Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Saat Lee Min Ho dan Kim So Hyun Menyaksikan Idul Adha

Mukarromatun Nisa by Mukarromatun Nisa
01/08/2020
in Peristiwa
Saat Lee Min Ho dan Kim So Hyun Menyaksikan Idul Adha

Lee Min Hoo, Kim So Hyun dan Ji Chang terharu menyaksikan prosesi Hari Raya Idul Adha.

Hawa panas mulai menggerogoti tubuh bocah laki-laki berusia sepuluh tahun. Kerongkongannya kering minta dialiri air. Sedangkan di atas sana mentari kian terasa teriknya.

“Berkumur saja. Telan air keran secara perlahan-lahan,” bujuk hawa nafsunya.

“Jangan. Kamu sudah niat untuk berpuasa. Tidak baik untuk dibatalkan,” sanggah akal sehatnya.

“Tidak apa-apa. Kan hanya meminum sedikit. Lagi pula tidak ada orang yang tahu,” sahut bisikan syaitan.

“Sedikit pun tetap batal. Orang tidak mengetahui tapi Tuhan Maha Melihat dan malaikat senantiasa mencatat,” bantah suara teduh Malaikat.

“Minum saja!”

“Jangan!”

“Minum!”

“Jangan!”

Bocah itu kian kebingungan. Dia mendekat cepat pada keran. Memutar kuncinya lalu keluarlah air dengan deras. Tangan dia tadahkan dan segera diusapkan pada wajahnya. Dia berwudhu untuk menghilangkan godaan syaitan. Inna kaana syaitonad dhoifaa, sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata.

Selepas salat dhuha di mushola dia beranjak menuju lapangan untuk bermain dengan teman-teman.

“Min!” sapa temannya daru arah barat.

“Kim!” sahutnya cepat.

“Maling jagungnya emak yok. Buat ditukar gulali,” ajak Kim So Hyun.

Pada tahun 1975-an uang masih sulit didapatkan. Untuk mendapat secuil gulali anak-anak harus barter dengan sebuah jagung. Itu pun harus perjuangan mengambil tanpa sepengetahuan emak. Tidak ada makanan ringan seperti abad 20 dan makanan-makanan siap saji.

“Emoh aku. Lagi poso,” tolak Lee Min Ho. (Tidak mau. Aku lagi puasa)

“Poso opo rebo-rebo?” tanya Kim heran. (Puasa apa hari rabu?)

“Puasa tarwiyah. Puasa yang dikerjakan pada tanggal delapan zulhijah. Pak Ustaz kan tadi malam pas ngaji sudah menerangkan. Kamu tidur to?” jelas Min Ho.

“Hehehe, ora turu meng merem tok.” (Hehehe, bukan tidur hanya terpejam saja).

“Podo ae.” (Sama saja).

“Kenapa harus puasa, Min?” tanya Kim So meminta penjelasan sambil berjalan menuju lapangan.

“Sebenarnya tidak wajib hanya sunnah mu’aqad. Sunah yang dianjurkan. Menurut hadist yang diriwayatkan Ibnu An-Najjar dan Abdullah bin Abbas bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Puasa di hari Tarwiyah akan mengampuni dosa setahun yang lalu. Sedangkan puasa hari Arafah akan mengampuni dosa dua tahun. Hadist riwayat Tirmidzi. Gitu, Kim,” terang Min Ho panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume.

“Lha puasa arofah itu kapan, Min?” tanya Kim So lagi.

“Besok. Tanggal sembilan zulhijah.”

“Ooo.”

“Bunder.”

Mereka telah sampai di lapangan. Di sana sudah ada lima anak.

“Woy, Min, Kim!” seru Ji Chang Wook yang langsung dibalas oleh dua sejoli itu.

“Ayok bal-balan!” ajak Ji Chang. (Ayo main sepak bola).

“Emoh. Aku poso. Mengko nak ra kuat,” tolak Min Ho. (Tidak mau. Aku puasa. Nanti jika tidak kuat).

“Dawuhe Pak Ustadz wong nak nandur jagung ra dipendem bakal dicucuk pitek” ujar Ji Chang.

“Bener kuwi. Makane lak ngibadah ojo kondo-kondo,” sahut Kim So membenarkan. (Benar itu. Makanya jika ibadah jangan bilang-bilang).

“Iya-iya, makasih sudah mengingatkan.”

**  **

“Min!”

“Apa, Kim?”

“Itu… Nganu…” ucap Kim So Hyun terbata karena nafas yang tersengal akibat berlari kencang.

“Ono opo to? Ambekan disek lagek ngomong,” tutur Min Ho. (Ada apa? Bernafas dulu baru berbicara).

“Itu, do’anya puasa arofah apa?”

“Ohh itu. Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnati Arafah lillâhi ta‘ala.”

“Matur nuwun, yo,” ucap Kim So berterima kasih.

“Kamu tahu Kim tentang nama puasa tarwiyah dan arofah?” tanya bocah dengan songkok hitam itu.

Yang ditanya menggeleng tanda tak tahu.

“Dalam bahasa Arab, tarwiyah berarti proses berpikir. Pada hari itu, Nabi Ibrahim merenung dan berpikir tentang mimpinya menerima perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail. Makanya Delapan Zulhijah disebut hari Tarwiyah, sebab dirujuk kepada pensyariatan kurban, terang Min Ho saat perjalanan pulang dari mengaji di malam hari.

“Lha kalau arofa ceritanya gimana, Min?”

“Arafah maknanya mengetahui. Karena pada tanggal Sembilan Zulhijah Nabi Ibrahim menyadari sekaligus memahami makna mimpinya sebagai wahyu dari Allah.”

“Walah, nggak sia-sia kamu melek pas ngaji habis isya’,” kagum Kim So.

“Makanya jangan ngorok terus. Hahahaha.”

Malam itu dua bocah itu pulang dengan canda tawa. Disinari sinar bulan dan lampu uplik yang remang-remang. Dan pada lusanya, tanggal 10 Zulhijah takbir dikumandangkan dimana-mana. Di langgar, surau dan radio-radio tua milik warga.

Pagi buta Lee Min Ho sudah mandi hari raya. Dengan niat nawaitul ghusla liyaumi iedil adha sunnatan lillaahi ta’alaa.

“Mak, aku berangkat salat ied dulu,” pamit Min Ho pada emak satu-satunya.

Surau dari kayu itu sudah sesak oleh para jama’ah. Min Ho duduk bersama Kim So dan Ji Chang di shaf paling belakang.

“Niatnya apa, Min? Jangan bilang melokan lagi,” tanya Ji Chang.

“Tenang, Ji. Niatnya ushalli sunnata li ‘idil adha rak’ataini makmuuman lillaahi ta’ala.”

Semua khusyuk membaca niat. Kemudian disusul takbiratul ihram dan do’a iftitah. Disusul takbir sebanyak tujuh kali lantas membaca surat fatihah. Dilanjut dengan membaca surat pendek.

Sedang di rakaat ke dua, takbir dilakukan sebanyak lima kali.

Selepas salat khutbah dimulai. Terdengar Khotib membaca takbir sebanyak sembilan kali. Lalu memuji Asma Allah dan membaca shalawat untuk Kanjeng Nabi Muhammad.

Seruan wasiat akan takwa dikumandangkan dengan lantang.

Nampak Khotib duduk ke dua untuk menyela khutbah. Kemudia menyuarakan takbir sebanyak tujuh kali.

“Allahu akbar allahu akbar allahu akbar. Laailaaha illallah huallahhu akbar. Allahu akbar walillahilhamd.”

Telinga Min Ho mendengar jelas ayat alqur’an yang dibacakan. Di ujung khutbah ke dua, Khotib membaca do’a.

Usai salat semua orang bersalam-salaman. Dan penyembelihan hewan kurban pun dilakukan.

“Kamu kenapa, Ji?” tanya Kim So saat melihat air mata menganak sungai dari mata kawannya itu.

Sedang Min Ho ikut prihatin.

“Aku kehilangan saudaraku. Dia meninggal hari ini. Tepat selesai salat ied, seseorang membunuhnya.”

Semua terbelalak. Mungkin sebentar lagi speaker suaru akan mengumumkan berita duka.

“Ceritanya gimana, Ji?” tanya Kim penasaran.

“Tadi saat aku pulang, saudaraku mau pergi bermain tiba-tiba ada dua orang yang membawanya. Kuikuti. Dia dibawa ke suatu tempat. Di sana sudah ada banyak orang. Tanpa kusangka orang-orang itu membunuh saudaraku. Aku sebagai anak kecil tak bisa berbuat apa-apa.”

Semua tercengang. Tak disangka tragis itu nyata adanya.

“Sabar ya, Ji. Semoga husnul khotimah.” Lee Min Ho menguatkan.

“Kamu tidak melayat?” tanya Kim So.

“Tidak, Kim. Dia tidak mau dikubur.”

“Kok bisa? Itu saudaramu yang mana? Sepupumu?” tanya Min Ho bertubi-tubi.

“Si Juki, kambing bapakku. Dia jadi hewan kurban hari ini.”

Lee Min Ho dan Kim So Hyun saling pandang.

 

Tuban, Jum’at 31 Juli 2020

Tags: Idul adhaLee Min Hoo
Previous Post

Relasi Kuasa dalam Kasus Gilang Jarik

Next Post

Jejak Pemain Inggris di Liga Indonesia

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual
Peristiwa

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa
Peristiwa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot
Peristiwa

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: