Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Ramadhan di Caltech: Menikmati Puasa Bersama Penerima Hadiah Nobel Kimia

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
06/03/2025
in Figur
Ramadhan di Caltech: Menikmati Puasa Bersama Penerima Hadiah Nobel Kimia

Prof. Dr. Ahmed H. Zewail (1946 - 2016)

Ramadhan bersama penerima Hadiah Nobel Kimia, adalah perpaduan sempurna antara sains dan spiritualitas, antara kecerdasan dan kerendahan hati, antara tradisi dan inovasi.

Langit Pasadena, California, Amerika Serikat, pagi itu masih terselubung kabut tipis, memantulkan cahaya jingga lembut: seolah menyapa bulan Ramadhan dengan kelembutan yang tak terucap. Di tengah keheningan yang menyejukkan, saat itu California Institute of Technology (Caltech), kampus bergengsi yang menjadi rumah bagi para pemikir brilian dari seluruh penjuru dunia, tampak tenang.

Di antara gedung-gedung megahnya, saat itu, ada satu nama yang berpendar laksana bintang di langit malam: Prof. Dr. Ahmed Hassan Zewail, peraih Nobel Kimia tahun 1999, Bapak Femtokimia—seorang ilmuwan yang karyanya telah mengubah cara kita memahami semesta alam.

Ahmed Hassan Zewail lahir pada 26 Februari 1946 di Damanhur, Mesir, dari keluarga sederhana. Ayahnya, seorang pegawai negeri, menanamkan nilai-nilai kerja keras dan kesederhanaan. Sejak kecil, Zewail telah menunjukkan ketertarikan yang mendalam terhadap sains. Terutama, selepas ia menemukan buku-buku ilmiah di perpustakaan lokal.

Selepas merampungkan pendidikan sarjananya di Universitas Alexandria pada tahun 1967, Zewail muda memulai karier akademisnya sebagai asisten dosen di almamaternya. Namun, dorongan untuk mengembangkan diri membawanya melangkah lebih jauh—ke Amerika Serikat. Di sana, ia meraih gelar PhD di University of Pennsylvania pada tahun 1974, dengan disertasi yang membahas spektroskopi molekul dengan menggunakan teknik laser ultra-cepat.

Karier Zewail kian melesat ketika ia bergabung dengan Caltech pada tahun 1976. Di institut bergengsi tingkat dunia ini, ia mengembangkan femtokimia—sebuah bidang yang memungkinkan para ilmuwan mengamati reaksi kimia dalam skala waktu femtodetik (sepersejuta miliar detik). Penemuan ini mengantarkannya meraih Hadiah Nobel Kimia pada tahun 1999. Juga, menjadikannya ilmuwan Muslim pertama yang meraih penghargaan bergengsi di bidang tersebut.

Namun, warisan Prof. Dr. Ahmed Hassan Zewail tidak hanya terbatas pada penemuan ilmiahnya. Ia juga meninggalkan jejak inspirasi bagi generasi muda. Ia mendirikan Zewail City of Science and Technology di Kairo, Mesir, sebuah institusi yang dirancang untuk menjadi pusat keunggulan dalam sains dan teknologi. Mirip dengan Caltech.

Ilmuwan yang juga penerima King Faisal Prize dan sederet panjang penghargaan ini berpulang pada 2 Agustus 2016 di Pasadena, California, pada usia 70 tahun. Jenazahnya kemudian dibawa ke Kairo dan dikebumikan dengan upacara kemiliteran penuh kebesaran.

Namun, warisannya tetap hidup melalui karya-karyanya, murid-muridnya, dan institusi yang ia dirikan. Ia adalah bukti nyata bahwa sains dan iman dapat berjalan beriringan. Juga, bahwa mimpi, kerja keras, serta keyakinan dapat mengantarkan seseorang menuju puncak keberhasilan.

Lantas, bagaimanakah sang profesor, yang lahir di sebuah kota kecil Mesir, ini menyambut Ramadhan di Caltech?
Hari itu, pukul 07.00 pagi, Prof. Dr. Ahmed H. Zewail telah berada di ruang kerjanya. Ruang itu bagaikan miniatur pikirannya: dipenuhi buku, jurnal ilmiah, dan sederet penghargaan bergengsi. Namun, yang paling menarik perhatian adalah Alquran kecil yang terletak di meja kerjanya. Kitab Suci itu bersanding dengan buku-buku tebal tentang kimia dan fisika.

“Selamat pagi,” sambutnya dengan senyum hangat kepada seorang mahasiswa Muslim yang datang mengunjunginya. “Anda tentu tahu, kini kita berada di bulan Ramadhan. Ramadhan adalah waktu yang istimewa. Ini saatnya kita memperlambat diri, merenung, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Namun, di sini, di Caltech, kita juga punya misi lain: memahami ciptaan-Nya.”

Prof. Dr. Ahmed H. Zewail kemudian mengajak sang mahasiswa berkeliling di seputar laboratoriumnya, tempat ia dan timnya melakukan eksperimen-eksperimen yang mengubah cara kita melihat dunia. “Femtokimia,” katanya, “adalah tentang memahami reaksi kimia dalam skala waktu yang sangat kecil, femtodetik. Ini seperti mencoba memahami kehendak Tuhan dalam setiap detil ciptaan-Nya.”

Ketika waktu shalat Zuhur tiba, matahari bersinar terik. Namun, laboratorium Prof. Dr. Ahmed H. Zewail tetap sejuk. Di sini, waktu seolah melambat—sesuai dengan semangat Ramadhan. Ia menjelaskan bagaimana teknologi laser ultra-cepat memungkinkan kita “mengambil foto” atom dan molekul dalam gerakan mereka. “Bayangkan Anda bisa melihat bagaimana sebuah molekul berubah dari satu bentuk ke bentuk lain. Seolah, Anda menonton film slow motion,” katanya, dengan mata berbinar. “Ini seperti membuka pintu baru ke dunia yang sebelumnya tak terlihat.”

Di tengah kompleksitas penjelasan yang dikemukakan Prof. Dr. Ahmed H. Zewail, sejatinya ada keindahan yang tak terungkapkan. Ini bukan hanya sains. Ini adalah seni. Sebuah simfoni atom dan cahaya yang dinyanyikan dalam bahasa matematika. Namun, yang lebih mengagumkan adalah bagaimana Prof. Zewail menjalani puasa dengan penuh kesabaran dan semangat dalam suasana yang demikian. “Puasa mengajarkan kita disiplin dan ketahanan,” katanya. “Dua hal yang juga sangat penting dalam sains.”

Saat matahari mulai turun, mereka berjalan-jalan di taman kampus. Prof. Dr. Ahmed H. Zewail bercerita tentang masa kecilnya di Mesir, tentang bagaimana ia terinspirasi oleh keindahan alam dan keinginan untuk memahami rahasianya. “Saya selalu percaya bahwa tidak ada pertentangan antara sains dan agama,” katanya. “Keduanya adalah jalan untuk mencari kebenaran.”

Prof. Dr. Ahmed H. Zewail juga bercerita tentang tantangan yang dihadapi para ilmuwan Muslim di Dunia Barat. “Terkadang, orang sulit memahami bagaimana saya dapat menjadi seorang ilmuwan sekaligus seorang Muslim yang taat,” katanya. “Namun, bagi saya, keduanya justru saling melengkapi. Sains membantu saya memahami bagaimana alam semesta bekerja. Sementara iman memberi saya makna di balik semua itu.”

Pukul 18.30, azan Maghrib berkumandang. Mereka pun menuju ruang makan kecil di dekat laboratorium, di mana beberapa mahasiswa Muslim Caltech lain sudah berkumpul untuk berbuka puasa. Hidangan sederhana disajikan: kurma, air putih, dan beberapa makanan khas Timur Tengah. Prof. Zewail memimpin doa dengan suara yang tenang, namun penuh kekuatan.

Saat itu, tampak bahwa di balik kecerdasannya yang luar biasa, ada kerendahan hati dan rasa syukur yang mendalam. “Ramadhan adalah waktu untuk berbagi,” katanya sambil menyantap hidangan iftar. “Baik itu berbagi ilmu, pengalaman, atau sekadar makanan sederhana seperti ini.”

Setelah iftar, mereka kembali ke ruang kerjanya. Prof. Dr. Ahmed H. Zewail menunjukkan beberapa proyek terbarunya. Termasuk inisiatif untuk memajukan pendidikan sains di Timur Tengah. “Ilmu pengetahuan adalah warisan terbesar yang dapat kita tinggalkan untuk generasi mendatang,” katanya.

Saat mereka bersiap pulang, Prof. Dr. Ahmed H. Zewail memberikan kepada mereka sebuah buku yang ia tulis sendiri, Voyage Through Time: Walks of Life to the Nobel Prize. “Bacalah ini,” katanya. “Ini bukan hanya tentang sains. Namun, juga tentang mimpi, kerja keras, dan keyakinan.”

Menikmati Ramadhan di Caltech bersama Prof. Dr. Ahmed H. Zewail bukan hanya tentang memahami femtokimia atau menyaksikan rutinitas seorang ilmuwan brilian. Hal ini juga tentang melihat bagaimana sains dan spiritualitas dapat berjalan beriringan, bagaimana kecerdasan dan kerendahan hati bisa bersatu, dan bagaimana seorang manusia dapat meninggalkan jejak yang abadi di dunia.

Ramadhan di Caltech, bersama sang penerima Hadiah Nobel Kimia, adalah perpaduan sempurna antara sains dan spiritualitas, antara kecerdasan dan kerendahan hati, antara tradisi dan inovasi. Di sini, di tengah gedung-gedung megah dan laboratorium sangat canggih, nilai-nilai Ramadhan tetap hidup dan menginspirasi.

Bersama Prof. Dr. Ahmed H. Zewail dan komunitas Muslim Caltech, kita belajar bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Namun, juga tentang memperkaya hati dan pikiran, tentang berbagi dan menginspirasi, dan tentang mencari kebenaran dalam setiap detik waktu yang kita miliki!

 

Tags: Catatan Rofi' UsmaniMakin Tahu IndonesiaTadarus Ramadhan
Previous Post

Kehidupan Bahagia dan Sederhana dengan Menikmati Masakan Ibu lalu Bertukar Cerita

Next Post

Etnografi, Metoda Panen Kearifan dari Khazanah Lokal (1)

BERITA MENARIK LAINNYA

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia
Figur

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia

26/03/2026
Fazlur Rahman Khan, Sosok di Balik Lahirnya Terminal Haji Jeddah
Figur

Fazlur Rahman Khan, Sosok di Balik Lahirnya Terminal Haji Jeddah

20/03/2026
Bruno Guiderdoni: Keseimbangan Sains, Quran, dan Iman
Figur

Bruno Guiderdoni: Keseimbangan Sains, Quran, dan Iman

18/03/2026

Anyar Nabs

Batu Bara dan Piring Kosong

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: