Pihak suporter meminta agar SKK Migas memegang langsung Persibo. Menurut perwakilan suporter, Arif Setyawan, pihak suporter mengajukan SKK Migas untuk jadi pengelola baru Laskar Angling Dharma dengan target lolos ke Liga 2.
Pada Rabu (16/8/2020) Bupati Bojonegoro menggelar pertemuan lanjutan membahas masa depan Persibo. Pertemuan itu sendiri dihelat di rumah pribadi bupati, di Jalan Dr. Soetomo, Kepatihan, Bojonegoro.
Dalam pertemuan tersebut, hadir pihak KONI Bojonegoro, Askab PSSI Bojonegoro, Dinas Pemuda dan Olahraga, serta perwakilan suporter. Hadir pula duet manajemen lama Persibo, Abdulloh Umar dan Sally Atyasasmi.
Dalam pertemuan tersebut, Bupati memberi penjelasan mengenai masa depan Persibo. Salah satu pokok bahasannya adalah siapa yang akan mengelola Persibo setelah manajemen lama mengembalikan mandat. Serta tindak lanjut mengenai kemungkinan penggunaan dana CSR dari SKK Migas untuk Persibo.
Bupati akan mengusahakan agar dana CSR dari SKK Migas bisa dipergunakan untuk keperluan Persibo. Namun, ada hal-hal lain yang perlu dibahas mendalam lagi untuk mewujudkan hal tersebut.
Pada intinya, Bupati Bojonegoro akan mendengarkan masukan dari semua pihak untuk menentukan langkah yang akan diambil demi kebaikan bersama.
Usai pertemuan, pihak suporter meminta agar SKK Migas memegang langsung Persibo. Menurut perwakilan suporter, Arif Setyawan, pihak suporter mengajukan SKK Migas untuk jadi manajemen baru Persibo.
“Kami dari suporter mengajukan agar SKK Migas masuk menjadi manajemen baru Persibo Bojonegoro agar bisa lolos ke Liga 2,” ujar Arif Setyawan yang turut hadir di pertemuan itu.
Arif menambahkan jika pihak-pihak terkait harus segera membentuk tim teknis untuk merumuskan penggunaan dana CSR bagi Persibo. Karena, jika benar Liga 3 digelar bulan Oktober, maka Persibo hanya punya waktu 2 bulan untuk berbenah.
Di sisi lain, salah satu anggota manajemen lama Persibo, Sally Atyasasmi meminta suporter untuk bersabar. Menurut anggota DPRD Bojonegoro itu, proses pengelolaan Persibo harus dipikirkan secara matang. Sally tak ingin semua hal dijalankan dengan buru-buru. Kesalahan serupa tak boleh terulang.
“Keputusan pengelolaan harus dipikir secara matang, bentuk badan pengelola, siapa yang mengelola, dari mana sumber pendanaan, jangan prematur seperti saya dan teman-teman manajemen pada kala itu,” kata Sally.
Selain itu, Sally juga merasa Pemkab Bojonegoro dan SKK Migas membutuhkan waktu untuk membentuk format pengelolaan yang tidak bertentangan dengan aturan. Karenanya, alumni Universitas Airlangga Surabaya itu meminta suporter agar tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan.
Sally tentu paham betul betapa sulitnya mengurus Persibo Bojonegoro. Sally dan Umar jadi bagian manajemen yang mengelola Persibo dari 2015 hingga 2019. Sally, Umar, dan beberapa anggota DPRD Bojonegoro diserahi tugas oleh Bupati Bojonegoro saat itu, Suyoto atau Kang Yoto.
Setelah pertemuan dengan berbagai pihak, akan ada pertemuan lanjutan yang lebih serius lagi. Terutama dari pihak Pemkab Bojonegoro dengan SKK Migas, perihal aliran dana CSR ke Persibo.
Dengan waktu yang cukup mepet, pihak-pihak terkait memang harus segera mengambil keputusan. Masyarakat dan suporter tentunya tak ingin klub sepakbola kebanggaan kembali terlantar. Momentum yang ada mestinya bisa dimaksimalkan.








