Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Bu Tejo dan Pelajaran Penting bagi Seorang Suami

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
20/08/2020
in Cecurhatan
Bu Tejo dan Pelajaran Penting bagi Seorang Suami

Fenomena Bu Tejo jadi pelajaran penting bagi para lelaki atau suami. Bahwa menghadapi para perempuan atau istri, hanya ada satu kata: sabar!

Film pendek berjudul Tilik, ramai jadi pembahasan netizen sepekan ini. Itu bukan tanpa alasan. Dalam film Tilik, ada satu tokoh amat ikonik: Bu Tejo. Sosok yang mewakili oknum ibu-ibu militan dalam hal bergosip.

Ibu-ibu bergosip, memang jadi fitur kehidupan yang amat khas di kalangan masyarakat. Khasanah itu begitu amat terlihat di ranah masyarakat pedesaan. Bergosip jadi simbol tergeraknya sendi-sendi sosial. Meski kadang, ia jadi giat yang amat asosial dan kontrasosial.

Film Tilik mampu menangkap fenomena itu secara manis. Dengan konsep yang amat sederhana — berlatar tempat di atas truk — film Tilik mampu ngoceki sisi unik oknum ibu-ibu pehobi rasan-rasan secara dekat nan elegan.

Wajar jika netizen yang mayoritas kawula muda, ikut riuh membahasnya. Sebab, disadari atau tidak, kita atau mereka atau netizen di seluruh dunia adalah Bu Tejo itu sendiri. Bu Tejo adalah refleksi para netizen hari ini. Ia yang selalu pengen tahu urusan orang lain, lalu menyimpulkannya sendiri ~

Bu Tejo, sosok yang sangat telaten dan militan dalam mencari keburukan tetangga, adalah kita. Bu Tejo, sosok yang rajin mencari informasi tentang kehidupan orang lain, adalah kita. Bu Tejo, sosok yang kuat berlama-lama ngrasani tetangga, adalah kita.

Bu Tejo, sesungguhnya spirit yang hidup sejak zaman Mesir Kuno hingga hari ini. Hanya, wujud fashion dan tubuhnya saja yang berubah. Ada Bu Tejo yang rajin rasan-rasan di atas truk. Ada pula Bu Tejo yang rajin rasan-rasan di atas kursi via hape, kayak kamu.

** **

Dua orang kawan baik saya, Athok dan Lutfi, terlihat asyik beradu konsep. Ya, seperti foto header yang berada di atas artikel ini. Kami sedang berdiskusi perihal bagaimana jadi lelaki yang baik. Semacam jadi bapak yang bijak.

Kami, memang tergabung dalam Jaringan Oknum Bapak-bapak (JOBs) yang rajin belajar kelompok. Terutama belajar perihal kehidupan pasca menikah. Bagi kami, itu pelajaran yang amat penting. Dan belajar di warung kopi, adalah kelas paling asyik.

Menjadi suami atau bapak, tak mengehentikan hobi kami berdiskusi dan belajar. Meski, tentu saja, waktu dan momentumnya, tak bisa dijadwal dan seringnya ketemu secara tak sengaja.

Kemarin, misalnya, kami ketemu secara tak sengaja saat ngopi. Dan di tempat itu juga, tanpa disadari, kami menggelar diskusi tentang bagaimana menjadi suami yang bijak, suami pembelajar yang tak pernah berhenti belajar.

Lha gimana tidak, lha wong kami ngopi juga dalam rangka sedang-menunggu-kegiatan istri. Sehingga, agar kegiatan menunggu bisa tetap produktif, belajar sambil ngopi jadi jalan ninja yang asyik.

Mula-mula, kami memaknai label suami sebagai titel yang tidak biasa. S.Uami, merupakan titel yang jauh lebih tinggi dibanding titel S.Pd atau S.Ag atau S.kom atau S.Sos atau S S lainnya. Jumlah hurufnya saja jauh lebih banyak.

Suami, kami maknai sebagai akronim dari Suuabar Menunggu Istri. Sabar menunggu. Sabar dinasehati. Dan sabar saat ada panggilan mendadak, kala sedang asyik-asyiknya ngopi.

Sabar, menjadi sikap pertama yang dimiliki seorang lelaki dengan maqom suami. Karena itu, tak sembarang lelaki ditakdir punya titel suami. Ia harus punya sikap sabar dulu. Setidaknya, mengenal sabar dari proses menjomblo. Athok, Lutfi dan saya menyetujui kesimpulan itu.

Kami juga sempat membahas fenomena Bu Tejo. Tentu, itu disebab adanya banyak informasi tentang Bu Tejo yang mampir di timeline medsos. Bu Tejo tentu fenomena sosial yang penting bagi sosok suami muda seperti kami.

Dari sosok Bu Tejo yang mampu mengorganisir perlawanan terhadap polisi lalu lintas, misalnya, kami bisa memetik pelajaran bahwa Oknum Ibu-ibu adalah makhluk yang hanya bisa dihadapi dengan kesabaran.

Fenomena Bu Tejo jadi pelajaran penting bagi calon suami atau oknum bapak-bapak seperti kami. Bahwa menghadapi perempuan, hanya ada satu kata: sabar!

Ya, dengan sabar. Itu alasan kata “suami” diawali dengan huruf “s” yang merupakan akronim sabar. Dan untuk menimbulkan rasa sabar, kata Athok dan Lutfi dan saya, harus diawali rasa “syukur” terlebih dahulu.

Ya, lagi-lagi diawali dengan huruf “s” yang menjadi elemen penting pembangun kata “suami”. Label dan titel suami harus dibangun dari sikap sabar dan syukur. Tanpa kedua hal itu, hanya jadi Uami.

Bagaimana menimbulkan rasa syukur dan sabar? Logikanya begini: Kok bisa-bisanya, lelaki tidak jelas macam kami ini, dalam sebuah episode hidup, pernah ditakdir memiliki istri dan berlabel istimewa: suami.

Karena itu, label suami dan bapak harus disyukuri. Sebab, tak sembarang lelaki punya nasib ditakdir menjadi suami dan menjadi bapak. Itu jadi alasan kenapa suami harus suabar menunggu istri belanja dan suabar menunggu anak bermain.

Tags: Bu TejoFilm TilikSabarSuami
Previous Post

Padi Jeliteng dan Sumber Makanan Penjaga Imunitas Tubuh

Next Post

Tan Malaka: Terbentur, Terbentuk dan Terlupakan

BERITA MENARIK LAINNYA

Komisi D DPRD Bojonegoro Soroti Penataan Pasar Modern, Minta Hak Pedagang Tak Diabaikan
Cecurhatan

Komisi D DPRD Bojonegoro Soroti Penataan Pasar Modern, Minta Hak Pedagang Tak Diabaikan

06/05/2026
Kekuasaan yang Berkedok Tradisi?
Cecurhatan

Kekuasaan yang Berkedok Tradisi?

05/05/2026
Prometheus, Api, dan Kesunyian: Hikmah Humor dan Pencurian (15)
Cecurhatan

Prometheus, Api, dan Kesunyian: Hikmah Humor dan Pencurian (15)

04/05/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Komisi D DPRD Bojonegoro Soroti Penataan Pasar Modern, Minta Hak Pedagang Tak Diabaikan

Komisi D DPRD Bojonegoro Soroti Penataan Pasar Modern, Minta Hak Pedagang Tak Diabaikan

06/05/2026
Kekuasaan yang Berkedok Tradisi?

Kekuasaan yang Berkedok Tradisi?

05/05/2026
Prometheus, Api, dan Kesunyian: Hikmah Humor dan Pencurian (15)

Prometheus, Api, dan Kesunyian: Hikmah Humor dan Pencurian (15)

04/05/2026
Pendidikan Indonesia dan Tantangan terhadap Dunia Kerja

Pendidikan Indonesia dan Tantangan terhadap Dunia Kerja

03/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: