Umum bagi ulat saat memakan dedaunan, langsung memakannya saja. Tapi tidak bagi ulat ini, ia meminta izin pada daun, sebelum memakannya.
Seperti yang sedang sampean saksikan: jangankan para pengendara—yang berada dalam—mobil, bahkan para pengendara motor yang berlalu-lalang di jalan raya itu pun sepertinya sejak tadi tidak memberi kesempatan bagi kupu-kupu itu menyeberang jalan.
Maka inilah yang terjadi kemudian: tekanan angin dari sebuah bus patas yang melaju cukup kencang menghempaskan tubuhnya menepi hingga masuk ke dalam warung makan di pinggir jalan raya itu.
Sejurus kemudian, saat hendak keluar melalui pintu yang terbuka cukup lebar itu, karena berpapasan dengan seseorang, ia terbang meliuk ke samping kanan. Namun malang, saat ia meluncur ke depan, sekonyong-konyong tubuhnya merasa menabrak sesuatu, sedang matanya tidak dapat melihat apa yang menghalanginya itu.
** **
Adakalanya kedatangan seorang teman tidak membuat seseorang merasa senang, malah sebaliknya—seperti yang dialami oleh lelaki itu di pagi menjelang siang ini. Seperti yang sampean lihat tadi, ia sedang “lembur” merampungkan pekerjaan yang kerap ia tunda-tunda (salah sendiri suka menunda-nunda).
Namun kemudian, karena teringat Kanjeng Nabi mengajarkan umatnya untuk menghormati tamu (terlebih tamunya seorang teman), ia berusaha menepis rasa tidak senangnya tersebut untuk kemudian menyambutnya, lalu menyiapkan dua gelas kopi untuk mereka. Bahkan beberapa saat kemudian, seusai ngobrol ngalor-ngidul, saat temannya itu mengajaknya keluar untuk makan siang, ia pun mengiyakan.
** **
Umum bagi para ulat saat akan memakan dedaunan, langsung memakannya saja. Karena menurut mereka dedaunan adalah makanan yang diciptakan Gusti Allah Yang Maha Pemurah bagi mereka.
Namun tampaknya itu tidak berlaku bagi seekor ulat berbulu jembrang- jembrang itu. Sampean dengar, sesampainya di dekat sekelompok pohon kecil yang tumbuh di bawah sebatang pohon mahoni di tepi jalan raya itu, ia menyatakan terlebih dahulu bahwa apakah ada diantara mereka yang bersedia dimakan dedaunannya olehnya?
Dan, betul dugaannya, rupanya tidak semua pepohonan bersedia dimakan dedaunannya dengan bermacam alasan. Ada sebatang pohon yang menyatakan bahwa ia masih dalam masa pertumbuhan; apabila dedaunannya berkurang, maka bakal berkurang hasil makanannya.
Ada juga sebatang pohon yang gigu melihat tampang ulat itu. Dan lain sebagainya. Namun demikian ada beberapa pepohonan yang menyilakan ulat itu memakan dedaunannya—sekenyangnya. Saat sebatang pohon yang enggan dimakan dedaunannya menanyakan alasan pada mereka yang bersedia dimakan dedauannya, secara kompak mereka menjawab bahwa bukankah memang sudah seharusnya sesama makhluk harus saling membantu?
Disamping itu toh si ulat tidak bakal menghabiskan dedaunan mereka. Dan memang, setelah makan satu-dua lembar daun, si ulat sudah merasa cukup kenyang. Demikianlah, untuk beberapa hari ke depan hampir selalu si ulat memakan beberapa dedaunan mereka.
** **
Berkali-kali sudah kupu-kupu itu mencoba menerjang sesuatu yang tidak tampak di depannya, namun ia tetap tidak dapat melewatinya. Sejak awal ia merasa bingung, sebetulnya apa yang menghalanginya? Setelah cukup lelah, ia berhenti sejenak—bertengger pada pojok kusen kayu warung itu.
Padahal siang ini ia berniat membantu proses penyerbukan beberapa pepohonan sembari menyecap sari kembang mereka. Tidak lama kemudian, beberapa jarak di depan tampak olehnya sepeda motor ditumpaki oleh dua orang lelaki berhenti di depan warung itu, lalu mereka berjalan memasukinya.
Sementara temannya itu menuju ke belakang untuk memesan makanan, lelaki itu langsung duduk pada bangku yang telah disediakan. Tidak lama kemudian, temannya mendatanginya lalu duduk di depannya.
Secara tidak sengaja lelaki itu menoleh ke belakang, mendapati seekor kupu-kupu kepayahan berusaha menembus kaca jendela. Ia pun segera menangkap kupu-kupu itu, membawanya keluar untuk kemudian melepaskannya sembari mengucap bismillah.
Untuk beberapa saat rasa senang menghinggapinya, dapat membantu kupu-kupu dengan keindahan sayapnya terbang hingga menyeberang jalan raya itu. Beberapa saat kemudian, sementara dua orang itu tampak mulai menikmati hidangan, beberapa jarak dari tempat itu, si kupu-kupu sampai tujuan.
Serta-merta masing-masing pepohonan kecil yang tumbuh di bawah sebatang pohon mahoni di pinggir jalan raya itu berebut saling adu suara agar si kupu-kupu menyecap sari kembangnya. Kemudian, sembari hinggap pada kembang sebatang pohon, si kupu-kupu menceritakan bahwa ia dulunya adalah seekor ulat yang kerap memakan dedaunan pohon itu.
Mendengar hal itu, pepohonan yang dahulu enggan memberinya dedaunan, pada tercengang. Mereka tidak menduga seekor ulat yang dahulu tampak menjijikan kini menjadi seekor kupu-kupu yang begitu menawan.
Di samping itu, mereka menyesal mengapa dahulu tidak membantunya, sedang kini mereka memerlukan bantuannya agar dapat menghasilkan buah. Pada awalnya memang kupu-kupu itu hanya berniat akan membantu pepohonan yang dahulu membantunya saja demi membalas jasa.
Namun, setelah ditolong oleh lelaki tersebut yang, menurutnya, menolongnya karena lillahi ta’ala—hanya karena Gusti Allah Ta’ala—ia pun berniat membantu mereka semua lillahi ta’ala. Maka setelah ia menyatakan niat tersebut yang disambut kegembiraan mereka semua, karena agaknya ia tidak mampu melakukannya sendiri, si kupu-kupu pamit pergi untuk memberitahu teman-teman sesama kupu-kupu akan keberadaan kembang-kembang itu.
Kesugihan, 22 Maret 2021








