Bumi Njipangan (Blora, Bojonegoro, Tuban Selatan) punya peran besar dalam membentuk skema geopolitik Nusantara. Bumi Njipangan tercatat sebagai Denyut Nadi Pulau Jawa.
Meski tak terakomodir sejarah versi kolonial, Bumi Njipangan adalah wilayah istimewa di Pulau Jawa. Ia kerap disebut sebagai Nadi Pulau Jawa. Dalam Manuskrip Padangan (1820), sebuah naskah non-keraton, menyebut secara tegas kawasan ini dengan nama Biladi Jipang (Nagari Jipang). Istilah ini bukan berarti negara, tapi “kewilayahan”.
Istilah Nagari Jipang yang dicatat empiris pada abad 19 M itu, sesungguhnya adalah petunjuk bagi jejak besar yang tertoreh ratusan tahun sebelumnya. Ya, Nagari Jipang atau kelak lebih dikenal sebagai Bumi Njipangan ini, punya sejarah panjang sebagai inkubator peradaban manusia.
Bumi Njipangan dikenal sebagai tempat di mana akal budi dan sumber alam bisa menemui titik harmoni. Kebesaran Lembah Kendeng dan Lintasan Bengawan ini, dicatat empiris sejak abad 10 M. Tepatnya pada zaman Pemerintahan Raja Baletung (898 – 910 M), penguasa Kerajaan Medang.
Pada masa Maharaja Dyah Baletung (898 – 910 M), sang penguasa Kerajaan Medang, kawasan ini punya makna mendalam dan sangat ia hormati. Sesuai Prasasti Telang (903 M) dan Prasasti Sangsang (907 M), Raja Baletung bahkan menyebut kawasan “Bale Lantung” ini dengan istilah tanah persemayaman Para Raja, Bumi Sotasrungga.
Maka bukan kebetulan jika kelak, di masa-masa berikutnya, pada zaman-zaman yang datang lebih belakangan, kawasan ini tetap istimewa sebagai tanah Para Begawan; baik itu Wiku (Jawa Kuno), Rsi Brahmana (Hindu-Budha), ataupun Para Wali (Islam).
Pasca era Raja Baletung usai, kawasan ini juga sangat diperhatikan Raja Airlangga (990-1049M). Maharaja Kerajaan Medang Kahuripan itu, membangun terusan air yang kelak dikenal dengan Bengawan Sore. Terusan Bengawan Sore ini diperkirakan dibangun Raja Airlangga pada 1037 M, bebarengan pembangunan Terusan Kamalagyan.
Bumi Njipangan merupakan vasal yang selalu ada di tiap era Kemaharajaan. Ia adalah bumi perdamaian. Tanah yang punya peran besar membantu Raja Ken Arok dalam menyatukan Jenggala dan Panjalu, untuk kemudian mendirikan Kerajaan Singasari (1222 M). Ini alasan Raja Wisnuwardhana menaruh hormat pada Tlatah Njipangan. Sebab, berkat keberadaannya, Raja Ken Arok (yang notabene pendahulunya), bisa mendirikan Kerajaan Singasari.
Pada abad 13 M, Raja Wisnuwardhana menasbihkan kawasan ini sebagai titik Bhinnasrantaloka — bumi simbol harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Informasi itu sahih dan empiris sesuai data terdapat dalam Prasasti Maribong (1248/1264 M).
Raja Wishnuwardana yang merupakan Raja Singasari ke-3 menyebut, wilayah Maribong (bagian dari Tlatah Njipangan) punya jasa besar bagi leluhur Kerajaan Singashari. Bahkan, Raja Wishnuwardana seperti bersabda: Singashari dan keturunannya berhutang budi pada keberadaan tempat itu.
Maka sebuah kewajaran ketika Kerajaan Majapahit berkuasa, Raja Hayam Wuruk begitu mengistimewakan posisi Nagari Jipang. Tercatat empiris, semua negeri vasal Majapahit dipimpin oleh Bhattara (Bhre), kecuali Nagari Jipang. Sebab, Nagari Jipang vasal istimewa yang hanya bisa dipimpin Brahmana, bukan Bhattara.
Untuk diketahui, Bhattara adalah representasi pejabat Majapahit. Sementara Brahmana adalah representasi kaum Agamawan. Baik itu agamawan Hindu, agamawan Budha, ataupun agamawan Islam. Sejarah mencatat, Nagari Jipang tak pernah dipimpin oleh kaum Bhattara (pejabat). Tapi dipimpin kaum Brahmana. Baik itu Brahmana Hindu, Brahmana Budha, ataupun Brahmana Islam.
Bahkan saat Raja Hayam Wuruk membangun Pelabuhan Sungai (Naditirapradeca) di sepanjang Bengawan, jumlah pelabuhan yang ada di Nagari Jipang lebih banyak dibanding negeri vasal lainnya. Ini empiris sesuai informasi pada Prasasti Naditira (1358 M). Ada 15 Naditirapradeca yang terdapat di Nagari Jipang, membentang dari sungai Bauerno hingga Margomulyo.
Raja Hayam Wuruk tampaknya benar-benar memegang “sabda” Raja Wishnuwardana. Bahwa Nagari Jipang wilayah istimewa yang punya jasa bagi leluhur Singasari dan Majapahit. Wajib diketahui, Hayam Wuruk adalah cicit Wishnuwardana. Urutannya: Raja Wisnuwardhana berputra Raja Kertanegara, berputri Gayatri (istri Raden Wijaya), berputri Tribuwana Tunggadewi, berputra Hayam Wuruk.
Harmoni Tauladan Jawa dan Sufisme Persia
Pada era kekuasaan Majapahit, tepatnya pada periode 1334 – 1364 M, Syekh Jimatdil Kubro datang ke Nagari Jipang sebagai Brahmana Islam. Ia menancapkan tongkat “Baldhatun Thoyibah” di puncak Gunung Jali Tebon. Dari sanalah, menurut catatan Gus Dur, ajaran islam didistribusikan secara damai tanpa gesekan konflik dan perang.
Pada zaman Majapahit inilah, ajaran Islam sudah besar di Nagari Jipang. Ini terbukti empiris dengan adanya pusat islam bernama Mesigit Gunung Jali. History of Java (1817) menulis, Sunan Ampel muda bahkan sowan ke Gunung Jali Tebon, sebelum mendirikan Majelis Wali Songo. Artinya, sebelum Wali Songo dan Kesultanan Demak berdiri, Nagari Jipang sudah jadi peradaban islam.
Nagari Jipang punya peran besar dalam membentuk skema geopolitik Nusantara. Keberadaannya selalu jadi poin penting di tiap zaman. Ia dihormati sejak zaman Raja Baletung (Medang), Raja Airlangga (Medang Kahuripan), Raja Wisnuwardhana (Singasari), hingga Raja Hayam Wuruk (Majapahit).
Saat ajaran islam datang di Pulau Jawa, tepatnya pada abad 14 M, kawasan ini juga jadi pusat islam di bawah naungan Zawiyah Gunung Jali, pusat ajaran Islam yang didirikan Syekh Jumadil Kubro. Di tempat ini, Sufisme Persia dan Tauladan Jawa bisa hidup berdampingan.
Nagari Jipang merupakan cikal bakal wilayah Blora, Bojonegoro, dan Tuban Selatan. Bumi Njipangan terbukti empiris sebagai wilayah yang memiliki peran besar di tiap peradaban.








