Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Trembes Malo, Jejak Para Citralekha

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
26/06/2025
in Sainsklopedia
Trembes Malo, Jejak Para Citralekha

Situs Lami, Bukit Trembes Malo (Jurnaba.co)

Desa Trembes Malo merupakan satu di antara mata rantai Peradaban Telang, Kerajaan Medang. Kondisi geografisnya menunjukan jejak kuno Lemah Citra: ruang Para Citralekha. 

Secara geografis, Desa Trembes merupakan kawasan maritim sungai. Kehidupan masyarakat berdampingan  sungai Bengawan. Namun, atmosfer kesejukannya, jelas menggambarkan unsur terrestrial pegunungan. Di tempat ini, masih banyak dijumpai pepohonan dan perbukitan.

Memasuki Desa Trembes, serupa mengunjungi diorama statis yang menjelaskan tentang pentingnya menjaga nilai-nilai ekologis. Di tempat ini, alam dan manusia akrab bersahabat. Pohon dan perbukitan gagah berdiri, membersamai manusia mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Perbukitan kapur kuno yang membentang, dengan struktur batuan karst yang tertumpuk alami di tiap puncaknya, dilengkapi titik sumber mata air dan pepohonan yang tak hanya menyejukan pandangan, tapi juga membuka bermacam informasi dari masa silam.

Selain pohon dan perbukitan nan asri, dari Trembes membentang ke arah timur; Semlaran, Tanggir, hingga Kanten (hutan Sotasrungga), faktanya masih terdapat titik sumber “mata air asin” yang merembes dari atas perbukitannya. Sebuah ornamen yang mengingatkan pada Peradaban Medang.

Muasal Nama Trembes 

Nama Trembes tidak lahir dari toponim pohon trembesi. Sebab, nama Trembes sudah ada, jauh sebelum Belanda membawa pohon trembesi ke Indonesia. Untuk diketahui, Belanda membawa pohon trembesi ke Indonesia pada abad ke-19 M, tepatnya pada 1897 M. Sementara nama Trembes sudah ada jauh sebelumnya.

Pohon trembesi identik Jawatan Kehutanan Belanda. Pohon ini ditanam sebagai penanda wilayah Jawatan Kehutanan. Sementara Trembes sebagai nama desa, tercatat di peta kolonial pada dekade 1860 M. Ini menunjukan, sebelum pohon trembesi diperkenalkan Belanda ke Indonesia, nama Trembes sudah lebih dulu ada.

Peta jejak Peradaban Telang (Raffles, 1817) dan Peta Desa Trembes (Leiden, 1866).

Nama Trembes, justru berhubungan erat dengan hikayat tentang bukit yang mengeluarkan trembesan lantung. Cairan lantung yang “merembes” dari perbukitan, membuatnya kelak dikenal dengan Trembes. Hikayat ini, punya korelasi secara empiris dengan kawasan Bale Lantung yang membentang dari Kedewan hingga Trucuk.

Fakta ilmiahnya, masih dijumpai titik-titik trembesan lantung itu, dalam bentuk sumur-sumur tua yang pernah dikelola perusahaan kolonial. Ini sedikit dari bukti empiris, bahwa kosmologi ekologis yang ada di kawasan Trembes Malo benar-benar terjaga.

Secara literatur, rembesan lantung (lengo) dan mata air asin (garam), punya korelasi kuat pada sejumlah komoditas Peradaban Telang pada periode 900 M. Prasasti Telang dan Prasasti Sangsang menyebutnya sebagai komoditas Telang, di bawah masa kepemimpinan Raja Dyah Baletung (898-910 M).

Istilah Trembes memang lahir dari sedimentasi ekologis. Namun bukan toponimi pohon trembesi. Istilah Trembes lahir dari toponimi minyak bumi. Nama Trembes muncul sebagai bukti keakraban kosmologis antara manusia dengan alam, sebagai “oikos” di mana mereka berkehidupan.

Pande Besi Trembes

Meski tak pernah diperbincangkan dalam diskursus kebudayaan, satu hal paling identik dari Desa Trembes adalah keberadaan para pande besi yang selalu ada hampir di tiap zaman, dengan berbagai wujudnya. Keberadaan Pande besi Trembes masyhur sejak lama. Bahkan, punya akar sejarah yang amat kuat sejak periode 900 M.

Pande besi di Jawa pada periode 1880 – 1910, (sumber: spaarnestadphoto.nl, Nederland).

Secara geo-historis, Trembes berada tepat di dalam pelukan sungai Bengawan dan baris Pegunungan Kendeng. Dalam konteks Periode Medang, Trembes bagian penting dari Peradaban Telang, yang sejak periode 900 M sudah dipenuhi geliat manusia berperadaban.

Lokasi Trembes (Telang) tak jauh dari  Sotasrungga, Pagerwesi, dan Sima Pungpunana — peradaban kuno yang disebut dalam Prasasti Telang dan Sangsang. Tempat-tempat ini tak bisa dipisah dari gelegar Sotasrungga, bumi keramat yang dimuliakan Raja Dyah Baletung (898 -910 M), sebagai persemayaman Para Raja.

Prasasti Sangsang (907 M), menceritakan, pada masa Kerajaan Medang, wilayah Trembes (Telang) ini sudah dipenuhi para pengrajin metalurgi — pusat produksi besi, emas, tembaga (pande) — dan jadi pusat transaksi minyak bumi, olahan batu kapur, peternak kambing, serta para pedagang di atas perahu.

Artinya, 400 tahun sebelum Majapahit lahir di dunia, kawasan Trembes (Telang) sudah jadi pusat peradaban manusia. Maka bukan kebetulan jika sampai hari ini pun, Desa Trembes Malo masyhur sebagai pusat pande besi. Di tempat ini, tradisi Pande sudah ada secara turun temurun sejak periode 900 M, atau seribu tahun yang lalu.

Para Citralekha 

Di Desa Trembes, terdapat sejumlah bukit di tengah kawasan hutan, yang di tiap puncaknya, ditemui struktur batuan alami yang menjulang menghadap langit. Di dekatnya dilintasi sungai kecil, dan sejumlah titik mata air. Masyarakat setempat menyebut struktur batuan alami semacam ini dengan istilah Pertapan Kalang.

Dalam konteks literatur, Kalang memiliki korelasi ilmiah dengan Kalangwan — karya sastra Jawa Kuno. Sementara ornamen alam berupa bukit bebatuan, mata air, serta lintasan sungai kecil, adalah komponen utama keberadaan para penulis kuno yang dikenal dengan istilah Citralekha.

Menjaga yang Tersisa: Pohon Jati di puncak Bukit Lami, Desa Trembes (Jurnaba.co)

Pada zaman Kerajaan Medang, Citralekha adalah entitas intelektual yang bertugas mencatat keputusan raja. Selain sebagai penjaga norma, Citralekha juga berperan sebagai saksi penetapan wilayah sima. Citralekha memiliki sejumlah gelar, di antaranya; Dapunta, Rakai, Dyah, Punta, Pu, Sang, dan Si. Gelar-gelar itu menunjukan asal serta jenis golongan Citralekha.

Gelar Dapunta, Rakai, dan Dyah, menunjukan Citralekha berasal dari keluarga kerajaan. Gelar Punta dan Pu, menunjukan Citralekha dari golongan rohaniawan (Samgat atau Pamgat). Gelar Sang digunakan Citralekha yang menjadi asisten rohaniawan. Sementara gelar Si menunjukan Citralekha dari golongan masyarakat biasa.

Pada Zaman Medang, Citralekha menjadi entitas penting yang bertugas mencatat dan menulis laju peradaban, memproduksi prasasti, serta menjaga norma-norma adat kebudayaan. Pada zaman berikutnya, Citralekha dikenal dengan istilah rakawi, pujangga, mushonif, atau: jurnalis. 

Jejak Literatur 

Dalam kaitan para Citralekha di kawasan Trembes (Telang), tentu harus berpijak pada lempeng peradaban Telang (903 M) dan Sangsang (907 M). Di mana, dalam kedua prasasti itu, disebutkan nama-nama Begawan yang hidup saat itu — para Begawan yang dihormati Raja Dyah Baletung (898 -910 M).

Dalam konteks Telang dan Sangsang, kawasan Trembes (Telang) berhubungan erat dengan sejumlah nama para Begawan penting seperti Pu Kutak, Pu Dhapit, Pu Yayak, hingga Pu Layang, yang merupakan samgat (rohaniawan) Kalangvungkal dan pemimpin kawasan Sima Pungpunana.

Pada periode 900 M, khususnya pada masa pemerintahan Raja Dyah Baletung (898 -910 M), penguasa Kerajaan Medang, kawasan Trembes (Telang) juga sudah dipenuhi sejumlah struktur sosial penting seperti gusti, kalang, kalima, vinkas, dan variga yang merupakan status sosial berperadaban tinggi.

Diorama Desa Trembes 

Desa Trembes, Kecamatan Malo, Bojonegoro, memang tidak sepopuler desa-desa wisata lain yang ada di Bojonegoro. Namun, nilai dan norma kosmologis yang masih terjaga dengan baik, serta jejak akar sejarah beserta peradaban kunonya, tentu punya tempat khusus bagi para pembelajar.

Struktur Pertapan Kalang yang berada di tiap puncak bukitnya, menjadi pertanda keberadaan Lemah Citra — ruang kerja Para Citralekha yang merupakan para penulis dan kaum intelektual periode 900 M, di bawah masa pemerintahan Raja Dyah Baletung (898 -910 M).

Desa Trembes, Kecamatan Malo, Bojonegoro, merupakan satu di antara mata rantai kawasan Peradaban Telang, Kerajaan Medang. Nilai-nilai kosmologis yang terjaga, serta kondisi geografisnya mengingatkan kita pada keberadaan kaum intelektual kuno yang dikenal dengan para Citralekha.

 

Tags: Citralekha BojonegoroKERISKELOKALemah CitraMakin Tahu IndonesiaPrasasti SangsangPrasasti TelangTrembes Malo
Previous Post

Lembaga Sains IPM: Simbol Kedigdayaan Iran

Next Post

Tim Pengabdian Masyarakat Unugiri Gelar Pelatihan Active Learning Berbasis Gamifikasi di MA Islamiyah Malo

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Medang Kamulan: Cikal Bakal Njipangan
Sainsklopedia

‎Medang Kamulan: Cikal Bakal Njipangan

10/08/2025
‎Desa Pungpungan, Peradaban Medang yang Terlupakan
Sainsklopedia

‎Desa Pungpungan, Peradaban Medang yang Terlupakan

05/08/2025
‎Sumbu Kosmologis Bojonegoro
Sainsklopedia

‎Sumbu Kosmologis Bojonegoro

30/07/2025

Anyar Nabs

Hukum atau Senjata?

Hukum atau Senjata?

02/05/2026
May Day 2026: Aliansi Buruh Bojonegoro Desak Negara Hadir Lindungi para Pekerja

May Day 2026: Aliansi Buruh Bojonegoro Desak Negara Hadir Lindungi para Pekerja

01/05/2026
Perubahan Iklim dan Kita Terlambat Lagi

Perubahan Iklim dan Kita Terlambat Lagi

30/04/2026
7 Experience di Game Roblox yang Populer dan Seru Untuk Dimainkan

7 Experience di Game Roblox yang Populer dan Seru Untuk Dimainkan

29/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: