Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kearifan Lokal: Kisah dari Pohagung dan Dekonstruksi Pendidikan

Yogi Abdul Gofur by Yogi Abdul Gofur
15/10/2021
in Headline
Kearifan Lokal: Kisah dari Pohagung dan Dekonstruksi Pendidikan

Kearifan lokal bukan hanya sekadar benda aneh nan unik plus ikonik. Lebih dari itu, kearifan lokal merupakan senjata untuk mendekonstruksi konsep pendidikan mainstream.

Banyak kalangan yang sering menyebut kearifan lokal. Mulai dari politisi, akademisi, santri, aparat, dan lain sebagainya. Dua jempol, bagi mereka yang faham ihwal kearifan lokal. Dua jempol juga, bagi beberapa orang yang menyebut kearifan lokal hanya sebatas untuk kepentingan golongan. Namun, dua jempolnya terbalik, ya…

Merujuk pada sebuah artikel di Kelas Pintar, Sibarani mendefinisikan kearfian lokal sebagai bentuk pengetahuan asli dalam masyarakat yang berasal dari nilai luhur budaya masyarakat setempat untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat.

Misalnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), apabila ada orang yang mencuri kambing untuk pertama kali, maka tidak langsung dihukum. Melainkan diberi modal berupa kambing. Hal tersebut tidak terlalu selaras dengan landasan konstitusional UUD 1945, wqwqwq. Bahkan melenceng jauh. Dan mungkin bagi orang-orang fundamental plus normatif sempit, dianggap suatu kegilaan.

Namun ya…, itulah kearifan lokal masyarakat NTT, wabilkhusus di Suku Boti, Nabs. Toh hukum yang ada di Indonesia, juga masih tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Aparat keamanan yang ditugaskan untuk menjaga ketertiban plus keamanan negara, kok masih suka bermain-main di ranah sipil, menjadi penguasa bayangan, misalnya.

Selain itu, Nabs, juga menjelma sebagai petarung, “Smack Down” yang mengerikan. Terlihat dalam aksi demonstrasi mahasiswa di Tangerang beberapa hari yang lalu, habis banting terbitlah kejang, amukan og.

Selain itu juga, mencuatnya #PercumaLaporPolisi. Hal tersebut seyogianya menjadi muhasabah bersama. Wabilkhusus di tubuh POLRI. Mereka juga merupakan produk dari pendidikan nasional bukan? Kira-kira? Apakah yang kurang sesuai dengan sistem pendidikan nasional ala Herman William Deandles, eh Ki Hadjar Dewantara?

Mungkin tidak berlandaskan kearifan lokal, ya…, ini hanya sekadar argumentasi pegiat warung kopi, xixixi. Ada orang di suatu daerah, bisa memahat patung dengan indah, tanpa kuliah. Ada beberapa penulis, pemikir, dan budayawan panutan, namun tidak lulus kuliah. Bahkan ada, seorang yang tidak mengenyam pendidikan formal, namun menjadi sultan.

Salah satu di antara beberapa bukti bahwasanya pendidikan yang hanya berorientasi pasar, akan melahirkan orang-orang bermental pasar, “akeh tunggale”. Namun, usaha ngangsu kaweruh (belajar) yang berlandaskan ilahiah dan hal-hal yang tidak berwujud, salah satunya kearifan lokal atau local wisdom, akan melahirkan manusia yang gondrong berkarakter.

Mungkinkah pendidikan berbasis kearifan lokal diterapkan di Bojonegoro? Mungkin. Salah satunya bersumber dari kearifan lokal desa yang ada di kabupaten yang konon sebagai lumbung pangan dan energi ini, dimana lagi kalau bukan di Bojonegoro.

Dukuh Pohagung misalnya. Secara harfiah/kata, berasal dari kata kepoh dan agung. Kepoh merupakan salah satu jenis pepohonan yang rindang dan agung merupakan wujud aliran air yang terdapat di antara pohon-pohon kepoh.

Orang-orang Pemerintah Desa seyogianya mengetahui plus mendalami makna tersebut. Hal itu merupakan konsep ekologi, bahwa Pohagung yang merupakan bagian dari Desa Campurejo seyogianya menjadi ruang hijau. Bukan surga perumahan, yang amat sangat jauh dari makna Pohagung itu sendiri.

Juga menjadi muhasabah bersama, seyogianya lembaga pendidikan formal maupun non formal juga memberi tahu dan memahamkan kepada peserta didik agar tahu plus mendalami ihwal Pohagung.

Kearifan lokal, bersumber dari sebuah nama. Nama Pohagung, nama yang ekologis. Pembangunan yang terjadi di Pohagung juga harus mengindahkan kearifan lokal, yang didalamnya terkandung hablu minal alam. 

Terlepas dari uraian di atas. Tanah Pohagung berbanding lurus dengan pembabatnya. Seorang yang memiliki kekuatan secara jasmani dan rohani, juga kecerdasan dalam berpikir. Maka dari itu, kesenian dan kebudayaan, seperti pencak silat, bantengan, oklik, ngaji, dan hal-hal baik lainnya, masih lestari walau zaman silih berganti.

Dan apabila terdapat hal-hal yang kurang sesuai di Pohagung, itu merupakan keniscayaan. Dalam kehidupan, ada hitam dan putih, bukan zebra lho ya, apalagi zebra cross, wqwqwq.. Hal tersebut yang membuat kehidupan ada warnanya. Kalau ingin hidup damai, aman, senang, dan sentosa, sila pergi ke nirwana/surga. Namun, apabila ingin tadabur dan mensyukuri nikmat Tuhan Yang Maha Esa, monggo, pinarak Surga Pojok Kota.

Tags: Kearifan LokalPendidikanPohagung Bojonegoro
Previous Post

Santri Ilahiah dan Akademisi yang Ilmiah

Next Post

Filosofi Teras dan Cuaca Bojonegoro yang Panas

BERITA MENARIK LAINNYA

Hakekat Lomba Agustusan dalam Kehidupan Sehari-hari
Headline

Hakekat Lomba Agustusan dalam Kehidupan Sehari-hari

17/08/2024
Islam Indonesia dan 7 Strata Masyarakat Nusantara
Headline

Islam Indonesia dan 7 Strata Masyarakat Nusantara

12/07/2024
5 Kuliner Bojonegoro Tempo Dulu yang Harus Kamu Tahu
Destinasi

5 Kuliner Bojonegoro Tempo Dulu yang Harus Kamu Tahu

07/05/2024

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: