Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Padangan Tempo Doeloe: Museum Digital dan Ensiklopedia Masa Lalu

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
28/07/2020
in Destinasi
Padangan Tempo Doeloe: Museum Digital dan Ensiklopedia Masa Lalu

Padangan Tempo Doeloe jadi satu-satunya meseum digital dan arsip ensiklopedia terbaik di Bojonegoro, setidaknya hingga tulisan ini ditulis. 

Padangan Tempo Doeloe, sejenis fanspage dengan akun anonim di Facebook. Kontennya berisi informasi remeh temeh hingga perihal amat penting yang pernah terjadi di kawasan Padangan dan sekitarnya.

Awalnya, saya mengira ia seperti akun-akun anonim di Facebook pada umumnya. Tapi Padangan Tempoe Doeloe tidak demikian. Ia teramat spesial, setidaknya di mata dan hati saya. Ia teramat spesial.

Saya mulai mengikuti unggahan-unggahan konten Padangan Tempoe Doeloe sekitar 2017 atau 2018 — tahun-tahun di mana saya mulai jarang melihat Facebook. Tapi entah kenapa, tiap kali membaca kontennya, saya selalu terpesona.

Padangan Tempoe Doeloe teramat kaya. Ibarat koleksi, ia adalah museum yang bisa menjangkau masa silam secara detail. Ibarat ensiklopedi, ia adalah perpustakaan dengan beragam tema.

Di Padangan Tempoe Doeloe, saya bisa mengetahui banyak hal. Mulai sesuatu yang amat remeh dan kadang terasa lucu, hingga sesuatu yang amat penting dan mengharukan. Padangan Tempoe Doeloe, seperti selalu membetot emosi nostalgik, tiap kali saya membacanya.

Di sana, saya bisa menemui istilah-istilah khas Padangan yang dulu saya kenal semasa kecil, tapi mulai lupa karena pergeseran dimensi ruang dan waktu.

Di sana, saya bisa menemui kuliner-kuliner khas Padangan yang dulu terasa dekat semasa kecil, tapi mulai lupa karena pergeseran dimensi waktu dan ruang.

Di sana, saya bisa menjumpai nama-nama panggilan sebuah benda khas Padangan, yang dulu amat dekat dengan saya, tapi mulai saya lupa karena pergeseran zaman.

Di sana, saya bisa menjumpai nama-nama orang yang dulu saya kenal, atau dulu sekadar saya dengar tapi belum sekalipun pernah saya temui — beserta kisah-kisah hidup mereka.

Padangan Tempoe Doeloe melintasi lebih dari satu genre informasi. Ia berdiri dengan beragam jenis informasi yang, meski kadang teramat remeh, tapi selalu membetot ingatan akan masa lalu.

Tak hanya itu, ia kadang memberi informasi yang menukik jauh di seberang belantara sejarah — sebuah dimensi waktu yang saat saya masih kecil, hanya lamat-lamat saya dengar sebagi sebuah legenda.

Baca juga: Padangan – Baureno: Batas Kota dan Peradaban Lama yang Istimewa

Pada 2017 (atau 2018?) — saat masih jadi jurnalis di media cetak, hampir tiap malam saya selalu membaca konten-konten yang ada di Padangan Tempoe Doeloe. Itu adalah perkenalan pertama saya secara mendalam dengan Padangan Tempoe Doeloe.

Saya heran sekaligus terkejut. Saya menemui banyak hal tentang masa lalu. Tentang masa kecil dan tentang gurat-gurat episode hidup saya di Padangan. Sesekali saya tertawa, sesekali mata saya sembab menahan air mata.

Pernah suatu malam, saya terharu karena membaca konten tentang kampung soto legendaris di Pengkok. Saya menangis karena saya hidup lama di sekitar tempat itu. Tapi betapa anehnya saya, yang tak pernah tahu tentang kisah tersebut.

Saya juga pernah merasa haru kala membaca kisah tentang binatu, tentang jajanan khas Padangan, tentang perpustakaan, atau tentang persewaan komik era 70-an di Padangan.

Saya merasa, betapa Padangan memang sudah keren sejak dulu kala. Dan sialnya, saya baru tahu itu. Saya sangat kagum dengan Padangan Tempoe Doeloe. Dan diam-diam, mulai mencaritahu siapa sosok di balik akun tersebut.

Admin akun Padangan Tempoe Doeloe sangat memukau dan istiqomah. Tulisannya sangat runtut dan bagus. Konten yang ditulis selalu punya sanad pada masa lalu.

Dan, lebih dari itu semua, dia pasti sosok yang “sepuh” dengan maqom kedekatan pada Padangan sangat tinggi sekaligus dalam. Saya pun mulai termotivasi untuk mencaritahu.

** **

Sependek pemahaman saya, ada dua sosok yang sangat “menguasai” arsip-arsip masa lalu di kawasan Padangan dan Cepu. Beliau berdua adalah Romo JFX Hoery dan Pak Martin Moentadhim. Saya kenal baik dengan kedua tokoh itu.

Dulu, saya sering ngobrol dan berdiskusi dengan Pak Martin. Pada Romo Hoery, bahkan kami pernah mendirikan komunitas literasi kebudayaan bernama Padangan Ranah Mekarya (Paraya). Pada keduanya, saya pernah “berguru” perihal arsip kebudayaan.

Akhir 2017 atau awal 2018 — saat saya pulang ke Padangan — saya sowan pada Romo Hoery dan bertanya tentang Padangan Tempoe Doeloe. Saya bercerita tentang kekaguman-kekaguman saya pada Padangan Tempoe Doeloe.

Saya sempat mengira jika Romo Hoery adalah sosok di balik Padangan Tempoe Doeloe. Tapi ternyata saya salah. Romo Hoery bercerita jika Padangan Tempoe Doeloe bukanlah beliau. Tapi orang lain. Wah, saya semakin penasaran.

Romo Hoery bercerita jika sosok di balik Padangan Tempoe Doeloe justru tak berada di Padangan. Ia berada di luar kota. Wah, beliau jelas bukan orang biasa, batin saya. Saya semakin penasaran dibuatnya.

Hingga pada akhirnya, Romo Hoery memberitahu saya, sosok di balik admin Padangan Tempoe Doeloe adalah penulis gaek dan mantan jurnalis Tempo, Pak Zed Abidien — sosok yang kini tinggal di Mojokerto.

** **

Sejak mengenal Padangan Tempoe Doeloe, sebagai lelaki yang lahir di Kuncen dan tumbuh besar di Pengkok — dua kawasan yang menjadi “punjer” Padangan — saya merasa banyak hal yang tak saya ketahui tentang Padangan itu sendiri.

Fanspage yang eksis circa 2015 atau (2016?) itu, memberi satu pesan penting pada saya, bahwa Padangan memang sudah spesial sejak zaman dulu. Padangan adalah Kawedanan, bukan sekadar kecamatan. Dan saya tahu itu di Padangan Tempoe Doeloe.

Pak Zed Abidien, sosok di balik Padangan Tempoe Doeloe, adalah sosok yang diam-diam amat saya kagumi, meski hingga tulisan ini saya tulis, saya belum pernah berjumpa dan berkomunikasi dengan beliau.

Bagi saya, Pak Zed Abidien adalah Orhan Pamuk. Sementara Padangan Tempoe Doeloe adalah Istanbul: Memories and the City-nya. Berkat Pak Zed Abidien, saya tahu bahwa Padangan adalah Turki dengan kejayaan masa lalunya.

Tentu saya sangat ingin berjumpa Pak Zed Abidien. Saya sangat kagum dan sangat ingin bertemu. Dan satu hal yang akan saya lakukan saat menjumpai beliau, saya ingin salim nyucup di tangan beliau — layaknya wujud takzim anak muda Padangan pada orang yang lebih sepuh secara usia ataupun ilmu.

Maafkan kami — generasi penerus Padangan — yang baru tahu dan menyadari betapa besar dan hebatnya Padangan sebagai lumbung kebudayaan masa silam. Dan terimakasih sebesar-besarnya. Terimakasih telah merawat ingatan kami, untuk selalu mengingat asal-usul, di manapun kami berada.

Semoga Padangan Tempoe Doeloe terus hadir dan menyambung ikatan psikologis pada tiap-tiap generasi. Sebab, Padangan Tempo Doeloe menjadi satu-satunya meseum digital dan arsip ensiklopedia terbaik di Bojonegoro atau Jawa Timur, menurut saya secara pribadi.

Tags: Museum dan EnsiklopediaPadanganPadangan Tempoe Doeloe
Previous Post

Transportasi Umum dan Perjalanan Jauh ke Dalam Diri

Next Post

Mencicipi Nasi Boran Khas Lamongan

BERITA MENARIK LAINNYA

Mesquita De La M-30: Masjid dan Pusat Budaya Islam di Madrid Spanyol
Destinasi

Mesquita De La M-30: Masjid dan Pusat Budaya Islam di Madrid Spanyol

09/04/2026
‎Baabus Shofa, Masjid dengan Pintu yang Selalu Terbuka
Destinasi

‎Baabus Shofa, Masjid dengan Pintu yang Selalu Terbuka

06/04/2026
‎Waduk Norjo, Wisata Nggawan Kembar di Bojonegoro
Destinasi

‎Waduk Norjo, Wisata Nggawan Kembar di Bojonegoro

29/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: