Luka atau borok bukan hanya sekadar rasa sakit. Lebih dari itu, ia adalah kurikulum pendidikan.
Maraswati atau yang akrab disapa Mara, duduk termenung dekat jendela menyaksikan hujan Bulan Mei di kampung halaman.
Ketika Mara menengadahkan tangannya, dan menundukkan kepala, terlihat bekas luka di telapak tangan sebelah kanan. Seketika pikiran Mara berkelana ke masa lalu.
Sebuah memorabilia dari bumi cendrawasih. Bekas luka Mara, bukan hanya sekadar luka, terkandung memorabilia plus ibrah di dalamnya.
Luka tersebut bercerita pada Mara, luka itu terjadi ketika Mara berada di tanah rantau. Dia sedang melakukan advokasi di bumi cendrawasih.
Mara berusaha membantu sebuah masyarakat adat yang terampas haknya. Dimana tanah yang dimiliki oleh masyarakat adat tersebut akan digusur atas nama pembangunan oleh perusahaan raksasa internasional.
Perusahaan tersebut juga melibatkan beberapa penduduk sekitar untuk bekerja, wabilkhusus menjadi centeng. Mereka senantiasa pasang muka garang kepada siapapun.
Di suatu malam, bertepatan dengan gerhana bulan. Mara memberanikan diri menemui seorang warga. Melintasi beberapa hutan yang ada di bumi cendrawasih.
Seorang yang akan ditemui Mara mengaku sebagai saksi kunci yang tahu banyak ihwal tanah sengketa.
Dengan antusias yang tinggi plus keberanian, Mara seorang diri dengan motor trailnya melipat jarak yang sunyi di bawah rembulan.
Gerhana bulan, pepohonan, dan jalan yang kurang bersahabat menjadi saksi bisu perputaran roda motor yang dikendarai Mara.
Sesekali hewan-hewan liar memampakan diri. Salah satu di antaranya babi hutan.
Di tengah jalan, tiba-tiba ada beberapa sepeda motor yang lampunya nyala. Anehnya, tidak ada seorangpun di tempat tersebut selain Mara.
Tiba-tiba, dari arah belakang terdapat busur panah yang melaju dengan kencang. Busur panah mendarat di ban belakang sepeda motor Mara.
Mara mencoba tetap santai dan tenang. Ketenangannya seketika buyar ketika ada busur panah yang mendarat di ban depan.
Tanpa berpikir panjang, Mara langsung turun dari sepeda motor dan menghempaskan motor ke tanah yang becek plus berlumpur.
Dengan sekuat tenaga, Mara berlari menuju hutan. Lagi dan lagi, ada busur panah yang melaju dengan kencang.
Busur panah itu mengenai telapak tangan Mara. Sembari menahan rasa sakit, Mara terus berupaya menyelamatkan diri dengan berlari.
Di tengah hutan, Mara melihat gubuk yang hampir roboh. Dia langsung menuju ke gubuk. Ketika Mara berlindung di gubuk, Mara kaget karena ada seorang pria yang tergeletak dan di sekitarnya ada botol minuman dan tulang ayam yang tidak sedikit.
Tanpa berpikir panjang, Mara membangunkan seorang pria yang tergeletak di gubuk yang hampir roboh itu.
“Tolong…., tolong…, tolong”, ucap Mara.
Pria tersebut terbangun dengan kaget dan berkata, “Apa yang bisa beta bantu, kaka?”
“Izinkan beta berlindung di gubuk ini.”
“Siap, kaka.”
Malam semakin larut, kemudian setelah Mara beranggapan situasi dan kondisi aman, mereka memutuskan untuk keluar dari gubuk.
Mara bertanya pada seorang pria itu. Namanya, Pasifikus Ortisan Lake, biasa dipanggil Ortis. Dia mengungkapkan sebab tergeletak di gubuk, karena dia sedang mabuk bersama kawan-kawannya di sore hari.
Karena Ortis mabuk berat, dia baru terbangun dari mimpi ketika malam menyapa.
Ketika melihat telapak tangan Mara yang mengucurkan darah, kemudian Ortis meminta izin kepada Mara dan memberi pertolongan pertama ke Mara. Dengan memberi obat berupa dedaunan dan menjahit telapak tangan Mara yang sobek dengan peralatan seadanya.
Kebetulan di kantong celana Ortis ada jarum dan benang. Dengan penuh kehati-hatian, Ortis mengobati plus menjahit telapak tangan Mara yang sobek karena terkena busur panah.
Setelah itu, mereka pulang dengan jalan kaki. Kebetulan rumah Ortis dan tempat tinggal Mara satu arah. Dan Mara meminta tolong kepada Ortis untuk membantu membenarkan motor trail Mara keesokan harinya. Dengan senang hati, Ortis bersedia membantu.
Teror beberapa kali menghampiri Mara. Namun teror tidak membuat nyali Mara ciut, tetapi mempertebal keberanian dalam jiwa Mara.
Hujan reda, dan luka berhenti bercerita. Kemudian Mara melanjutkan aktivitasnya. Sembari menikmati secangkir kopi, dia membantu ibunya menyapu lantai rumah. Dan membayar kerinduan bersama keluarga di kampung halaman.








