Jika kursi pelatih timnas Indonesia diberikan kepada Juergen Klopp, mampukah arsitek asal Jerman itu mampu langsung membawa tim Garuda jadi juara AFF Cup?
Intrik kembali terjadi di persepakbolaan nasional. Kali ini lagi-lagi terkait pelatih timnas Indonesia. Terjadi keributan antara pelatih timnas Indonesia asal Korea Selatan, Shin Tae Yong, dengan PSSI sebagai federasi sepakbola Indonesia.
Semua berawal dari wawancara Shin Tae Yong bersama dengan media Korsel. Dalam wawancara tersebut, Shin mengeluarkan segala macam uneg-unegnya mengenai tidak professionalnya PSSI.
Mulai dari target muluk yang mustahil direalisasikan, tidak didukungnya program dari Shin Tae Yong, hingga PSSI yang dianggap tak konsisten dengan ucapannya.
Baca juga: Balada Timnas Indonesia dan Segala Macam Permasalahannya
Salah satu keluhan utama dari Shin Tae Yong adalah ditolaknya program pemusatan latihan di Korea Selatan. Shin berharap Timnas Indonesia mengadakan pemusatan latihan di Korea Selatan. Dia menganggap situasi Korsel lebih kondusif dalam pandemi corona dibandingkan Indonesia.
“Saya meminta pendapat asosiasi mengenai hal ini, dan saya sudah menyusun road map ini dan akan memperjuangkannya. Sepertinya saya akan pergi [ke Indonesia] pada awal atau pertengahan Juli, tetapi di Indonesia banyak orang yang dikonfirmasi [mengidap covid-19], jadi tidak mudah untuk menentukan tanggal,” ucap Tae Yong dikutip dari Hankyung.
PSSI pun merespons dengan keras komentar Shin di media Korea Selatan tersebut. Dengan tegas, PSSI mengatakan jika Shin Tae Yong tidak professional dan tidak etis.
Baca juga: Jasa Besar Indra Sjafri untuk Masyarakat Bojonegoro
Salah satu “serangan” balasan dilancarkan oleh Indra Sjafri yang berstatus sebagai Direktur Teknik Timnas. Indra Sjafri mengatakan jika Shin terlalu banyak bicara dan membuat aneka alasan untuk menutupi ketidakmampuannya mencapai target yang telah dicanangkan.
“Dia ini sebenarnya banyak alasan saja, karena tak yakin bisa memenuhi target berat yang dibebankan federasi kita. PSSI ingin timnas senior Juara Piala AFF 2020, memperbaiki peringkat FIFA, serta Timnas U-19 berprestasi di Piala Dunia U-20 2021,” jelas Indra Sjafri melalui website resmi PSSI.
Dalam penjelasan Indra Sjafri, diketahui pula bahwa pernah ada friksi antara Shin dengan eks pelatih Timnas U-19 tersebut. Tak mengherankan jika Indra Sjafri yang biasanya dikenal kalem dan santai, tiba-tiba jadi berapi-api.
Susahnya Mencari Pelatih untuk Timnas Indonesia
Salah satu permasalahn pelik yang dialami oleh timnas Indonesia adalah pelatih. Sangat sulit untuk mencari pelatih yang cocok dengan kemauan PSSI.
Contohnya bisa diambil dari kasus Luis Milla. Pelatih asal Spanyol tersebut sempat membawa Indonesia tampil ciamik dengan permainan indahnya. Namun, karena gagal mempersembahkan trofi dan gelar, Luis Milla didepak.
PSSI nampaknya lebih senang dengan hasil instan daripada proses panjang. Jika saja Luis Milla tetap bertahan, pondasi yang sudah dibangunnya di timnas Indonesia akan semakin kokoh.
Sayang, PSSI lebih memilih untuk mencari pelatih baru. Sosok yang ditunjuk kemudian adalah Shin Tae Yong. Eks pelatih timnas Korea Selatan yang pernah mengalahkan Jerman di Piala Dunia 2018.
Baca juga: Shin Tae-Young, Filanesia dan Masa Depan Sepakbola Indonesia
Setali tiga uang, Shin Tae Yong juga tetap tak bisa memuaskan PSSI. Shin dianggap terlalu banyak mengeluh dan kemudian dianggap tak mampu mencapai target yang sudah dicanangkan.
Pengamat sekaligus komentator sepakbola, Pangeran Siahaan memberi komentar mengenai intrik antara Shin Tae Yong dan PSSI. Pange – sapaan akrabnya merasa jika siapapun pelatihnya, pasti bakal kesulitan menangani timnas Indonesia.
“Mau bikin tim pelatih Guardiola+Klopp+Mourinho plus kombinasi jelangkung arwah Rinus Michels + Bela Guttmann dan tag team ouija board dengan Hellenio Herrera gak akan menyelesaikan sengkarut sepakbola kita. Bikin Indonesia berprestasi lebih dari urusan siapa pelatihnya,” tulis Pange dalam akun Twitternya.
Sindiran Pangeran Siahaan ini memang benar adanya. Membuat timnas Indonesia berprestasi lebih dari urusan siapa pelatihnya. Sistem dari bawah harus dibenarkan lebih dulu. Kompetisi juga dibikin sehat. Pengurusnya pun harus kredibel.
Dengan kondisi seperti ini, siapapun pelatihnya, prestasi timnas Indonesia mungkin akan begini-begini saja. Seorang Juergen Klopp atau Jose Mourinho pun bakal kesulitan untuk membawa Indonesia berjaya di level Asean dengan kondisi sepakbola Indonesia macam sekarang. Asean lho Nabs, bukan Asia.








