Bakti Bumi digelar di Puncak Pertapan Pu Yayak, Desa Pagerwesi, Trucuk, Bojonegoro pada Minggu (28/12/2025) cukup meriah. Kegiatan diikuti puluhan warga — mulai dari perangkat desa, kepala desa, hingga tokoh masyarakat ini, bertujuan menumbuhkan kembali relasi yang sehat antara masyarakat dengan alam sekitar.
Kegiatan Bakti Bumi dihelat dengan sejumlah rangkaian acara. Di antaranya; jagong budaya, panjat doa bersama, serta penanaman pohon bersama. Kegiatan yang digelar masyarakat Desa Pagerwesi itu, dimaknai sebagai ikhtiar kolektif menumbuhkan kesadaran ekologis di tengah pembangunan yang cukup masif.
Teguh Eko Cahyo, tokoh warga mengatakan, kegiatan masyarakat seperti ini, menurutnya sangat penting untuk membangun kembali kedekatan manusia dan alam. Sebab, geliat modernisasi dan perubahan pola hidup kerap menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai ekologis yang selama ini menjadi penopang kehidupan desa.
Kegiatan Bakti Bumi, kata Teguh, tidak hanya meningkatkan kesadaran akan pentingnya alam bagi manusia. Lebih dari itu juga memberi pemahaman penting bagaimana sejarah peradaban di wilayah Pagerwesi. Sebab, dalam kegiatan Bakti Bumi ini juga membahas figur Pu Yayak Pagerwesi sebagai sosok penting di masa silam.
“Kegiatan seperti ini akan mengingatkan kita bahwa kesejahteraan desa tidak bisa dilepaskan dari kelestarian lingkungan alam,” ujarnya.
Kepala Desa Pagerwesi, Subagio, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh peserta dan pihak pendukung kegiatan. Ia secara khusus mengucap terima kasih kepada masyarakat yang mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

Subagio menambahkan, kegiatan Bakti Bumi memberi dampak positif bagi masyarakat. Sebab, selain adanya kegiatan tanam pohon bersama, juga ada kegiatan diskusi dan jagong budaya. Yang mana, terdapat materi dan informasi penting mengenai kesejarahan lokal Desa Pagerwesi.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi pemantik kesadaran bersama, bahwa pembangunan desa harus selaras dengan alam. Bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga generasi mendatang,” kata Subagio.
Direktur Bojonegoro Institute (BI), AW Syaiful Huda menjelaskan, kegiatan diskusi Agro-Ekologi bertujuan mengajak warga kembali memperhatikan lingkungan sekitar sebagai basis penghidupan masyarakat desa. Menurutnya, hubungan harmonis antara manusia dan alam merupakan fondasi utama pembangunan desa yang berkelanjutan.
“Melalui diskusi agro-ekologi ini, kami ingin menumbuhkan kembali relasi yang sehat antara masyarakat desa dan alamnya. Jika alam dijaga, maka penghidupan masyarakat juga akan terjaga secara berkelanjutan,” jelasnya.
Kegiatan ditutup dengan penanaman pohon bersama sebagai simbol komitmen kolektif warga Pagerwesi dalam merawat lingkungan dan menjaga keseimbangan alam desa. Penanaman ini diharapkan menjadi langkah kecil namun bermakna dalam upaya membangun desa yang lestari dan berdaya.








