Berkorban amat berat dan sulit dilakukan. Karena itu, pernah ditakdir berkorban secara ikhlas adalah privilese yang tak dimiliki semua orang. Hanya orang-orang mulia yang mampu melakukannya.
Dashrath Manjhi hidup di Gehlore, sebuah desa kecil di India. Suatu saat, istri tercinta Manjhi jatuh sakit. Karena jarak tempuh rumah dan Rumah Sakit sangat sulit dan terpisah gunung, istri Manjhi tak mendapat perawatan memadai hingga akhirnya wafat.
Marah dan kecewa dan terpukul, Manjhi pun memahat dan membuka jalan selebar 9,1 x 110 meter dengan cara memahat dan membelah gunung menggunakan kedua tangannya dan alat pahat. Tanpa mesin. Tanpa bantuan orang lain.
Manjhi menyelesaikan pembelahan gunung itu selama 22 tahun. Dari 1960 hingga 1983. Dia sempat dianggap gila. Namun, sesungguhnya, dia hanya ingin membuka akses dan tak ingin orang di desanya merasakan kehilangan seperti yang dia alami.
Kisah Manjhi abadi. Bahkan diangkat menjadi sebuah film berjudul The Mountain Man besutan sutradara Ketan Mehta. Hingga kini, nama Manjhi dikenang sebagai seorang pahlawan yang penuh dedikasi.
Kita tak pernah tahu, betapa banyak luka dan tetes darah di telapak tangan Manjhi saat memahat sedikit demi sedikit batu gunung tersebut menjadi sebuah jalan yang kini bisa dilintasi banyak orang. Yang kita tahu, apa yang dilakukan Manjhi adalah sebuah pengorbanan.
Pengorbanan berasal dari kata korban. Sesuai kaidah KBBI, pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Berkorban, berarti menderita kerugian. Ia sebuah kerelaan yang mungkin cukup berat.
Sometimes when you sacrifice something precious, you’re not really losing it. You’re just passing it on to someone else. Begitu kata Mitch Albom, penulis yang buku-bukunya selalu menyentuh hati itu.
Siapa yang rela kehilangan? Manusia punya kehendak hewani untuk memiliki segalanya. Terlebih, sesuatu yang dianggap berharga. Dan saat apa yang dianggap berharga itu hilang, kau tahu, ngilunya sangat mendera.
Ketika mengorbankan sesuatu yang amat berharga, kata Mitch Albom, sesungguhnya kita tak pernah benar-benar kehilangan. Kita hanya memberikannya pada orang lain. Sialnya, memberi adalah sifat manusia yang sulit dimengerti sisi hewan kita.
Sebagai hewan yang sesekali punya akal dan sok-sokan punya perasaan, manusia seperti kita memang sering kehilangan kemampuan untuk memberi dan merelakan, terutama saat apa yang kita miliki dicabut secara mendadak.
Ilustrasinya, saat seseorang mencabut bulu kakimu secara mendadak; kau akan tertawa jika kau merelakannya. Tapi, kau bisa membakar seisi rumah jika kau tak merelakannya. Itu contoh betapa merelakan adalah sifat yang nisbi amat susah dijalankan.
Sydney Carton, tentu tokoh rekaan Charles Dickens yang mampu mengajarkan pada kita semua bagaimana rasanya berkorban. Siapapun, barangkali, akan menangis membaca kisah tentang pengorbanan Sydney Carton pada Lucie Manette dalam novel legendaris A Tale of Two Cities.
“For you, and for any dear to you, I would do anything. I would embrace any sacrifice for you and for those dear to you… There is a man who would give his life, to keep a life you love beside you”
Saya kira, tak ada orang yang dadanya tidak sesak membaca ucapan Carton pada Lucie tersebut. Tak semua lelaki sanggup menjalani pengorbanan serupa apa yang dilakukan Carton pada Lucie.
Pengorbanan identik terluka dan rasa merugi. Karena itu, jika hidup hanya dimaknai sebagai proses pergeseran untung-rugi, tak akan pernah ada manusia yang mau dan mampu berkorban, apalagi merelakan dan mengikhlaskan.
Lelaki memang identik berkorban dan mengikhlaskan. Itu alasan kenapa lelaki disunat. Agar sejak kecil mereka tahu bagaimana cara mengemas luka dan kehilangan sebagai wasilah keikhlasan.
Tiap Idul Adha, kita selalu berupaya merenungi bagaimana mengurbankan hewan qurban. Tapi, pernahkah kita membayangkan bagaimana rasanya menjadi hewan qurban yang disembelih keinginan dan cita-citanya?
Terkadang, untuk melakukan pengorbanan, seseorang harus mengenal rasa luka dan kehilangan lebih dulu. Sebab, barangkali, hanya dengan itu, keberanian berkorban bisa muncul.
Pengorbanan teramat berat dan sulit dilakukan. Karena itu, pernah ditakdir melakukan pengorbanan secara ikhlas adalah privilese yang tak dimiliki semua orang. Hanya orang-orang mulia yang mampu melakukannya.








