Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Saat Bung Karno Pinarak di Bojonegoro

Yogi Abdul Gofur by Yogi Abdul Gofur
27/06/2022
in Figur
Saat Bung Karno Pinarak di Bojonegoro

Soekarno pernah ke Bojonegoro pada 9 Juli 1957 bersama istri ke-empatnya, Hartini. Mereka sempat menginap di salah satu rumah bergaya kolonial di Jalan Panglima Sudirman (Pangsud) Kota Bojonegoro.

Selain sebagai lumbung pangan dan energi. Bojonegoro memiliki warisan seni dan kebudayaan, baik yang berwujud benda maupun tak benda. Salah satu di antaranya tersebar di kecamatan atau Kota Bojonegoro. Satu di antaranya, menyimpan kisah tentang Bung Besar, Soekarno.

Wilayah kecamatan atau biasa disebut daerah Kota Bojonegoro memiliki kekayaan sejarah, seni, dan kebudayaan. Apabila warga Kota Bojonegoro mengetahuinya, hal tersebut bisa menambah rasa cinta pada daerah plus memberikan rasa bangga setiap menginjakkan kaki.

Hal tersebut bisa dilihat dari nama jalan, bangunan cagar budaya, kisah-kisah yang berkembang, dan lain-lain. Tentu saja, hal ini membuatmu makin tahu indonesia.

Bojonegoro city heritage 

Dari segi nama jalan, beberapa nama jalan yang berada di Kota Bojonegoro seperti Jalan Lisman dan Jalan Lettu Suyitno. Nama jalan di beberapa daerah, diambil dari nama-nama pahlawan atau orang-orang yang memiliki jasa lebih di suatu tempat.

Jalan Lisman yang berada di Desa Campurejo sendiri merupakan nama pahlawan yang bergerilya bersama pasukan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).

Lisman lahir di Gedongarum, Baureno pada 1931. Dalam buku Sejarah Perjuangan TRIP Bojonegoro (1981) memberikan penjelasan tentang TRIP, punggawa, cerita gerilya, dan sebagainya. Jabatan terakhir Lisman sebagai regu mortir TRIP Bojonegoro dan gugur pada 7 Januari 1949 di bukit Desa Beron, Rengel.

Ada Jalan Lettu Suyitno yang cukup panjang, melintasi beberapa desa seperti Kalirejo, Mulyoagung, Campurejo, dan Banjarejo. Apapabila ditinjau dari segi geografis, sosiologis dan antropologis tentu sangat menarik apabila dikaji lebih dalam, karena melintasi beberapa desa dan saban desa memiliki karakteristik plus perpaduan urban dan rural.

Baca juga: 5 Jalan Satu Arah di Bojonegoro yang Wajib Diwaspadai

Dalam buku Sejarah Kabupaten Bojonegoro (1988) memberikan gambaran tentang Lettu Suyitno. Dia merupakan pahlawan yang lahir di Tuban, 4 November 1925.

Pahlawan yang patungnya bisa kita temui di Alun-Alun Bojonegoro itu, selain untuk menghargai jasanya juga mengingatkan pada kita semua tentang semangat juang. Lettu Suyitno gugur di Desa Mulyoagung, Kec. Bojonegoro pada 15 Januari 1949.

Di Desa Mulyoagung terdapat sebuah tugu, untuk mengingatkan pada kita semua, bahwa di tempat itu pernah menjadi saksi bisu semangat juang pantang menyerah Lettu Suyitno di medan gerilya.

Setelah itu ada Jalan Jaksa Agung Suprapto. Di sana ada monumen Tentara Genie Pelajar (TGP) yang menggambarkan dan mengabadikan peristiwa pengeboman jembatan Kaliketek lama.

Di bawah jembatan Kaliketek lama, ada pillbox sebagai tempat untuk melakukan pengawasan. Sudah terdaftar sebagai bangunan cagar budaya yang diatur dalam UU No. 11 Tahun 2010.

Selain itu di Jalan J.A. Suprapto ada pasar Banjarejo atau sering disebut Pasar Halte. Kemudian ada pabrik krupuk legendaris yaitu Kerupuk Klenteng sejak 1929, juga berdekatan dengan Klenteng Hok Swie Bio.

Baca juga: Klenteng Hok Swie Bio dan Perjalanan Masyarakat Tionghoa ke Bojonegoro

Berikutnya Jalan Diponegoro, di mana ketika masa penjajahan gedung yang dekat dengan perempatan Mbombok dan pernah digunakan sebagai toko sepatu dulunya merupakan gedung kempeitai. Pada masa penjajahan Jepang, kempeitai adalah polisi militer yang terkenal akan kebengisannya.

Kemudian di Jalan Kartini pada masa penjajahan Belanda, sebuah gedung pernah difungsikan sebagai Voor Folk School (sekolah anak bangsawan). Jalan Diponegoro dan Kartini sarat akan nuansa urban, begitupun dengan jalan Panglima Sudirman (Pangsud) di mana Bung Karno pernah menginjakkan kaki di sana.

Selain nama jalan dan bangunan cagar budaya, Kota Bojonegoro juga ada beberapa nama-nama tokoh seperti Eyang Bugadung, Mbah Baeno, Buyut Pani, Andong Sari, dan lain-lain.

Sekarang hari apa, Nabs? Jangan-jangan nabsky lupa atau hanya pura-pura lupa, hehehe. Sekarang hari Sabtu, 6 Juni 2020. Tanggal 6 Juni merupakan hari kelahiran Presiden Pertama RI.

Bung Karno lahir di Surabaya, 6 Juni 1901 dengan nama lahir Koesno Sosrodihardjo. Murid dari Haji Oemar Said Tjokroaminoto itu, memiliki peranan penting dalam skala nasional maupun global.

Ir. H. Soekarno pernah menginjakkan kaki di kabupaten yang konon sebagai lumbung pangan dan energi ini. Kira-kira, apa yang dilakukan Pemimpin Besar Revolusi Indonesia kala itu?

Sebelum melakukan penulisan sejarah atau historiografi, ada beberapa tahap yaitu heuristik/pengumpulan sumber, verifikasi/kritik sumber, interpretasi/penafsiran kemudian tahap historiografi/penulisan.

Tulisan kali ini sederhana, Nabs, sesuai dengan mazhab Jurnaba yaitu mengabarkan degup kebahagiaan secara santuy dan sederhana, hehehe.

Sulitnya mencari data di Bojonegoro

Ketika menggali data-data Bung Karno pinarak Bojonegoro, banyak cara yang bisa ditempuh. Pancal sepedanem tok Dinas Perpustakaan dan Kearsipan yang beralamat di Jalan Patimura, mencari sumber di dunia maya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) yang berdiri di Jalan Teuku Umar, kantor surat kabar, dan lain-lain.

Ketika berkunjung ke tempat-tempat yang telah disebutkan di atas, wabilkhusus di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, sedia payung sebelum hujan Nabs, wqwqwq. Maksudnya jika berangkat dari rumah, warung kopi, dan sebagainya seyogianya memiliki amunisi yang cukup untuk berkunjung ke gedung kecil berlantai dua yang menyimpan khazanah peradaban Bojonegoro dari masa ke masa itu.

Baca juga: Tingkatkan Minat Baca Pelajar di Bulan Kunjungan Perpustakaan Bojonegoro

Tak jarang hujan pertanyaan akan menerpamu, Nabs, apalagi kalau mencari dokumen primer. Daripada menimbulkan kebingungan yang disebabkan pertanyaan antara pengunjung dan pengelola yang tak menemukan titik terang, alangkah baiknya memiliki bekal yang cukup untuk melangkahkan kaki ke sana.

Selain di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, kamu juga bisa mencari informasi tentang jejak Bung Karno di Bojonegoro dengan silaturahmi ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) yang berada satu jalan dengan gereja legendaris di Bojonegoro yaitu Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU). Biasanya di Disbudpar terdapat juga koleksi buku tentang sejarah Bojonegoro.

Setelah secercah cahaya datang tentang jejak Bung Karno pinarak Bojonegoro, beragam respon muncul. Ada yang memiliki niatan lebih untuk menggali ke sumber-sumber lain agar memperoleh sumber lebih secara kuantitatif maupun kualitatif. Ada juga yang tidak sabar, dan dengan kecepatan Sonic the Hedgehog, ingin berkunjung ke tempat dimana suatu sumber memberikan keterangan.

Mengingat kali ini kita dalam bahasan Bojonegoro City Heritage, akan lebih ke Kecamatan atau daerah Kota Bojonegoro dan memorabilia Bung Karno pinarak Bojonegoro. Tersimpan khazanah sejarah dan budaya. Peran Pemerintah juga penting terkait pengelolaan, publikasi, dan sosialisasi.

Atau malah dibiarkan begitu saja, dijual ke pihak lain, ketika ada masyarakat bertanya kemudian petugas berwenang kurang bisa menggambarkan dan ghirah untuk belajar plus mendalami tak ada, dan lain-lain.

Saat Bung Karno berada di Bojonegoro

Tenang Nabs, kalau memang dinas-dinas itu tak paham, tak apa-apa. Tak masalah. Jurnaba.co akan menjelma menjadi pusat studi seni dan budaya Bojonegoro, dan menemanimu menjelajah Kota Bojonegoro di masa lalu, sebagai bukti rasa cinta kami yang teramat indie pada negara, wabilkhusus Kota Bojonegoro.

Berdasar buku yang ditulis Willem Oltmens berjudul Mijn vriend Sukarno (Bung Karno Sahabatku), bapak presiden pergi ke Bojonegoro tanggal 9 Juli 1957 bersama istri ke-empatnya, Hartini. Salah satu rumah di Jalan Panglima Sudriman (Pangsud) pernah menjadi tempat bermalam Soekarno untuk mengadakan rapat raksasa di Alun-Alun Bojonegoro.

Kedatangan Bung Karno tentu juga melakukan koordinasi dengan pemerintah Bojonegoro. Dimana pada waktu itu sistem pemerintahan di daerah-daerah belum begitu teratur, dan Indonesia di sekitar awal kemerdekaan.

Baca juga: Hari Ibu dan Pesan Bung Karno tentang Perempuan

Dalam buku Sejarah Kabupaten Bojonegoro (1988), dijelaskan bahwa sejak 25 Februari 1950 seluruh daerah Provinsi Jawa Timur telah pulih kembali. Samadikoen sebagai gubernur Jawa Timur mulai saat itu mempunyai tanggung jawab penuh atas jalannya pemerintahan dan kesejahteraan rakyat.

Menurut UUD 1945 Bab VI, pasal 18 tentang pembagian daerah Indonesia atas dasar besar dan kecil, maka lahir pemerintah daerah yang bersifat otonomi. Sejak saat itu Kab. Bojonegoro menjadi daerah otonom.

Status itu berlangsung sampai sekarang mesikpun nama daerah sering berganti, pernah sebagai Daerah Swatantra, Daerah Swatantra Tingkat II, dan Kabupaten Dati II Bojonegoro dimana bupati sebagai kepala daerah.

Willem Leonard Oltmens adalah jurnalis dan penulis dari Belanda. Tulisan Willem yang menggambarkan bagaimana situasi dan kondisi ketika Bung Karno pinarak Bojonegoro bisa kamu lihat di Digitale Bibliotheek voor de Nederlandse Lettern (DBNL). Willem Oltmens juga memberikan gambaran tentang Bojonegoro yaitu sebuah kota kecil yang nyaman di Jawa Timur.

Bupati Bojonegoro tahun 1957 yaitu Raden Baruno Djojoadikusumo. Di bawah kepemimpinannya di tahun 1955-1959, dimana sang kreator Manipol USDEK yang merupakan akronim dari Manifesto Politik, Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia tersebut pinarak Bojonegoro. Kemudian pada tahun 1959-1960, Raden Soejitno sebagai bupati menggantikan R. Baruno Djojoadikusumo.

Di masa Raden Soejitno, perbedaan tentang ideologi Pancasila terjadi. Maka dari itu, program R. Soejitno lebih kepada meningkatkan kerjasama agar saling mengerti dari kalangan dan ormas dengan pemerintah daerah.

Itulah, Nabs, sedikit gambaran tentang Bojonegoro City Haritage dan ketika Bung Karno Pinarak Bojonegoro. Di mana warisan kota Bojonegoro sangatlah kaya, salah satu di antaranya tempat di mana Bung Karno pernah menginap di sebuah rumah dengan gaya arsitektur kolonial (Belanda) yang khas di Jalan Panglima Sudirman.

Menjadi saksi bisu Paduka Jang Mulia (PJM) Soekarno menginjakkan kaki di kabupaten yang konon menjadi lumbung pangan dan energi ini, bagaimana nasib data dan beberapa warisan bangunan bersejarah lain yang tersebar di Kota Bojonegoro?

Tags: Bung KarnoPinarak BojonegoroSoekarno
Previous Post

Perpanjangan Waktu Pelunasan Utang Piutang dalam Perspektif Hukum Islam

Next Post

SD Muhammadiyah 3 ICP Sumberrejo Helat Wisuda dengan Meriah

BERITA MENARIK LAINNYA

Yanto Penceng, Seniman Serbabisa dari Gang Sedeng Bojonegoro
Figur

Yanto Penceng, Seniman Serbabisa dari Gang Sedeng Bojonegoro

13/12/2025
Terimakasih, Prof. Dr. Fuad Hasan!
Figur

Terimakasih, Prof. Dr. Fuad Hasan!

12/12/2025
Prof. Dr. Abdus Salam, Ilmuwan Muslim Pertama yang Meraih Hadiah Nobel Fisika
Figur

Prof. Dr. Abdus Salam, Ilmuwan Muslim Pertama yang Meraih Hadiah Nobel Fisika

02/12/2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Di Antara Lapar dan Debu

Di Antara Lapar dan Debu

18/02/2026
Warga Desa Trucuk Antusias Mengikuti Praktik Pengelolaan Sampah Untuk Menambah Penghasilan Rumah Tangga

Warga Desa Trucuk Antusias Mengikuti Praktik Pengelolaan Sampah Untuk Menambah Penghasilan Rumah Tangga

18/02/2026
Cahaya di Ufuk Barat: Kisah Perburuan Hilal Awal Ramadhan dari Masa ke Masa

Cahaya di Ufuk Barat: Kisah Perburuan Hilal Awal Ramadhan dari Masa ke Masa

18/02/2026
‎Sejarah Desa Mori, Jejak Tionghoa di Kelokan Bengawan

‎Sejarah Desa Mori, Jejak Tionghoa di Kelokan Bengawan

17/02/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: