Bojonegoro punya banyak titik Naditira Pradesa (pelabuhan sungai) Majapahit. Tapi, hanya ada satu titik pelabuhan yang berada di tengah Kota Bojonegoro. Ia bernama Dalangoro.
Pelabuhan Dalangoro terletak di Bengawan Desa Campurejo Kecamatan Bojonegoro. Dari sekitar 17 titik pelabuhan Majapahit yang berada di Tlatah Jipang (Bojonegoro), Dalangoro menjadi satu-satunya pelabuhan yang berlokasi di tengah Kecamatan Kota.
Pada 1358 M, Raja Hayam Wuruk memberi banyak titik pelabuhan di Bojonegoro karena sangat memuliakan Brahmana Jipang. Sikap takdhim Raja Hayam Wuruk pada Bojonegoro itu, karena meniru leluhurnya, yaitu Raja Wisnuwardhana Singashari, yang juga sangat hormat pada Brahmana Jipang.
Tercatat pada 1248 M, Raja Wisnuwardhana Singashari menulis prasasti untuk menghormati Para Brahmana Jipang. Sikap hormat Raja Wisnuwardhana itu, sebagai terimakasih karena Brahmana Jipang telah membantu pendahulunya (maksudnya Raja Ken Arok) dalam menyatukan Jenggala dan Panjalu untuk mendirikan Singashari.
Penghormatan-penghormatan para Raja Nusantara terhadap Brahmana Jipang itu, menjadi tradisi yang kemudian dilanjutkan Raja Hayam Wuruk Majapahit dengan menulis Prasasti Canggu. Sebuah prasasti membahas tentang transportasi air dan pelabuhan sungai Bengawan.
Dalam Prasasti Canggu (1358 M), penguasa terbesar Majapahit, Raja Hayam Wuruk, memberi cukup banyak titik Naditira Pradeca (pelabuhan sungai) di sepanjang Tlatah Jipang. Seperti dicatat J. Noorduyn dalam Further Topographical Notes on the Ferry Charter of 1358, ada sebanyak 18 titik pelabuhan Naditira Pradeca di Tlatah Jipang.

Titik Naditira Pradeca itu menyebar dari Jipang Hilir (Baureno – Rengel Tuban) hingga Jipang Hulu (Margomulyo – Menden Blora). Secara ilmiah, Prasasti Canggu (1358 M) telah memperkuat trademark Jipang (Bojonegoro) sebagai Wangsa Bengawan. Penguasa dan pengendali transportasi sungai Bengawan.
Dalangara menjadi titik pelabuhan yang berada paling dekat pusat Kota Bojonegoro saat ini. Ia juga menjadi satu-satunya lokasi yang tak banyak mengalami perubahan toponim. Hanya saja, statusnya mengalami perubahan drastis. Ia yang semula nama pelabuhan Bengawan, jadi sekadar nama gang jalan.
Bukti Jangkar Raksasa
Pada 2016 lalu, Dewan Kepurbakalaan Bojonegoro mengangkat sebuah jangkar kapal raksasa di lokasi tak jauh dari Pelabuhan Dalangara, Campurejo, Bojonegoro. Jangkar berukuran 110 cm x 92 cm tersebut, dilengkapi rantai raksasa sepanjang 25 meter. Praktis, dibutuhkan 5 orang dewasa untuk bisa mengangkat jangkar tersebut.

Dari data Dewan Kepurbakalaan Bojonegoro, ditemukan bahwa jangkar raksasa ditemukan tak jauh dari titik pelabuhan Dalangara, diindikasi bagian dari kapal dagang VOC yang melintasi sungai Bengawan pada periode 1600 M. Ini berdasar kemiripan jenis rantai dengan Kapal Besi yang juga ditemukan di Desa Ngraho Gayam.
Penemuan jangkar raksasa ini juga jadi bukti penting keberadaan Pelabuhan Dalangara. Bahwa pelabuhan Bengawan yang ditetapkan pada 1358 M itu, masih menjadi pusat pemberhentian kapal (perahu) dagang. Artinya, bahkan 300 tahun setelah era Majapahit, Pelabuhan Dalangara masih beraktivitas. Ini terbukti ditemukannya jangkar raksasa dari periode VOC 1600 M.








