Pesanggrahan dalam Konteks Sejarah Kolonial, sering kali merujuk pada rumah peristirahatan atau penginapan milik pemerintah, dalam berbagai dokumen masa kolonial, seperti majalah, surat kabar, dan iklan, istilah “pasanggrahan” sering digunakan untuk merujuk pada jenis tempat istirahat.
Salah satu contoh penting adalah Pesanggrahan Klino, yang terletak di Desa Klino, Kecamatan Sekar. Tempat ini menjadi saksi ambisi pemerintah kolonial dalam mengembangkan kawasan wisata berbasis ekologi dan geologi, terutama di sekitar Gunung Gede (atau dikenal dengan nama Pandan).
Baca Juga: Pandan Foundation, Merawat Ekosistem Gunung Purba
Menurut majalah Hindia Belanda Pasanggrahans in Nederlandsch-Indië 1929, beberapa lokasi pembangunan pesanggrahan tercatat berada dibeberapa daerah terutama Bojonegoro, seperti Bangeran, Bekti, Gadon, Klino, Nglirip, dan Ngroto.
Pesanggrahan Klino dibangun di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Desain arsitekturnya mencerminkan gaya khas kolonial dengan bahan utama kayu jati. Bangunannya berbentuk rumah panggung dengan fondasi persegi di beberapa sudut bawah, serta lantai dan dinding yang terbuat dari kayu.
Tempat ini berfungsi sebagai titik kumpul dan penginapan bagi wisatawan yang ingin menjelajahi kawasan Bojonegoro Selatan, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Nganjuk dan Madiun.
Pada masa kolonial, Bojonegoro Selatan dikenal lebih maju dibandingkan pusat kota Bojonegoro. Selain pesanggrahan, pemerintah kolonial juga membangun fasilitas pendukung, seperti kolam renang dengan latar pemandangan Pegunungan Wilis yang indah. Tidak hanya itu, wisatawan juga dimanjakan dengan kuliner khas setempat, salah satunya adalah Nasi Goreng Pandan.

Bahkan Belanda juga membangun akses jalan untuk menghubungkan Bojonegoro dan Nganjuk, agar meningkatkan daya tarik wisatawan. Seperti dilaporkan dalam surat kabar Soerabaijasch Handelsblad pada tahun 1935, jalan tersebut diresmikan dengan upacara meriah. Rombongan pejabat kolonial, termasuk kepala kehutanan Ngajuk, Bupati Bojonegoro dan Ngajuk, serta beberapa pejabat penting lainnya, berkumpul di perbatasan kedua kabupaten. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Pesanggrahan Klino, di mana mereka disambut dengan jamuan minuman di taman pesanggrahan.
Pesanggrahan Klino tidak hanya menawarkan fasilitas akomodasi, tetapi juga menjadi pintu gerbang menuju keindahan alam Pegunungan Gugusan Pandan. Jalur yang melintasi hutan dan pegunungan menyuguhkan pemandangan spektakuler, mulai dari lereng hijau yang disinari cahaya matahari hingga pemandangan lembah yang memukau.
Pesanggrahan Klino juga dilengkapi dengan taman rindang yang menyerupai cagar alam, kolam renang yang dapat digunakan wisatawan, serta suasana alami yang memikat baik bagi ahli botani maupun pengunjung biasa. Tidak mengherankan jika pada masa itu, pesanggrahan ini menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan, baik lokal maupun asing.
Dengan kekayaan sejarah dan keindahan alamnya, Pesanggrahan Klino menjadi salah satu peninggalan yang patut dijaga dan dipelajari lebih lanjut, baik sebagai warisan budaya maupun sebagai potensi wisata yang berbasis ramah lingkungan.








