Setiap daun adalah halaman dari buku Tuhan.” ~ Jalaluddin Rumi
Kalimat metafora dari filsuf ternama yang begitu puitis. Pohon adalah bentuk paling sederhana dari gambaran alam semesta. Dedaunan hijau yang kerap menari sebab terpaan angin itu menyimpan petunjuk dari Tuhan.
Kutipan tersebut muncul saat sejumlah aliansi masyarakat Bojonegoro menggelar diskusi. Sebuah diskusi ganyeng ditemani kopi untuk membedah isi buku berjudul “Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis untuk Indonesia”. Pendopo Kopi Stereo menjadi saksi pada Sabtu (6/12/2025) pagi.
Dr. Budhy Munawar Rachman, seorang cendekiawan Islam Hijau menjadi pemateri secara daring melalui Zoom Meeting. Menurutnya, manusia perlu angle spiritual dalam memandang ekologi. Terlebih sebagai umat beragama.
Dalam teologi Islam misalnya, sufisme menjadi sangat relevan dengan konsep kosmologi alam semesta. Konsep inilah yang kemudian disebut dengan istilah ekosufisme belakangan ini.
Menurut dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta tersebut, pelestarian lingkungan termasuk dalam bagian ibadah. Tentunya ibadah bagi setiap umat yang beragama. Setiap agama pasti mengajarkan umatnya untuk menjaga lingkungan. Manusia membutuhkan tanah sebagai tempat ibadah dan air untuk mensucikan diri. Tanah dan air yang digunakan harus bersih dan terjaga kondisinya.
“Pelestarian tanah dan air termasuk bagian dari ibadah umat manusia. Pelestarian lingkungan seharusnya menjadi bagian dari ibadah mahdhah,” jelas Budhy yang juga salah satu penulis buku tersebut.
Acara yang dihelat Bojonegoro Institut (BI) dan didukung Bojonegoro Raya, Jurnaba, dan Pandega Perubahan (PANDAN) memang diikuti berbagai peserta. Keterbatasan waktu menjadi kendala dalam proses bedah buku bersama Dr Budhy.
Namun, sejumlah peserta yang tergabung dalam aliansi masyarakat sipil untuk lingkungan hidup dari Bojonegoro terus melanjitkan diskusi. Kegiatan diskusi ekologi masih terus dilanjutkan secara luring dan tetap khidmat.
Menurut Mohamad Thohir dari Maglipro, pandangan ekologi secara spiritual mengingatkan tentang kisah penciptaan Adam dan manusia. Adam yang sebelumnnya diciptakan di surga harus diturunkan ke bumi.
Menurutnya, Adam yang sudah melihat surga diberikan tugas oleh Tuhan untuk menciptakan bumi seperti surga. Setidaknya, menjaga bumi agar seperti gambaran surga. Sebagai anak-cucu Adam yang diwarisi kehidupuan di bumi, manusia memiliki tugas menjaga alam. Bukan malah merusaknya.
“Ini menjadi pelajaran yang bisa kita petik bahwa sebenarnya tugas kita adalah menciptakan gambaran surga di bumi, bukan merusaknya,” kata Thohir.
Selain itu, Arief Jhoe dari Bojonegoro Institut (BI) juga mengemukanan pendapatnya. Dia mengingat tentang isi Laudato Si (2015), sebuah ensiklik dari Paus Fransiskus. Secara singkat, isinya mengenai pertaubatan ekologis. Paus Fransiskus mengajak seluruh manusia untuk menjaga bumi sebagai rumah kita bersama dari krisis lingkungan.
Menurut pria yang akrab disapa Jhoe tersebut, perubahan iklim yang terjadi tidak langsung dapat dirasakan. Kerusakan lingkungan terjadi secara perlahan, mulai dari tanah dan air. Jika terus berlanjut, maka keanekaragaman hayati turut menjadi korbannya. Nantinya, manusia di masa depan yang merasakan akibatnya.
“Kerusakan lingkungan itu, selain menyebabkan perubahan iklim, juga menyebabkan yang namanya kerusakan air, yang selanjutnya itu kehilangan keanekaragaman hayati,” tutur Jhoe.
Baharuddin Romadhoni dari Jenggala turut menambahkan dalam diskusi tersebut. Menurutnya, kesadaran pelestarian lingkungan menjadi penting bagi setiap umat manusia. Bukan hanya komunitas atau kelompok tertentu. Banyak hal yang bisa dilakukan, bahkan dari hal yang terkecil. Misalnya kontrol sampah rumah tangga.
“Pembiasaan kita harus dikurangi (mulai) dari meja makan, misalnya mengurangi sampah plastik penggunaan sedotan,” ucap pria yang akrab disapa Rudi tersebut.
Isu lingkungan bukanlah perkara yang mengawang-awang. Seolah hantu yang menebarkan ketakutan, padahal ia tidak nyata. Bukan! Alam sudah memberikan buktinya. Sederet bencana alam sudah terjadi. Misalnya banjir bandang wilayah Sumatera di penghujung November 2025. Itu yang paling tampak, belum lagi di wilayah lain.








