Catatan kluyuran seorang santri dan istri ke Turki, Belanda, dan Belgia.
“Ibu Ike ini, tahun ini, akan menimba ilmu di Wageningen, Belanda,” demikian ucap seorang fasilitator Sekolah Alam Gaharu.
Kemarin (Kamis, 16 Mei 2024). Ya, kemarin, dalam silaturahmi antara kami, dari Sekolah Alam Gaharu, Baleendah, Kab. Bandung, dan beberapa dosen Telkom University, Bandung. Ibu Ike tersebut adalah seorang dosen di universitas tersebut.
Tahun ini, ia akan mengambil program s-3 di Negeri di Bawah Air itu. Mendengar ucapan demikian, tiba-tiba saya teringat kembali catatan kluyuran saya dan istri, sepuluh tahun yang lalu, ke Turki, Belanda dan Belgia. “Mungkin, ada manfaatnya catatan itu saya sajikan kembali,” gumam bibir saya.
Apalagi, saat ini, perhatian saya lebih terkonsentrasi untuk merampungkan dua calon buku di bidang tasawuf. Sehingga, saya tak sempat banyak menulis tentang hal-hal lainnya. Kiranya, tahun itu dua buku itu dapat saya rampungkan, amin. Untuk itu, kini, catatan yang terdiri dari beberapa seri itu saya sajikan Kembali. Silakan dinikmati dan semoga bermanfaat. Monggo!
“MAS. Bagaimana kalau saya ‘sekolah’ lagi.”
Demikian ucap istri saya, pagi itu, selepas ia mendaras Alquran. “Saya kok ingin mendalami lebih jauh tentang penyakit jantung. Pada akhir Agustus tahun ini, European Society of Cardiology (ESC) akan menyelenggarakan pekan ilmiah tahunan. Di Amsterdam, Belanda. Tahun ini, saya ingin ‘sekolah’ lagi tentang penyakit jantung. Seperti beberapa tahun yang lalu di Vienna, Austria.
“Sendiri?” tanya saya. Penasaran dan ingin tahu.
“Saya maunya ditemani Mas. Seperti ketika ‘sekolah’ di Istanbul pada 2009. Dan, di Sydney tahun lalu,” jawab istri saya. Seorang dokter spesialis penyakit dalam.
“Asal mau bergaya ‘backpacker’ saja. Tidak pergi bersama rombongan lain yang pergi ke sana dalam bentuk tour group.”
“Rasanya lebih nikmat dan hemat dengan cara ‘backpacker’an begitu. Saya benar-benar menikmati perjalanan dengan gaya begitu, ketika kita pergi ke Istanbul dan Sydney. Saya ‘sekolah’, sedangkan Mas jadi tour leader dan ‘ngluyur’. Ke mana-mana. Seperti biasanya.”
Menikmati Mantan Constantinople
Memang, sebelum pergi ke Sydney, pada awal Januari dua tahun sebelum itu istri mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sebuah kongres medis di Istanbul, Turki.
Menurut pemberitahuan dari panitia kongres tersebut, kegiatan itu dilaksanakan pada bulan April. Pada saat yang bersamaan, sebuah travel umrah dan haji di Bandung meminta saya untuk menjadi pembimbing sejumlah jamaah yang akan melaksanakan ibadah umrah di bulan yang sama.
Segera, saya dan istri pun merancang perjalanan ke Arab Saudi, untuk melaksanakan umrah, dan baru kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke Turki. Karena itu, seusai melaksanakan pembimbingan ibadah umrah, di dini hari, saya dan istri pun meninggalkan Jeddah (seusai melaksanakan ibadah umrah di Makkah al-Mukarramah dan jamaah yang saya bimbing kembali ke Jakarta), dengan naik pesawat Turkish Airlines, dengan tujuan Istanbul.
Selepas menempuh perjalanan sekitar tiga jam dari Jeddah, pesawat Turkish Airlines yang kami (saya dan istri) naiki pun mendarat dengan mulus di Ataturk International Airport. Jam di bandar udara modern yang terletak di Yesilpurt, suatu lokasi yang terletak sekitar 23 kilo meter dari Sultan Ahmet Square, pusat pariwisata di Istanbul, Turki saat itu menunjuk pukul setengah enam pagi.
Karena pemeriksaan oleh petugas imigrasi lancar, demikian pula urusan bagasi, kami pun segera meninggalkan bandar udara baru dan megah (yang bentuknya mengikuti bentuk Masjid Biru, Istanbul) itu menuju Aksaray, Istanbul dengan naik taksi.
Perjalanan dari bandar udara menuju hotel tempat kami menginap pun berjalan lancar, karena hari masih pagi. Kabut tipis nan indah kala itu masih bertebaran di mana-mana. Tak lama selepas meninggalkan bandar udara, kami segera disambut pemandangan indah Laut Marmara, dengan kapal-kapal yang sedang “berenang” dengan gagah dan tenangnya serta pelbagai bangunan indah di kanan dan kiri jalan nan mulus.
Istanbul pada pagi hari di puncak musim semi itu benar-benar tampak sangat indah dan bersih. Bunga-bunga tulip warna-warni di taman-taman sepanjang jalan sedang mekar begitu indah.
Menikmati berbagai sudut Istanbul di pagi nan indah itu, entah mengapa, membuat penulis serasa sedang menikmati perjalanan beberapa tahun sebelum itu di seputar Frankfurt, Jerman.
Tak lama selepas tiba di hotel tempat kami menginap di Aksaray, dan selepas beristirahat beberapa lama, kami pun segera meninggalkan hotel. Untuk mengunjungi berbagai sudut kota yang pernah bernama Constantinople itu. Diantar seorang sahabat, Mas Ahmad Saefuddin, seorang mahasiswa Indonesia asal Semarang yang sedang menyelesaikan studinya di bidang sastra Turki di Universitas Marmara, Istanbul, pertama-tama kami naik bus menuju Taksim Square, alun-alun Kota Istanbul yang berada di Benua Asia. Ini karena istri saya akan melakukan heregistrasi kongres medis yang diselenggarakan di lingkungan Museum Militer Istanbul beberapa hari kemudian.
Selepas urusan heregistrasi usai, tujuan utama kami hari itu adalah pergi ke Sultan Ahmet Square: kawasan yang kaya dengan berbagai khazanah historis (historical heritages) yang terpelihara baik. Berbeda dengan Taksim Square yang berada di Benua Asia, kawasan pariwisata di Istanbul itu berada di Benua Eropa.
Dari Taksim Square, dengan naik trem, kami kemudian menuju Kabatas dan kemudian menuju Eminonu, sebuah lokasi di tepi Selat Bosphorus. Selepas beberapa lama menikmati indahnya Selat Bosphorus, di musim semi, dengan lautnya nan bersih dan pemandangannya nan indah, kami pun dengan berjalan kaki kemudian menuju Sultan Ahmet Square.
Pemandangan sepanjang jalan antara Eminonu dan Sultan Ahmet Square benar-benar menarik perhatian penulis. Meski jalan sepanjang perjalanan penuh sesak dengan para turis, namun kebersihan kawasan sepanjang perjalanan tetap terpelihara dan suasana benar-benar nyaman.
Tampaknya pemerintah daerah Kota Istanbul menyadari pentingnya pemeliharaan lingkungan pelbagai pusaka historis di kota itu, untuk menyukseskan program pariwisata yang mereka gelar.
Pada hari itu, dan kemudian pada hari kedua, kami benar-benar “menikmati” berbagai khazanah historis Istanbul: Hippodrome, Masjid Biru, Tandon Air Basilika, Hagia Sophia, Istana Topkapi, Masjid Yeni, dan Istana Dolmabahce (sebuah istana peninggalan Dinasti Usmaniyah yang terletak di tepi Selat Bosphorus yang sangat menawan). Di samping itu, kami juga berkesempatan menelusuri berbagai penjuru sudut Istanbul dengan trem dan metrobus yang nyaman.
Pada hari ketiga, dengan diantar seorang sahabat lain, Mas Budi Zaenal Mutaqin, seorang mahasiswa Indonesia asal Tasikmalaya yang sedang merampungkan program S-2 di Jurusan Matematika di Universitas Marmara, tujuan kami hari itu adalah mengunjungi dua masjid utama di Istanbul. Pertama-tama kami mengunjungi Masjid Sehzade. Selepas puas menikmati kunjungan kami ke Masjid Sehzade, yang lokasinya berseberangan dengan lokasi Balaikota Istanbul, kami kemudian dengan berjalan kaki menuju lokasi masjid kedua, yaitu Masjid Sulaimaniye.
Betapa bahagia hati saya hari itu, karena akhirnya saya diberi kesempatan Allah Swt. untuk mengunjungi Masjid Sulaimaniye itu yang sejak lama saya dambakan untuk dapat saya datangi. Selain mengunjungi masjid itu, kami pun waktu itu berkesempatan mengunjungi makam Sinan Pasa yang berada di samping masjid yang satu itu, di samping juga mengunjugi beberapa tempat wisata yang menarik di seputar Istanbul. Antara makam seorang sahabat Nabi Saw., yaitu Abu Ayyub al-Anshari (yang gugur ketika ikut serta dalam ekspedisi militer yang terdiri dari 39 kapal perang dalam upaya pertama kaum Muslim pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan, penguasa pertama Dinasti Umawiyah di Damaskus, Suriah untuk menaklukkan kota itu pada 49 H/669 M), dan Taman Miniatur Turki.
Selepas menikmati dan mengunjungi berbagai sudut Istanbul selama enam hari, kami kemudian kembali ke Indonesia dengan kenangan yang sulit kami lupakan tentang kota yang akhirnya berhasil direbut Muhammad II al-Fatih dari tangan penguasa Kekaisaran Romawi itu pada 1453 M.
Bertemu dengan Saudara yang Dokter Spesialis Jantung. Segera, kami pun memroses segala hal yang diperlukan dalam perjalanan tersebut.
Alhamdulillah, sekitar tiga minggu kemudian, visa “Etats Schengen” akhirnya kami dapatkan. Tanpa kami harus pergi ke Jakarta. Hal itu karena kami pernah pergi ke Eropa. Beberapa kali.
Selain ke Belanda, kami juga bermaksud pergi ke Belgia. Karena itu, sebelum berangkat, saya kemudian menghubungi Mas Andi Yudha Asfandiyar, seorang mantan CEO Penerbit Mizan, Bandung yang kala itu bermukim di Brussels, bahwa saya akan mampir ke sana. “Mas. Monggo diantos di Brusselsnya. Tanggal itu kami siap. Semoga perjalanan lancar, sehat, seger, dan barakah selalu,” jawabnya. Dengan bahasa Indonesia ala Malang, Jawa Timur: meriah dan ramah. Lewat message di facebook.
Kebetulan, seorang sahabat yang juragan sebuah perusahaan IT, di Jakarta, juga mengajak kami untuk pergi bersama. Dari Belanda ke Belgia. Sahabat asal Ngawi, Jawa Timur itu dekat dengan kami sejak ia masih sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia ingin membawa kami ke kantor cabangnya yang baru di Eindhoven, Belanda. Baru kemudian pergi ke Brussels. Untuk bertemu dengan duta besar Republik Indonesia di sana.
Kemudian, pada Kamis sore, di bulan Agustus tahun itu, kami pun telah berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Selepas melintasi konter imigrasi, ketika kami sedang duduk sebelum masuk ke dalam boarding lounge, tidak lama kemudian seorang saudara asal Klaten, Jawa Tengah, seorang dokter spesialis jantung, dr. Muhammad Toyibi Sp.JP, dan istrinya, Mbak Kus, muncul.
“Mas Toyibi mau ke mana?” tanya saya kepada dokter spesialis penyakit jantung yang kala itu bertugas di Rumah Sakit (RS) Persahabatan, Jakarta itu.
“Saya mau ke Amsterdam. Mau ikut ESC 2013 Meeting. Tapi, kami juga akan ke Swedia. Kalian mau ke mana?”
“Hehehe, sama, Mas dan Mbak. Ke Amsterdam. Selain ke Amsterdam, kami juga akan pergi ke Eindhoven dan Brussels. Diajak Dik Harca, juragan perusahaan IT yang juga Mas Toyibi kenal. Ia akan melebarkan usahanya ke Belanda, Belgia, dan Jerman.”
“O, begitu. Kalau begitu, kami akan bergabung. Sebentar, saya akan kontak ia,” ucap Mas Toyibi yang juga kenal dekat dengan sahabat kami dari Ngawi itu.
Selepas berucap demikian, dokter spesialis penyakit jantung yang ketika menjadi Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada pernah merasakan “hotel prodeo”, alias bui, selama sekitar setahun di Semarang, karena menentang kebijakan politik rezim yang berkuasa di Indonesia kala itu, segera mengontak juragan perusahaan IT yang sedang berada di Hamburg, Jerman itu.
“Oke, ia setuju. Saya dan istri ikut bergabung., dalam perjalanan kalian ke Eindhoven dan Brussels nanti,” ucap Mas Toyibi. Dengan wajah sumringah.
Tidak lama kemudian, kami berempat pun masuk ke dalam perut pesawat terbang KLM, sebuah perusahaan penerbangan Belanda yang didirikan pertama kali pada 1919. Dengan rute Jakarta-Kuala Lumpur-Amsterdam. Ternyata, pesawat itu penuh dengan penumpang. Tidak ada kursi yang kosong. Saya dan istri, yang mendapatkan nomer kursi terpisah jauh, akhirnya dapat duduk berdampingan. Ini karena kebaikan hati seorang anak muda asal Karangasem, Bali, yang akan kerja di sebuah perusahaan pelayaran di Belanda. Matur nuwun, Mas.
Ternyata, pesawat terbang KLM pun terkena dampak kesibukan Bandara Soekarno-Hatta. Akibatnya, pesawat terbang yang kami tumpangi itu terlambat berangkat. Sekitar dua jam, lumayan lama. Kala itu, jadwal naik-turun pesawat terbang di Bandara Cengkareng itu memang sangat sibuk.
Tak lama selepas pesawat terbang KLM yang kami naiki itu tinggal landas dari Bandara Soekarno-Hatta, pesawat terbang KLM itu dengan cepat dan gagah itu menguak relung langit biru. Selepas beberapa lama mengangkasa, pesawat terbang dari Belanda itu telah berada di angkasa tinggi. Pemandangan yang tampak kini hanyalah langit biru, awan, dan bumi di kejauhan. Kadang, pemandangan pekat belaka yang kelihatan, bila pesawat sedang melintasi awan tebal.
Kemudian, selepas melewati Kuala Lumpur, rasa kantuk mulai menyergap dua mata saya. Kemudian, setelah terjaga dan menikmati hidangan dalam pesawat, kedua mata saya ternyata gak mau dipejamkan. Dan, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” ke Marseille, Perancis. Ya, “melayang-layang”, terkenang perjalanan pertama seorang Imam tentara Mesir ke Perancis pada Juli 1826 M: Pada suatu hari di bulan itu, sebuah kapal perang Perancis mendarat di Pelabuhan Marseille. Di antara para penumpang kapal perang itu terdapat 41 mahasiswa tugas belajar dari suatu negeri di Timur Tengah.
Mereka adalah para mahasiswa angkatan pertama yang dikirim untuk belajar di negeri itu. Ketika mereka mendarat dan beristirahat di tempat penampungan, mereka segera bertaburan dan bertebaran ke pelbagai penjuru kota terbesar kedua di Perancis itu. Dengan penuh kekaguman, mereka melongok pelbagai sudut kota itu.
Segera, mata mereka pun berubah menjadi kamera yang memotret negeri asing dan bangsa lain yang baru mereka lihat. Tapi, dari ke-41 mahasiswa itu, hanya ada seorang saja yang menyimpan gambar-gambar itu dan merekamnya dalam bentuk tulisan.
Selepas puas menikmati pemandangan kota Marseille, mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke Paris. Ketika mereka sampai di kota yang terkenal cantik itu, ternyata tetap hanya seorang yang mencatat kisah dan kesan dalam perjalanan itu. Ia mencatat kisah dan kesannya dengan cepat, spontan, dan penuh tanggung jawab.
Sebuah catatan anak muda tentang segala sesuatu yang asing baginya dan tidak ia dapatkan di negerinya. Kesan pertamanya memang mirip kesan seorang turis yang baru pertama kali mengunjungi suatu negeri. Namun, segera, catatan-catatannya berubah ketika ia merekam hal-hal yang penting.
Misalnya, tentang sistem politik dan kesehatan di “Kota Cahaya” itu, dan berbagai pengalaman menarik yang ia rasakan sangat berbeda dengan yang terjadi di negerinya. Dalam bulan-bulan pertama, catatannya masih merupakan renungan, perasaan tanda tanya yang sarat gejolak, perasaan kagum, dan kisah perlawatannya ke berbagai tempat yang menarik di kota itu.
Sejatinya, keberangkatan anak muda itu, ke negeri yang lumayan jauh dari negerinya, untuk menjadi imam bagi ke-40 mahasiswa yang juga teman-temannya. Meski sebagai imam, usianya masih muda: sekitar 25 tahun. Tidak aneh bila pikirannya kala itu masih mudah menerima ide-ide baru. Apalagi ia begitu haus ilmu pengetahuan. Dan, kini, ia berhadapan dengan suatu kebudayaan yang lain dengan kebudayaan negerinya.
Kebudayaan suatu bangsa yang 28 tahun sebelumnya datang sebagai penjajah negerinya. Kejutan budaya yang dihadapi imam muda di negeri asing itu merupakan salah satu faktor yang membentuk kepribadiannya, sepanjang usianya. Kepribadian yang senantiasa memberontak terhadap kenyataan di negerinya.
Sejak saat pertama ia naik ke kapal perang yang membawanya ke Perancis itu, ia telah berniat tak hanya akan menjadi imam saja. Memang, di antara rombongan itu ada dua imam yang lain. Namun, hanya dirinya yang bercita-cita untuk tak sekadar menjadi imam. Untuk itu, begitu tiba di Paris, ia menggaji seorang guru Perancis yang mengajarinya bahasa negeri itu. Karena itu, selama tiga tahun ia harus menyisihkan sebagian dari gajinya sebagai imam untuk menggaji sang guru.
Kesempatan emas selama di Paris ia gunakan dengan sebaik-baiknya untuk membaca dan menelaah buku-buku yang sangat menarik perhatiannya. Antara lain buku-buku sejarah, teknik, geografi, dan politik. Ia juga meluangkan waktunya untuk membaca karya-karya Montesquieu, Voltaire, dan Rousseau. Tampaknya, ia dengan sengaja membaca bidang-bidang yang begitu beragam dan tidak mencurahkan perhatiannya pada bidang tertentu.
Selepas sekitar lima tahun berada di Perancis, pada 1831 M ia kembali ke negerinya. Kesan dan catatannya tentang Perancis kemudian ia bukukan dan terbitkan dengan judul Takhlîsh al-Abrîs fî Talkhîsh Bâris. Karyanya tentang Paris itu bukan hanya merupakan kisah perjalanannya semata.
Namun, dalam karyanya itu ia juga memaparkan seluk beluk kehidupan dan kemajuan negeri yang ia kunjungi itu. Selain itu, ia juga mengulas sistem pemerintahan Perancis, Revolusi 1789, kesehatan, dan ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah-sekolah di Paris, konstitusi Perancis, dan adat kebiasaan bangsa Perancis. Karya anak muda itu begitu penting. Sehingga, penguasa negerinya pun memerintahkan agar karyanya itu diterjemahkan ke dalam bahasa Turki.
Siapakah anak muda itu?
Tak salah, memang, anak muda itu adalah Rifa‘ah Rafi‘ al-Thahthawi, seorang cendekiawan Muslim asal Mesir yang terkenal sebagai salah seorang tokoh pembaharuan di negerinya itu. Lahir di Thahtha, Mesir selatan, pada Kamis, 7 Jumada Al-Tsaniyyah 1216 H/15 Oktober 1801 M, dengan nama lengkap Rifa‘ah bin Badawi bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Rafi‘ al-Thahthawi, pendidikannya di masa kecil dapat ia lintasi dengan baik atas topangan keluarga ibunya. Ini karena harta milik orang tuanya diambil alih penguasa Mesir saat itu, Muhammad Ali Pasya.
Kemudian, ketika berusia 16 tahun, tokoh yang anak keturunan al-Husain bin Ali bin Abu Thalib ini menapakkan kakinya ke Kairo untuk menimba ilmu di al-Azhar. Pendidikannya di universitas Islam tertua di dunia ini, antara lain, di bawah bimbingan Syeikh al-Hasan al-Aththar, Syeikh al-Fudhali, Syeikh al-Hasan al-Kuwaisini, Syeikh al-Damanhuri, dan Syeikh al-Bajuri, ia rampungkan pada 1822 M.
Selama dua tahun berikutnya, al-Thahthawi mengajar di almamaternya. Lantas, pada 1824 M, ia diangkat sebagai imam tentara. Dua tahun kemudian, atas rekomendasi gurunya, Syaikh al-Azhar al-Syarif kala itu, al-Hasan al-Aththar, tepatnya pada Juli 1826 M, ia diangkat menjadi imam para mahasiswa Mesir yang dikirim ke Paris seperti telah dituturkan di muka.
Sekembalinya ke Mesir, al-Thahthawi diangkat sebagai guru bahasa Perancis dan penerjemah berbagai karya ilmiah ke dalam bahasa Arab. Perjalanan hidupnya selanjutnya mengantarkannya menjadi Kepala Sekolah Bahasa-bahasa Asing di Kairo, Kepala Sekolah Dasar di Sudan, dan Kepala Sekolah Militer.
Selain itu, ia juga diberi kepercayaan menjadi pemimpin redaksi surat kabar al-Waqâ’i‘ al-Mishriyyah. Tokoh yang berpulang pada 1873 M ini meninggalkan sejumlah karya tulis. Antara lain adalah Manâhij al-Albâb al-Mishriyyah fî Mabâhij al-Adâb al-Mishriyyah, al-Mursyîd al-Amîn fî Tarbiyyah al-Banât wa al-Banîn, Nihâyah al-Îjâz, al-Tuhfah al-Maktabiyyah li Taqrîb al-Lughah al-‘Arabiyyah, dan Anwâr Taufîq al-Jalîl. Memang, sejarah mengajarkan, perubahan pemikiran kerap timbul dari kisah perjalanan yang ditempuh seseorang.
Demikian halnya, kisah pertukaran budaya pun kerap terjadi dari perjalanan yang dilakukan seseorang. Hal yang demikian itu dialami pula oleh banyak pemikir Muslim lainnya, tidak hanya dialami Rifa‘ah Rafi‘ al-Thahthawi saja. Imam al-Syafii, pendiri Mazhab Syafii, seperti telah dikemukakan di muka, pemikirannya berubah selepas ia mengunjungi Mesir. Malah, perjalanannya ke Negeri Piramid itu membuat ia merevisi sebagian pandangan lamanya.

Akhirnya, Sampai di Stasiun Amsterdam Centraal
Kemudian, selepas menempuh perjalanan langsung sekitar 14 jam, dan melintasi jarak sekitar 11.160 kilometer, akhirnya pesawat terbang yang kami naiki mendarat di Schiphol International Airport, Amsterdam. Pada pukul 06.10 pagi waktu setempat. Karena kami berempat membawa “invitation letter” dari ESC, proses pemeriksaan di konter imigrasi Bandara Amsterdam yang mulai didirikan pada 1916 pun berjalan lancar.
Tanpa banyak pertanyaan, paspor kami pun dicap “30.08.13.86 AMSTERDAM SCHIPHOL G 305”. Dan, begitu melintasi “exit”, para penjemput para peserta ESC tampak bertebaran. Di mana-mana. Mas Toyibi dan istri segera menuju Hotel Ibis di lingkungan Bandara Amsterdam. Sedangkan saya dan istri, yang mengatur sendiri perjalanan kami, segera menuju ke konter “Train Tickets & Services”. Untuk membeli tiket kereta api jurusan Amsterdam Centraal: stasiun utama di Kota Amsterdam.
Setelah memegang dua tiket, seharga 4.40 euro, kami berdua kemudian menuju ke peron nomer 2. Di tiket tersebut, terdapat tulisan “Naar de trainen 1-2”. Membaca tulisan dalam bahasa Belanda tersebut, entah kenapa, tiba-tiba sederet kosakata bahasa Belanda yang pernah saya pelajari, ketika masih menjadi mahasiswa Institut Agama Isalam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Jogjakarta, bermunculan kembali.
Perlu dicatat, setiap seperempat jam ada kereta api yang berangkat dari Schiphol Airport menuju stasiun terbesar di Kota Amsterdam: Amsterdam Centraal. Juga, sebaliknya. Dapat dikatakan, Stasiun Amsterdam Centraal seperti Stasiun Gambir di Jakarta.
Selepas melintasi dua stasiun, Amsterdam Lelyland dan Amsterdam Slotterdijk, akhirnya kereta api nyaman dan bersih yang kami naiki tiba di Stasiun Amsterdam Centraal. “Andai saja antara Cengkareng dan Gambir segera ada kereta api seperti ini,” gumam istri saya, kala itu, sambil memandangi kereta api-kereta api yang keluar dan masuk di stasiun yang lebih besar dari Stasiun Gambir, Jakarta itu. “Bersih, rapi, dan terintegrasi. Mirip Stasiun Sydney, Australia.”
Begitu turun dari kereta api, kami pun kebingungan. Ya, kebingungan dalam mencari tempat penginapan yang kami tuju: Hotel “C” yang terletak di Raadhuisstraat. Sebab, kala itu, kami belum pernah ke Amsterdam. Kami kemudian melangkahkan kaki, keluar dari stasiun. Eh, ternyata, di sebelah depan kanan pintu stasiun, di situ terdapat banyak trem sedang parkir. Kami pun melangkah ke situ, sambil menggeret koper kami masing-masing.
Sejenak kemudian, kami kebingungan: di mana kami membeli tiket. Namun, karena sebelumnya saya sudah membaca “info” seputar kota tua itu, saya kemudian membeli tiket trem dan bus GVB yang berlaku untuk masa tiga hari, seharga 16.50 euro. Ya, membeli tiket kepada seorang ibu yang duduk di bagian tengah trem.. Ternyata, masa berlaku tiket GVB yang dijual aneka ragam: ada yang berlaku satu jam, satu hari, dua hari, atau tiga hari.
Dari peta yang disediakan dalam trem yang kami naiki, kami kemudian menaiki trem nomer 13 (juga bisa naik trem nomer 17) dan turun di Halte Westermarkt. Ketika ada pengumuman “volkende halte: Westermarkt”, kami pun segera siap-siap. Dan, setelah trem itu berhenti di halte yang terletak di depan sebuah gereja megah dan cantik, kami pun turun.
“Oh, ini dia Raadhuisstraat,” gumam bibir saya. Dalam hati. Seraya memandangi para pesepeda yang lalu lalang di jalan itu. “Enak juga naik sepeda di jalan-jalan yang mulus seperti ini. Andai jalan di Kota Bandung seperti ini, saya pun akan naik sepeda. Ke mana-mana,” gumam bibir saya. Lebih lanjut dan sambil tersenyum.
Dengan mendorong masing-masing satu kopor, dan dengan kebingungan, kami berdua pun mencari tempat penginapan yang kami tuju. Setelah bertanya beberapa kali (kala itu GPS belum kami kuasai), akhirnya hotel kecil tempat kami menginap pun kami temukan. Alhamdulillâh wasy syukru lillâh. Kami sendiri, setelah beberapa hari kemudian, baru tahu, ternyata hotel kecil itu berada tidak jauh dari Dam Square dan lokasinya sangat strategis. Lagi pula, harganya terjangkau oleh kocek kami.
Dam Square adalah sebuah lapangan yang menjadi pusat kota Amsterdam, seperti Lapangan Monas di Jakarta. Ternyata, Dam Square terletak hanya sekitar 750 meter dari Stasiun Amsterdam Centraal. Semula, Dam Square merupakan sebuah dam yang terletak di atas Sungai Amstel. Nah, di ujung Barat lapangan itu, tegak dengan megahnya sebuah Istana Kerajaan bergaya neo-klasik. Istana tersebut, antara 1655-1808, berfungsi sebagai kediaman para raja/ratu Belanda.
Harus Mendaki 48 Anak Tangga, Duh!
Kini, apa yang terjadi setelah kami berdua berhasil menemukan lokasi hotel kecil yang kami cari?
Setelah berada di bawah sebuah papan nama kecil bertuliskan “C Hotel”, yang kami dapatkan hanyalah sebuah pintu tertutup. Ya, sebuah pintu tertutup dan di dekat pintu itu ada bel dan kamera. Dasar orang desa, sejenak kami berdua pun kebingungan. Ya, kebingungan. Padahal, mata kami terasa sangat berat dan tubuh pun kecapaian. Akibat menempuh perjalanan tidak kurang dari 20 jam. Dari Bandung hingga Amsterdam.
Setelah berpikir beberapa lama, saya kemudian memberanikan diri untuk memencet bel yang ada di dekat pintu dan berucap dalam bahasa Inggris. Ini karena kami tidak dapat berbahasa Belanda, “Selamat pagi. Kami dari Indonesia dan akan menginap di hotel ini.”
“Selamat pagi. Apakah Anda telah melakukan reservasi?” tanya suara seorang perempuan. Di bel itu.
“Ya. Kami membawa bukti reservasi tersebut. Kami akan menginap di sini. Selama enam hari.”
“Oke. Tunggu sebentar,” jawab suara itu. Ramah. “Oke. Kini, dorong pintu di depan Anda.”
“Ndeso tenan. Dasar orang desa, hehehe,” gumam saya sambil tersenyum. Dan, kemudian, saya mendorong pintu di depan kami. Kami, memang, belum pernah menginap di tempat penginapan dengan model begitu.
Namun, begitu pintu itu terbuka, apa yang ada di depan saya?
Ya, Rabb. Ternyata, yang ada di depan kami adalah tangga miring dan terdiri dari entah berapa anak tangga. Begitu melihat tangga miring dan jauh itu, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” jauh. Ya, jauh, ke Giza, Mesir: terkenang ketika masa muda dan sedang memasuki Piramid Khufu, piramid paling besar di Mesir. Persis: miring dan jauh. “Wah. Bagaimana saya harus mengangkat dua kopor ini?” gumam saya dalam hati. “Gawat, (sakit) kaki kiri saya (yang tiga tahun sebelumnya harus dioperasi karena terpeleset ketika turun dari kereta api di Stasiun Bandung) bisa kambuh lagi.”
Belum lagi kebingungan saya sirna, seorang cewek cantik dan muda melongokkan kepalanya di samping anak tangga terakhir tangga tersebut. Lalu, teriaknya kepada saya, “Biarkan kopor kalian. Biar kopor-kopor itu diangkat Ahmed. Ke atas.”
“Ahmed, siapa ia?” gumam saya. Bingung.
Tidak lama kemudian, seorang anak muda turun dan mengangkat dua kopor kami. Anak muda itu ternyata adalah Ahmed, dan alhamdulillah, ia seorang Muslim asal Mesir. Dan, ketika kami “mendaki” ke atas sampai ke kamar yang kami inapi, ternyata tangga itu terdiri dari 48 anak tangga. Alamak!
Meski hotel itu kecil, namun pelayanannya bagus. Juga, bersih dan nyaman. Semestinya, kami baru dapat masuk ke dalam kamar pukul 14.00. Namun, karena hari itu ada satu kamar kosong, kami dibolehkan masuk ke dalam kamar sebelum waktunya. Malah, sebelum memasuki kamar, kami dipersilakan menikmati breakfast.
Apa yang terjadi ketika kami berada di restoran untuk menikmati makan pagi?
Ketika istri saya sedang kebingungan: apakah menu yang disajikan halal atau haram, seorang anak muda yang melihat istri mengenakan jilbab pun berucap, “Madame tidak usah khawatir. Semua makanan yang kami sajikan halal, lo.”
“Kok Anda berani menjamin demikian?” tanya saya.
“Kenalkan, nama saya Hassan. Saya dari Alexandria. Saya juga Muslim seperti kalian dan pelayan di resto ini. Karena itu, saya tahu benar, semua hidangan ini halal.”
“Intû min Masr? Kân zamân anâ sâkin fî Al-Qâhirah. Anda dari Mesir? Dulu, saya tinggal di Kairo, lo,” ucap saya kepada anak muda itu.
Begitu Hassan mendengar saya berbicara dengan bahasa Arab harian ala Mesir, segera ia memeluk saya dan berucap, “Anda saudara saya. Silakan nikmati hidangan di sini. Sepuas-puasnya. Saya akan buatkan kalian omelet. Yang sangat lezat.”
“Alhamdulillah,” ucap istri saya begitu ia saya beritahu tentang apa yang dikatakan Hassan. “Allah Swt. senantiasa memberikan kemudahan kepada kita.”
Usai menikmati makan pagi, kami kemudian menuju kamar. Ukuran kamar itu, ternyata, tidak lebih dari 3 x 3 meter. Meski kecil, namun, kamar itu nyaman, bersih, dan view di luar menarik. Dan, tidak lama kemudian, kami pun berdoa, “Bismikallâhumma ahyâ wa amût.” Tak lama kemudian, kami pun sudah berada dalam alam mimpi. Tidur pulas, karena kecapaian berat!








