Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Teknik Melupa dan Kesepakatan yang Keras Kepala

Branda Lokamaya by Branda Lokamaya
23/02/2019
in Fiksi Akhir Pekan
Teknik Melupa dan Kesepakatan yang Keras Kepala

Dia mengenal stadion Letjen H. Soedirman seperti dia mengenal ukuran bajunya sendiri. Di tempat ini, ribuan umpatan dan pujian telah mendarah-daging dalam kepalanya.

Dia hapal tiap lekuk Letjen H.  Soedirman seperti dia hapal urutan huruf alphabet. Tanyakan padanya apa yang kau ingin tahu tentang Letjen H. Soedirman, niscaya akan ia jawab secepat membalikkan telapak tangan.

Di luar stadion, orang-orang boleh mengenalnya sebagai lelaki kutu buku pendiam yang tak banyak bergaul dengan orang lain. Tapi di dalam stadion, dia adalah monster bertubuh bara api yang tak bisa mengalah pada apapun yang berseberangan dengan dirinya.

Dia adalah lelaki dengan batu di kepala dan ombak di hatinya. Di tempat ini, berbagai macam perkelahian sudah pernah dia khatamkan.

Dia pernah membikin 5 orang suporter lawan pingsan sekaligus, hanya gara-gara mereka mengejek Persibo yang gawangnya kebobolan. Dia juga pernah mendatangi official tim lawan dan memukuli mereka di depan bench pemain — karena official itu curang dan bermain mata dengan wasit.

Baginya, stadion adalah tempat paling tepat untuk mengungkapkan kemarahan, kekesalan, hingga kesedihan. Dia pernah menyembunyikan tangisan di sudut stadion ini. Bukan menangisi kekalahan tim kesayangan, tapi menangisi dirinya sendiri yang sedang patah hati.

Dia lelaki yang terluka. Ditinggalkan dan dikhianati oleh satu-satunya orang yang paling dia percayai. Di balik perangainya yang gahar, ada tangis yang membeku. Stadion beserta gemuruh gema sorak-sorai para suporter adalah tempat paling nyaman baginya untuk menyamarkan tangis.

Sejak patah hati, dia menjadi lelaki yang tidak pandai mengekspresikan perasaan. Ia sulit menangis saat bersedih. Ia juga sulit tertawa saat bahagia. Untuk mengekspresikan itu semua, ia berkunjung ke stadion demi bisa berteriak dan menangis dan tertawa berdahak-dahak.

Sesekali, dia adalah lelaki yang berharap hujan deras berjatuhan, ketika pertandingan sedang berlangsung. Dia suka hujan-hujanan dan membiarkan tubuhnya menggigil kedinginan, lalu menghangatkan diri dengan menenggak sebotol bir.

Tapi, hari ini, dia ingin sore yang cerah disertai gemuruh teriakan suporter merayakan kemenangan Persibo. Bukan karena apa-apa, tapi karena dia ingin merasakan sesuatu yang benar-benar dia jauhi sebelumnya.

“Di mana biasanya kamu nonton?” Tanya perempuan di sebelahnya.

“Di pojokan tribun yang itu,” jawabnya menunjuk salah satu sudut stadion, “baru kali ini aku duduk di VIP, itupun agar kamu tidak ikut berdesak-desakan.”

“Emang biasanya apa aja sih yang dibawa pas nonton kayak gini?”

“Sebotol bir dan optimisme..,”

“Kan kamu nggak ngerokok?”

“Emangnya nggak ngerokok nggak boleh ngebir ya, dasar aneh!”

“Tapi alkohol tidak menyelesaikan masalah!”

“Alkohol memang tidak menyelesaikan masalah, apalagi es teh!” Jawabnya sinis.

“Hah? Dasar aneh!” Ujar perempuan itu sambil melempar bungkusan es teh plastik yang sebelumnya dia bawa, ke arah lelaki di sebelahnya tersebut.

“Ayo pulang. Ini pertandingan sudah selesai..”

“Nggak mau, aku nggak mau pulang, ceritain dulu!”

“Cerita apa sih?”

“Cerita kenapa kamu bisa keras kepala banget saat berada di stadion kayak gini.” Pinta perempuan itu sambil menyembunyikan tas milik lelaki yang berada di sebelahnya — semacam siasat mengulur waktu agar tidak segera pulang.

Stadion tiba-tiba hening. Perempuan itu diam. Lelaki itu juga diam, seperti ada yang dia pikirkan. Sesekali, suara chant para suporter masih sayup bergema. Mereka berdua seperti tak mempedulikan lagi berapa skor hasil akhir pertandingan.

Baca juga: Fiksi Akhir Pekan Lainnya

“Aku menyesal pernah membaca buku Soccer in Sun and Shadow-nya Eduardo Galeano. Gara-gara esais sepakbola asal Uruguay itulah, aku menjadi akrab dengan stadion ini,” ucap lelaki itu memecah keheningan, “Di lain sisi, aku menjadi lelaki yang tak pernah memikirkan diri sendiri.” Tuturnya dengan suara lebih kecil.

“Memangnya itu buku soal apa? Kog aku gak pernah dengar?” Tanya perempuan itu sambil menggeser posisi ke arah depan si lelaki.

“Buku itu dibaca, bukan didengar!
dalam buku itu, ada satu esai keramat berjudul ‘suporter’ yang benar-benar bangsat dan memikat mata sekaligus hatiku,” jawabnya cuek.

“Tapi kog aku semacam tidak percaya ya emm..”

“Maksudnya?”

“Tidak mungkin hanya gara-gara buku kamu jadi suka keras kepala kayak gini. Pasti ada yang lain.” Ucap perempuan itu sambil tersenyum penuh arti, seperti sedang ingin mengorek sesuatu.

“Apalagi sih.”

“Kalau nggak dijawab aku nggak mau pulang.”

“Oh iya, aku dulu suka nonton film Green Street Hooligans. Itu film terbaik yang tak pernah bosan aku tonton,” jawabnya sambil cemas melihat jam tangan, “sampai sekarang, aku belum menemukan padanan film tersebut untuk tema suporter bola.”

Perempuan yang kini berada di depannya itu, seperti tak puas dengan jawaban si lelaki. Dia berupaya mencari-cari pertanyaan lain meski dia juga tidak tahu apa yang ingin dia tanyakan. Tapi, dia seperti punya niat untuk membongkar sesuatu.

“Aku kira itu bukan jawabannya deh.”

“Kan udah aku jelaskan semua. Ini gimana sih?” Kata lelaki itu mulai kesal.

“Ada alasan lain kayaknya, iya kan. Bukan buku dan bukan film.”

“Ya iyalah. Kan aku suka Persibo. Jadi aku rela berdesak-desakan.”

“Bukan. Bukan Persibo.”

“Udah ah.. ayo pulang!”

“Nggak mau. Kasih tahu dulu!”

“Apanyaaa?”

“Siapa yang ingin kamu lupakan di tengah keramaian stadion ini? Hayo, ngaku dulu!” Gertak perempuan itu bernada menginterogasi.

Lelaki itu tersentak. Keselek lamunan. Tatapannya sudah tak sejauh sebelumnya. Dia tak mendongak lagi. Tapi lebih menatap ke bawah. Ke arah sepatunya sendiri. Lelaki itu tiba-tiba berubah seperti bola yang kempes. Kehilangan energi.

“Aku nggak tahu.” Jawab lelaki itu pelan.

“Yaelah, tadi garang banget. Sekarang kog jadi kayak security ngantuk gini sih.”

“Udah ah, ayo pulang.” Ucap lelaki itu hampir menyerah.

“Enggak, aku nggak mau pulang.”

“Lha, ini stadionnya mau tutup hee..”

“Biarin hee…”

“Minggu depan kan masih ada pertandingan lagi. Nanti aku belikan kamu lumpia atau tahu empat rasa atau apa aja yang penting sekarang kita pulang dulu gimana?” Bujuk lelaki itu agar perempuan di depannya mau pulang.

“Kalau aku nggak mau gimana?”

“Keras kepala sekali sih.”

“Kamu juga keras kepala gitu kog!”

“Yaudah, karena kita sama-sama keras kepala, gimana kalau kita bersepakat untuk melunakkan kepala kita?” Lelaki itu coba menawarkan.

Cukup lama mereka berdua terdiam. Tak ada yang berbicara. Tribun stadion kian gelap. Para pemain, suporter dan penonton sudah pada lenyap menghilang. Kini, stadion hanya menyisakan panitia penyelenggara pertandingan yang tampak geram dan pada akhirnya, mengancam mereka berdua untuk keluar dari tribun stadion atau dipanggilkan satpol PP.

 

Tags: Fiksi Akhir Pekan
Previous Post

Eks Pelayar yang Kembangkan Bisnis Kopi di Bojonegoro

Next Post

Moto GP di Indonesia dan Potensi Sirkuit Balap di Bojonegoro

BERITA MENARIK LAINNYA

Hikayat Takut Kualat
Fiksi Akhir Pekan

Hikayat Takut Kualat

26/12/2025
Kharisma Kiai Darmin
Fiksi Akhir Pekan

Kharisma Kiai Darmin

30/11/2025
Akar Kehidupan Membentuk Pohon Harapan 
Fiksi Akhir Pekan

Akar Kehidupan Membentuk Pohon Harapan 

15/05/2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

11/06/2026
Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

10/06/2026
Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori

Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori

09/06/2026
Berkah Bumi: Berawal Rembesan Alami, Diubah Jadi Konsesi

Berkah Bumi: Berawal Rembesan Alami, Diubah Jadi Konsesi

08/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: