Malioborone wong Jonegoro (Maliogoro), begitu Jurnaba.co mentakwil atmosfer jejalanan yang sedang viral di Kota Bojonegoro saat ini.
Jalan MH Thamrin Bojonegoro yang selama ini terkesan gelap nan sepi, kini berubah ramai dipenuhi banyak pengunjung. Ini dampak dibangunnya destinasi wisata tengah kota yang baru saja usai beberapa waktu lalu.
Maliogoro jadi tempat wisata alternatif di Bojonegoro. Lokasinya pun tak hanya di jalan MH Thamrin. Hampir semua jalan di Kota Bojonegoro, kini sudah mengandung unsur Malioboro. Namun, yang paling ramai memang MH Thamrin.
Tiap temaram jelang malam, bermacam kendaraan terpakir rapi di pinggir trotoar jalan MH Thamrin Bojonegoro. Selain motor dan mobil pribadi, bahkan banyak juga angkutan ber-plat kuning yang ikut menata diri di wilayah itu. Artinya, banyak rombongan dari berbagai desa di Bojonegoro, yang berbondong-bondong hadir ke jalan MH Thamrin.
Keberadaan MH Thamrin sebagai destinasi wisata urban, tentu menarik. Ini bisa dimaknai sebagai langkah cerdas dalam menyiasati minimnya tempat wisata berbasis gegunungan dan pepantaian di Kota Bojonegoro.
Bojonegoro gencar membangun trotoar sejak 2019. Pada akhir 2021, hampir semua jalan protokol di Kota Bojonegoro sudah berparas cantik. Hampir tak ada lagi jalan yang terkesan kumuh nan menakutkan. Kalaupun ada, tak sebanyak sebelumnya.
MH Thamrin sebagai representasi Maliogoro, memang jadi wahana praktis bagi khalayak pekerja yang minim berwisata. Selain lokasinya tak jauh-jauh dari pusat kota, juga tersedia bermacam jajanan yang membuat pengunjung bisa dengan mudah berbelanja.
Keberadaan keramaian selalu berbanding lurus dengan perputaran ekonomi. Ini terbukti dengan banyaknya para pedagang yang berada di Maliogoro. Dan ramainya Maliogoro, tentu jadi ajang berputarnya uang. Jadi ajang mencari nafkah bagi banyak masyarakat.
Namun, ada satu hal yang harus jadi perhatian bersama. Bahwa masyarakat punya sisi psikologis mudah bosan. Jangan sampai Maliogoro gegap gempitanya hanya sesaat. Serupa Taman Rajekwesi, Jembatan Sosrodilaga, dan sejumlah taman-taman sepi lainnya.
Pemkab harus pandai merawat Maliogoro sebagai khazanah wisata urban yang menyenangkan. Yang tak mudah membuat pengunjung cepat bosan. Terutama soal keamanan dan kenyamanan pengunjung.
Jangan sampai lokasi yang disebut sebagai Alun-alun kedua ini, jadi sepi hanya karena pengunjung kurang merasa aman akibat motor yang suka blayer-blayeran.








