Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Yang Terlupakan: Antara Riset, Rumput Tetangga, dan Dedaunan Tropis

Toto Rahardjo by Toto Rahardjo
25/10/2025
in Cecurhatan
Yang Terlupakan: Antara Riset, Rumput Tetangga, dan Dedaunan Tropis

Yang Terlupakan

Di antara bau tanah basah dan desir angin tropis, kita akan menemukan kembali sesuatu yang lebih berharga daripada inovasi: ingatan bahwa ilmu dan kehidupan, seperti akar dan pohon, tak pernah benar-benar terpisah.

Kita telah menjadi bangsa penonton. Duduk di tribun global yang dingin, menyaksikan parade teknologi dari Silicon Valley, Tokyo, dan Seoul lewat layar buatan mereka. Kita bersorak, membeli tiket, lalu membayar dengan data, dengan waktu, dengan mimpi. Namun, siapa yang menonton siapa, sebenarnya?

Sebab di tengah tepuk tangan itu, kita tak sadar sedang kehilangan bahasa penemuan. Kita fasih menjadi konsumen, tapi gagap menjadi penemu. Kita pandai meniru, tapi takut gagal.

Di masa lalu, bangsa ini berdiri di atas pengetahuan. Petani mengenali musim lewat suara burung dan arah angin; nelayan membaca warna laut; dukun desa meracik ramuan dari daun-daunan yang tak dikenal di Eropa. Ilmu pengetahuan lokal itu pernah menjadi sains—meski tanpa laboratorium, tanpa jurnal, tanpa gelar.

Kini, ironi itu lengkap. Negara dengan biodiversitas tertinggi ketiga di dunia justru lebih akrab dengan kosmetika impor dan obat paten dari luar negeri. Kita hidup di kebun raya raksasa, tapi bertingkah seperti turis di taman sendiri.

Barangkali, ketertinggalan kita bukan semata-mata karena kurang dana, melainkan karena kehilangan hasrat epistemik: keinginan untuk tahu. Riset tak tumbuh dari uang, tapi dari rasa ingin tahu yang membakar. Dan rasa ingin tahu tak bisa hidup di tanah yang terbiasa menghafal.
Oleh sebab itu, universitas kita lebih mirip kantor administratif ketimbang ruang imajinasi. Para dosen menulis laporan untuk akreditasi, bukan untuk mengguncang dunia.

Laboratorium menjadi ruang yang sunyi, penuh alat yang tak dipakai—seperti museum dari cita-cita yang ditunda. Namun, janganlah kita muram. Di bawah abu kelesuan itu, masih tersimpan bara.

Indonesia masih memiliki jalan lain untuk menyalip zaman: riset biodiversitas. Tanaman-tanaman tropis kita menyimpan senyawa yang belum ditafsirkan. Setiap daun, akar, getah, bisa menjadi patent masa depan—jika kita punya keberanian untuk membaca alam seperti ilmuwan membaca naskah purba.

Bayangkan, suatu hari dunia membeli obat, kosmetik, atau pangan olahan dari hasil riset anak negeri atas tanaman endemik Nusantara. Bukan lagi dari silikon, tapi dari sagu. Bukan dari chip, tapi dari klorofil.
Untuk itu, kita harus berhenti melirik rumput tetangga.

Rumput kita sendiri lebih hijau—hanya saja, kita terlalu sibuk menunduk ke layar.
Mungkin inilah tragedi modern Indonesia: negeri yang subur, tapi kehilangan tafsir atas kesuburannya.

“Sebuah bangsa akan punah bukan karena perang, tapi karena kehilangan daya tafsir atas dirinya sendiri.”

Dan tafsir itu kini terletak di antara batang pisang dan lumut hutan hujan, di laboratorium-laboratorium kecil yang masih mencari dana, di tangan anak muda yang meneliti ekstrak daun di dapur rumahnya. Kita bisa mengejar dunia—bukan dengan meniru, tapi dengan meneliti diri sendiri.

Barangkali, di situlah letak riset yang sejati: menemukan dunia, dengan mengenali kebun kita sendiri.
Sebab setiap daun tropis adalah halaman dari ensiklopedia yang belum selesai ditulis. Dan barangkali, ketika kita mulai membaca daun-daun itu dengan cinta dan nalar, Indonesia akan berhenti menjadi penonton—dan kembali menjadi penemu.

Di masa lampau, pengetahuan lahir dari kebersahajaan. Orang Jawa menyebutnya ngelmu sing kasandhing urip—ilmu yang bersanding dengan hidup. Ilmu yang tidak memisahkan manusia dari alam, melainkan mengakui keduanya sebagai bagian dari satu tubuh besar yang bernafas bersama.

Dari situ lahir jamu, yang bukan sekadar ramuan, tapi puisi dari akar dan bunga. Lahir lontaraq Bugis yang mencatat bintang-bintang untuk membaca musim. Lahir sistem irigasi subak di Bali, yang memadukan doa dan teknik. Semua adalah bentuk riset, meski tak pernah disebut demikian.

Mungkin kita perlu kembali ke sana—not untuk romantisisme masa lalu, tapi untuk mengingat bahwa pengetahuan sejati tidak pernah datang dari mesin, melainkan dari rasa ingin tahu yang berakar pada empati terhadap bumi. Sebab di tangan nenek moyang kita, ilmu tidak diciptakan untuk menguasai, melainkan untuk menjaga keseimbangan.

Kita pernah menjadi bangsa pelaut, bukan karena berani mengarungi samudra, tapi karena tahu membaca arah angin. Kita pernah menjadi bangsa peramu, bukan karena miskin teknologi, tapi karena mengerti kapan daun layu dan kapan bunga menyimpan khasiat.

Kini, ketika dunia berlari mengejar kecerdasan buatan, barangkali tugas kita adalah membangkitkan kembali kecerdasan alamiah—kecerdasan yang pernah tumbuh dari tubuh Nusantara itu sendiri.

Sebab masa depan Indonesia tidak lahir dari laboratorium silikon, melainkan dari kebun yang kembali kita baca dengan hati seorang peneliti, dan dengan jiwa seorang penyair yang mendengar bisikan daun.

Dan di sanalah, di antara bau tanah basah dan desir angin tropis,
kita akan menemukan kembali sesuatu yang lebih berharga daripada inovasi: ingatan bahwa ilmu dan kehidupan, seperti akar dan pohon, tak pernah benar-benar terpisah.[]

Nitiprayan, 25 Oktober 2025

Tags: Catatan Toto RahardjoMakin Tahu IndonesiaRumput Tetangga
Previous Post

Air Hujan Mau Mampir, Tapi Siapa Pula yang Menyediakan Kursi?

Next Post

Menilik Proses Mengetahui dalam Perpustakaan Pesantren dan Masjid pada Hari Santri

BERITA MENARIK LAINNYA

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur
Cecurhatan

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas
Cecurhatan

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya
Cecurhatan

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026

Anyar Nabs

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: