihat buku-buku yang berderet tertata rapi di rak perpustakaan, semangat membaca, menulis, hingga berdiskusi itu muncul.
Dalam benak penulis, kala sudah duduk di meja perpustakaan, mengambil buku yang diinginkan, lalu dibaca, terbayang pula begitu banyak deretan buka yang ngawe-ngawe ingin dibaca.
Serasa tersadar, tersindir secara tidak langsung, bila ratusan koleksi buku perpustakaan yang ada sudah berapa buku yang khatam?
Bila bayangan itu muncul dalam benak dan kemudian membaca dilaksanakan, alangkah pintar dan cerdasnya kita.
Hanya saja, itu bila kemudian kita memberi ruang pekerjaan diri, buku ini, kemudian ini, lalu ini, dibaca besuk saat datang ke perpustakaan lagi dan lagi.
Dengan demikian, secara bergantian, jejeran buku yang ada di perpustakaan habis dikonsumsi satu persatu.
Begitu pula dengan menulis. Betapa banyak sumber yang bisa didapat dari satu buku yang dikutip, beralih kepada buku berikutnya, dan seterusnya. Hingga kemudian tertumpuk banyak buku di samping laptop.
Alhasil, dalam waktu singkat, akan lahir ketuntasan menulis. Mulai dari tugas makalah, skripsi, tesis, disertasi, jurnal, artikel, puisi, cerpen, berita, dan aneka macam lainnya.
Adapula kala berdiskusi di perpustakaan. Profil intelektual kita kentara banget lho.
Sebagai contoh, sekadar berdiskusi di perpustakaan, lalu coba ambil foto entah selfie atau diambilkan secara berjemaah. Kemudian dibuat update status, maka kalimat-kalimat yang muncul mulai dari “keren”, “mantap” dan lainnya akan membanjiri feedback komentar. Itu karena, magnet perpustakaan luar biasa.
Beda cerita bilamana kita belajar di rumah yang kadang lingkungan di dalamnya belum atau tidak mendukung.
Mari kita cek, kebiasaan belajar keluarga yang jarang dilakukan. Pustaka keluarga yang tidak dimiliki. Serta “gadget” yang lengket karena tidak bisa membatasi diri dan anggota keluarga kala menggunakan. Itu dan sekali lagi itu problemnya
Karenanya, sekadar “membaca”, bila di rumah masih terlihat “iklim” yang penulis sebutakan di atas, tentu akan sulit diwujudkan.
Belum ditambah menulis, bila situasi pendukungnya masih sebagimana penulis jelaskan, tentu juga tidak akan kunjung terlaksana.
Dengan demikian, perpustakaan itu menyimpan magnet besar untuk motivasi membaca dan menulis kita. Oleh karena itu, bila kemudian rumah kita ingin punya magnet yang sama, atau salah satu saja sebagai contoh membaca, tentu iklim membaca harus dibiasakan anggota keluarga.
Sebagai contoh, mari sempatkan waktu sejenak untuk membaca setiap hari. Iya, setiap hari mulai dari 10-15 menit setiap hari, kata Antoni Ludfi Arifin dalam bukunya “Be a Reader: Mendulang Aksara, Meraih Makna” (2013: 21).
Nasehat mas Anton, berdasar alasan kuat mengapa hal itu perlu dilakukan. Salah satunya, karena mencintai dan membiasakan baca buku harus dimulai sejak dini kepada anak-anak.
Hal lainnya, ungkap Anton, mencintai dan membiasakan membaca buku harus dicontohkan orang tua supaya prilakunya ditiru oleh anak dan anggota keluarganya.
Lalu bagaimana dengan orang tua yang sibuk? Antoni juga tidak lupa memberi nasehat, bila kebiasaan membaca bisa dilakukan malam hari menjelengan tidur dan pada waktu akhir pekan.
Jika itu benar-benar dilakukan, buku akan menjadi teman keseharian. Hingga akhirnya, rumah kita pun menjadi magnet membaca dan menulis sebagaimana keberadaan perpustakaan kampus, sekolah, dan aneka perpustakaan lainnya.
Monggo bapak dan ibu, dari panjenengan semua, perilaku membaca, atau menulis jadi magnet kebiasaan generasi emas masa depan.
* Penulis adalah Dosen Prodi PAI UNUGIRI.








