Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Angkringan: Kenangan dan Laju Zaman

Ahmad Fuady by Ahmad Fuady
08/11/2020
in Destinasi
Angkringan: Kenangan dan Laju Zaman

Mereplika suasana angkringan sebagai interaksi publik yang terbuka dan egaliter. Sebab kehangatan, keramahan, keguyuban, dan kebersamaan adalah kunci di balik semaraknya angkringan.

Rindu, pulang, dan angkringan. Tiga hal deskripsi Joko Pinurbo tentang Yogyakarta ini dikenal banyak khalayak. Bahkan diamini. Bagi yang pernah tinggal atau sekadar singgah, Yogya menyimpan rindu.

Tak ada obat lain atas rindu selain bertemu. Pulang bertemu dan mengenang setiap sudut kota adalah obatnya. Pada akhirnya, duduk di bawah tenda sambil menikmati sajian nasi kucing, gorengan, satean, baceman, dan wedangan di angkringan adalah puncak kenikmatan.

Bagiku sendiri, sepertiga dari usiaku saat ini aku habiskan di Yogyakarta. Menjejakkan kaki di Yogya pada awal pergantian milenium, saat awal usia remaja, untuk belajar cukup untuk melahirkan kepingan-kepingan kenangan yang kadang-kadang sering muncul dan layak dikenang. Rindu, seketika itu, muncul.

Ya, tentu. Pulang menjadi obatnya. Meski hanya sekadar dan sekejap. Pulang dapat membasuh rindu. Terlebih buatku, di penghujung akhir dekade ketiga usiaku, Tuhan menakdirkanku berjodoh dengan Wong Jogja. Alasan untuk rindu dan pulang semakin bertambah. Menggebu dan memburu.

“Tadi makan apa saja di angkringan?”, tanya istriku saat aku pulang malam hari ketika di rumah Yogya. Pertanyaan template yang lahir karena kebiasaanku yang ngangkring. “Biasa lah. Dua bungkus nasi kucing sambel teri, tahu bacem, gorengan, kepala ayam, sate usus, dan jahe susu,” jawabku. Jawaban template juga sebenarnya. Karena itu menu favorit.

Angkringan Mas Kelik di pojokan sekolah kami dulu adalah angkringan pertama yang mengenalkanku dengan dunia perangkringan. Alasan utama tentu karena tempat nongkrong dengan teman-teman SMA. Alasan kedua adalah alasan ekonomi. Siklus ke angkringan akan semakin sering mendekati akhir bulan. Nasi bungkus, tempe goreng, tahu bacem, dan es teh. Masing-masing sejumlah satu. Kenyang? Tidak, tentu saja. Tetapi apa daya.

Bagiku suatu tempat layak disebut angkringan jika unsur-unsur ini terpenuhi: gerobak, tungku arang, nasi kucing, sate koyor dan usus, kepala ayam, teh panas, dan wedang jahe bakar. Tentu ini subyektif.

Lebih dari persoalan properti dan menu, beberapa penelitian menjelaska angkringan sebagai sebuah ruang terbuka egaliter tempat interaksi demokratik yang siapa saja dengan tema apa saja bisa terlibat dalam perbincangan. Angkringan menjadi tempat kumpul, nongkrong, dan ngangkring.

Perjalanan waktu tentu banyak penyesuaian terkait angkringan. Hal yang tampak adalah soal menu. Menu nasi kucing kini muncul aneka varian: smabel teri, tempe, jamur, bihun, kudapan pecel, dll.

Tahu bacem sering kali bergandeng dengan tahu bakso. Sate usus, sate telur puyuh, sering dijumpai berdekatan dengan sate bakso dan sate jeroan. Aneka minuman juga lebih bervariasi.

Angkringan kini juga merambah ke banyak daerah dan kota. Tentu akan menghadirkan angkringan dengan kekhasan masing-masing daerah. Di Bojonegoro aku lihat ada beberapa angkringan. Beberapa pernah aku singgahi dan menunya kucicipi.

Tentu jika berharap menu angkringan sama dan rasanya sepadan layaknya angkringan di daerah asal (Klaten, Yogya, Solo) akan sulit. Rasa dan lidah tiap daerah berbeda-beda. Berharap semuanya sama persis dan seragam menu serta rasa amatlah tidaklah bijak. Perlulah kebhinekaan dalam rasa di lidah.

Yang tentu tidak kalah penting adalah mereplika suasana angkringan sebagai interaksi publik yang terbuka dan egaliter. Kehangatan, keramahan, keguyuban, dan kebersamaan adalah kunci di balik semaraknya angkringan.

Mereplika angkringan semodel itu lebih tidak mudah lagi. Perilaku, adat, karakter, dan budaya tiap wilayah tidak sama. Menciptakan angkringan dengan rasa dan budaya khas tiap daerah tentu sebuah mahakarya jempolan.

 

Tags: AngkringanDestinasi
Previous Post

Ngaji Esai dan Membaca Ayat Kauniyah

Next Post

Mengintip Keindahan Pulau Nusakambangan, Alcatraz di Ujung Selatan Jawa

BERITA MENARIK LAINNYA

Gang Sedeng, Sudut Kreatif Kaum Urban Bojonegoro
Destinasi

Gang Sedeng, Sudut Kreatif Kaum Urban Bojonegoro

05/12/2025
Sendang Banyu Urip, Penopang Ekosistem Lapangan Migas
Destinasi

Sendang Banyu Urip, Penopang Ekosistem Lapangan Migas

28/11/2025
TPG Stadium: Lapangan Bola Klusur-Klusur di Balen Bojonegoro
Destinasi

TPG Stadium: Lapangan Bola Klusur-Klusur di Balen Bojonegoro

29/09/2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Pelajaran dari Luka yang Sama

Pelajaran dari Luka yang Sama

15/01/2026
Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

15/01/2026
Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

14/01/2026
Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

14/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: