Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Wastra Batik Bojonegoro Tercatat Sejak Seribu Tahun Lalu

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
17/06/2025
in JURNAKULTURA
Wastra Batik Bojonegoro Tercatat Sejak Seribu Tahun Lalu

Wdihan Prau, simbol kejayaan Bojonegoro (Jurnaba)

Di Bojonegoro, diskursus tentang Wastra Batik nyatanya pernah dicatat dan dibahas dokumen prasasti sejak seribu tahun silam. Tepatnya pada abad 10 M. Berikut faktanya.

Pemkab Bojonegoro bakal helat event Bojonegoro Wastra Batik Festival 2025 pada 18-21 Juni 2025. Wastra yang bermakna kain istimewa, dalam konteks Bojonegoro, faktanya sudah pernah dicatat dan dibahas dokumen kuno sejak lebih dari seribu tahun silam.

Meski narasi kolonial berupaya mengganti namanya (dari Jipang menjadi Bojonegoro) agar terlihat muda, unsur “sepuh” dalam Bumi Bojonegoro tetap tak bisa disembunyikan. Sepuhnya tanah Bojonegoro, tentu bukan sekadar dongeng yang mengawang. Tapi jejak tampak yang berpijak.

Bojonegoro cukup beruntung, karena peradaban kunonya punya pijakan ilmiah berupa dua lempeng dokumen: Prasasti Telang (903 M) dan Prasasti Sangsang (907 M), yang secara empiris membahas sudut-sudut penting Sumber Daya Alam di kawasan Bojonegoro.

Artikel ini merupakan bagian dari Seri Dekolonisasi Pengetahuan yang berpijak pada spirit Bhinnasrantaloka. 

Prasasti Telang (903 M) dan Prasasti Sangsang (907 M) adalah bukti otentik yang selama ini tak pernah dipelajari. Sebab, tak sesuai narasi versi Londo Jowo dan kolonial. Padahal, ketidaksesuaian narasi adalah senjata untuk melakukan operasi “dekolonisasi” terhadap narasi kolonial.

Sosiolog Australian National University, Ariel Haryanto menyebut, sejarah terbuka pada berbagai versi narasi masa lampau. Sebab, tujuan utamanya bukan lagi sekadar membangun dogma. Tapi  mendorong sebanyak mungkin masyarakat untuk sadar, peduli, meneliti, membaca, dan merenungi kembali pelajaran dari masa silam.

“Yang dibutuhkan bukan revisi sejarah resmi, tak peduli siapa penulisnya. Yang lebih dibutuhkan adalah meluasnya masyarakat untuk peduli, meneliti, menulis, dan membaca narasi berbeda tentang masa lampau (di tempat tinggalnya)” tulis Ariel Haryanto (18/5/2025).

Haryanto mungkin ingin mengungkapkan, tak ada narasi tunggal dalam menciptakan timeline sejarah. Sebab, monopoli sejarah (penciptaan narasi tunggal) adalah metode kolonial. Karena itu, metode semacam itu harus di-dekolonisasi dengan paradigma logis dan mencerahkan.

‎Dalam buku Peradaban Nggawan Bojonegoro (2025), secara detail dan mendalam, penulis menjelaskan bukti-bukti penting peradaban kuno di Bojonegoro. Termasuk keberadaan wdihan (wastra/kain mulia), lengo (minyak bumi), dan kapua (olahan batu Kapur) sebagai komoditas penting sungai Bojonegoro.

Buku Peradaban Nggawan, 2025 (Jurnaba.co)

Buku Peradaban Nggawan (2025) juga meng-capture titik-titik penting dalam Prasasti Telang (903 M) dan Prasasti Sangsang (907 M) — yang nyatanya masih ada dan tetap tak mengalami perubahan signifikan hingga kini. Inilah fakta yang menunjukan bahwa Alam lebih tua daripada manusia.

Wdihan, Wastra Bojonegoro

Mari kita bahas sedikit saja tentang wastra (kain istimewa) dalam konteks peradaban kuno Bojonegoro. Catatan tentang wastra, terdapat pada lempeng I bagian verso Prasasti Sangsang, tepatnya pada baris 10 yang berbunyi: raka i pagar vsi pu yayak inangsian vdihan yu 1 mas ma 8, yang artinya: pemimpin dari PagerWsi, Pu Yayak, menerima kain 1 set dan emas 8 masa.

Sejarawan dan epigraf Universitas Indonesia (UI), Ninie Tedjowasono menyebut, vdihan (wdihan) dalam kalimat itu, sebagai kain istimewa (atau yang kini dikenal sebagai wastra: tenun/batik) yang jadi hadiah dari Raja Baletung. Istilah lain yang kerap muncul adalah vdihan kalyaga, yang ia maknai sebagai kain batik.

Simbol perahu sebagai identitas Bojonegoro

Menurut Ninie, Prasasti Raja Baletung (termasuk Telang dan Sangsang) adalah dokumen tua yang kerap mengabarkan komoditas penting masa silam. Ninie menyebut, Sangsang sebagai prasasti tertua yang menyebut wayang dan wdihan (kain mulia) sebagai komoditas peradaban Jawa.

Ninie mengatakan, prasasti Raja Baletung banyak menyebut wdihan sebagai kain mulia (tenun atau batik), sebagai hadiah dalam upacara penetapan sima. Menurutnya, wdihan hanya dipakai golongan-golongan tertentu. Termasuk raja, pejabat tinggi, dan pejabat rendahan.

Ninie memberi penjelasan, pada abad 10 M, kain wdihan untuk raja adalah; ganjar haji, ganjar patra sisi, dan bwat pinilai. Wdihan untuk pejebat tinggi; tapis cadar bwat kling putih, dan alapnya salari kuning. Sementara wdihan untuk pejabat rendahan; siwakidang, hamarawu, dan takurang.

Selain kebesaran Pu Yayak Pagerwesi, Prasasti Sangsang juga menunjukan kita pada kebijaksanaan Pu Siwastra dan Pu Layang, serta para brahmana Kalangvungkal dari Sima Pungpunana — tanah sima yang berada tepat di sisi selatan Pagerwesi.

Dua tempat ini (Pagerwsi dan Pungpunana) dikenal sebagai pusat peradaban sungai sejak abad 10 M. Bukan kebetulan jika sampai abad 19 M, sejumlah pelancong Belanda yang masih merekam dan mengabadikan kondisi peradaban sungai itu dalam catatan mereka.

Event Bojonegoro Wastra Batik, yang membahas kain mulia dan dihelat pada 18-21 Juni 2025, ternyata sudah dibahas para leluhur sejak 907 M. Artinya, Wastra Batik telah dicatat dan diperbincangkan sejak 1.118 tahun lalu. Atau sebelas abad lebih 18 tahun lalu. Mungkin ini alasan Bojonegoro dikenal sebagai tanah sepuh yang disepuh dengan keluhuran peradaban.

Tags: Kain Wdihan BojonegoroKERISKELOKAMakin Tahu IndonesiaWastra Batik Bojonegoro
Previous Post

Bersinergi Wujudkan Lingkungan Lestari 

Next Post

Diskusi Multipihak: Bahas Renstra Ekologi Perangkat Daerah

BERITA MENARIK LAINNYA

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan
Cecurhatan

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan

18/05/2026
‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026

Anyar Nabs

Diskusi Naga Api: Wonocolo dalam Tiga Pondasi

Diskusi Naga Api: Wonocolo dalam Tiga Pondasi

07/06/2026
Timnas Norwegia dan Perahu Persibo Bojonegoro

Timnas Norwegia dan Perahu Persibo Bojonegoro

06/06/2026
Siasat Menentang Tanpa Melawan

Siasat Menentang Tanpa Melawan

06/06/2026
Gerak dan Lagu Meriahkan Pelepasan 124 Murid TK Muslimat NU 04 Bangilan

Gerak dan Lagu Meriahkan Pelepasan 124 Murid TK Muslimat NU 04 Bangilan

05/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: