Bojonegoro merupakan lembah raksasa, dataran rendah memanjang yang dipagari perbukitan di kanan dan kirinya. Secara ideografis, lembah ini mirip perahu yang menampung bermacam ideologi peradaban.
Pada medio pertama periode 1800 M, seorang pengembara Belanda, Abraham Jacob, melakukan pendataan di Bengawan Bojonegoro. Dalam pendataan itu, ia menemukan Bale Kambang (pasar perahu) yang menarik kekagumannya. Ramainya lalu lintas perahu membuatnya teringat masa kecil saat masih di Belanda, negeri yang juga dipenuhi perahu.
Jacob mencatat, tempat yang menarik perhatiannya itu bernama Telang, sebuah kawasan yang berada di tengah-tengah antara Bojonegoro dan Padangan. Menurut Jacob, tempat itu juga dikenal dengan Kamolan, dimungkinkan terdapat banyak bekas bangunan kuno berbentuk gapura tua.
Baca juga: Fait Allam, Kapal Raksasa yang Dibuat di Bojonegoro
Jacob menulis, pasar Bale Kambang di kawasan itu bernama Kliwon, tempat di mana masyarakat bertransaksi bermacam kebutuhan hidup. Di Pasar Kliwon, dipenuhi banyak perahu. Bahkan terdapat perahu dari Madura yang membeli beras dari pasar tersebut, untuk dibawa kembali ke Madura. Tak jauh dari pasar, terdapat galangan perahu jati yang cukup besar.
Meski di-publish pada 1850 M, catatan Abraham Jacob telah membuka jejak Peradaban Telang-Sangsang, entitas sosial yang ribuan tahun sebelumnya telah berada di tempat itu, sebagai bagian dari Kerajaan Medang. Keberadaan galangan perahu, Bale Kambang, dan istilah Kamolan, tentu kian memperkuat jejak itu.
** **
Pada periode 900 M, Lembah Pegunungan Kapur yang mendominasi lintasan Bengawan ini, sudah ramai transaksi pedagang di Bale Kambang; para pande (besi, tembaga, dan emas) yang sibuk berinovasi; peternak yang semangat menggiring kambing dan sapi; serta petugas pajak yang berkeliling kesana kemari.

Para pedagang di pasar Bale Kambang itu, tak hanya bertransaksi bermacam kebutuhan primer seperti beras, gula, dan garam. Tapi juga barang-barang sekunder seperti olahan kapur (pewarna), perhiasan emas, kalyaga (kain), hingga lengo (minyak bumi) untuk penerang ruangan.
Sementara di puncak-puncak perbukitan kapurnya, di dekat sumber-sumber mata air asinnya, terdapat Lemah Citra — tempat para Citralekha (rakawi) khusuk mendengar Begawan yang duduk di bawah beringin raksasa. Mereka menulis apa yang mereka dengar itu, menjadi petuah bijak yang tertulis di lontar jambe dan bebatuan.
Sejak abad 10 M, kawasan Lembah Kapur dilintasi Bengawan ini, dikenal sebagai pusat intelektual. Di wilayah ini, terdapat sejumlah strata sosial berperadaban tinggi seperti; gusti, kalang, kalima, vinkas, dan variga. Mereka semua tak hanya berbudaya tulis, tapi juga memahami konsep bermasyarakat.
Lembah Kapur yang dilintasi Bengawan ini, adalah bagian penting dari Kerajaan Medang, di bawah pemerintahan Raja Dyah Baletung (898 – 910 M). Sang Raja sering memberi hadiah pada para Begawan di kawasan ini. Terutama yang berada di wilayah Telang, Sotasrungga, Pagerwesi, dan Sima Pungpunana.
Diorama visual di atas, tergambar dari Prasasti Telang (903 M) dan Prasasti Sangsang (907 M), dua prasasti dirilis pada masa pemerintahan Raja Dyah Baletung. Sebuah diorama yang sama persis dengan apa yang dicatat Abraham Jacob pada 1850 M. Artinya, selama 950 tahun — dari 900 M sampai 1850 M — Jejak Peradaban Medang di wilayah Bojonegoro tak pernah mati.
Abad Supremasi
Data etnografis dari Kesekretariatan Riset Kearifan Lokal (KERISKELOKA) menyebut, Bojonegoro terbangun atas tiga pilar Alam. Ketiganya adalah Pegunungan Kendeng, Bengawan, dan Hutan Jati. Tiga pilar abadi ini, entah kenapa, seperti dihilangkan, dihindari, dan tak pernah dibahas dalam diskursus kebudayaan versi kolonial.
Guru-guru kami — Pak Roem Topatimasang, Pak Toto Rahardjo, dan Pak Noer Fauzi Rachman — sering mengatakan, jejak terkejam dari sisa penjajahan adalah tertanamnya mentalitet inlander, yang menyebabkan kita tak lagi punya keberanian melihat kebesaran bangsa sendiri, hanya karena “dibungkus” narasi kolonial.
Kolonial di sini, bukan hanya Londo Holland. Tapi juga Londo Jowo yang mengunci sejarah di dalam peti abad 16 M, melalui narasi dongeng perang yang sesungguhnya baru diproduksi pada abad 19 M itu. Sehingga kita kehilangan narasi kebesaran bangsa pada abad 9 M, 10 M, 11 M, dan 12 M — abad supremasi kebesaran Nusantara (Zabag Jawi).
Baca juga: Zabag Jawa, Kebesaran Nusantara di Mata Dunia
Untungnya, supremasi Zabag Jawi (Nusantara) pada abad-abad yang digelapkan ini, telah diabadikan para penjelajah Arab dalam sejumlah kitab seperti; Ajaib Al Hindi, Rihlatus Shirafi, Minhaj al Fakhir, hingga Al Masalik Walmamalik. Kitab-kitab ini ditulis penuh kekaguman pada abad 9 M sampai 15 M, dan berkisah tentang “supremasi” geopolitik internasional Zabag al Jawi (Nusantara).

Jika manuskrip-manuskrip di atas menceritakan “supremasi” geopolitik internasional Nusantara, kita juga masih memiliki bermacam prasasti yang lahir dari abad 9 M, 10 M, 11 M, hingga abad 12 M yang, secara tegas, juga menuturkan hegemoni kedaulatan, determinasi kesejahteraan, serta harmoni kebudayaan di bumi Yawadwipa (Nusantara).
Pertanyaannya, kenapa supremasi internasional sejak abad 9 M itu tak pernah diceritakan? Kenapa sejarah dihentikan pada kecemasan perang lokal abad 16 M? Ya, seperti dawuh Pak Roem Topatimasang, Pak Toto Rahardjo, dan Pak Noer Fauzi Rachman, itu semua terjadi karena mentalitet kita “dibungkus” sudut pandang kolonial.
Melalui konsep dekolonisasi, Jurnaba melakukan gerakan “ngoceki-bungkus-kolonial” berbasis riset etnografi untuk mendekonstruksi kebesaran bangsa. Sehingga mentalitet kita lebih realistis-objektif dalam melihat masa silam. Tentu dimulai dari titik paling dekat: Bojonegoro dan sekitarnya.
Beruntung. Sejumlah simpul juga mulai tergerak melakukan dekolonisasi terkait jejak kebesaran Bojonegoro. Bukan hanya Jurnaba, tapi Bojonegoro Institute (NGO), Bojonegoro Raya (media), hingga Bojonegoro History (komunitas sejarah). Meminjam istilah Noer Fauzi Rachman, ini adalah “Panggilan Tanah Air”.
Bojonegoro Institute, melalui gerakan penyadaran partisipatif berbasis Sustainable Livelihood, Bojonegoro Raya melalui gerakan liputan riset mendalam, serta Bojonegoro History melalui pembuatan konten digital, telah menggenapi Jurnaba dalam men-dekolonisasi mentalitet inlander ini.
Bergerak secara indie namun penuh dedikasi, mereka semua berasal dari bermacam latar belakang organisasi berbeda. Tergerak dengan cara yang berbeda. Tersulut dengan spirit yang berbeda-beda. Namun, muara dan tujuannya tentu sama: memandang wajah Bojonegoro yang sesungguhnya.
Perahu Penampung Peradaban
Dalam kaidah geospasial, Bojonegoro adalah baris perbukitan kapur yang dipenuhi sumber mata air asin, rembesan lengo, dan dilintasi aliran Bengawan. Sebuah lokasi yang jadi identitas Lemah Citra. Tak heran jika kelak tempat ini banyak dipenuhi para Begawan; baik itu Wiku, Brahmana, ataupun Para Wali.

Pada abad 0 M – 6 M, sebelum Hindu-Budha datang, kawasan ini sudah dipenuhi masyarakat kuno. Jejak megalitik dan sarkofagus yang berada di celah-celah perbukitan kapurnya, menunjukan keberadaan Begawan, dalam hal ini adalah Para Wiku — entitas penjaga nilai “etika Jawa” sebelum era misionaris Hindu-Budha.
Lalu pada masa Hindu-Budha (abad 7 M hingga 14 M), wilayah ini juga jadi punjer peradaban. Dari Prasasti Telang-Sangsang (abad 10 M) hingga Prasasti Maribong (abad 13 M), menunjukan betapa kawasan ini memang dipenuhi banyak Begawan, dalam hal ini adalah Para Brahmana.
Saat Islam datang ke Jawa, kawasan ini juga dikenal sebagai gerbang penting masuknya Islam di Pedalaman Jawa. Zawiyah Gunung Jali, tempat Syekh Jumadil Kubro membangun keselarasan Tradisi Jawa dan Sufisme Persia pada abad 14 M, menjadi titik penting yang kelak melahirkan banyak para Begawan, dalam hal ini adalah Para Wali.
Bojonegoro merupakan lembah raksasa, dataran rendah memanjang yang dipagari perbukitan di kanan dan kirinya. Dalam konteks ideografis, lembah ini mirip Safinah al Hadarah — perahu raksasa yang menampung berbagai macam ideologi peradaban; baik itu Etika Jawa, Hindu Budha, maupun Islam.
Referensi Bacaan:
HB. Sarkar (1959), Corpus of The Inscription; Roem Topatimasang (2016), Orang-orang Kalah; N Fauzi Rachman (2017), Panggilan Tanah Air; Rizkiawan (2025), Peradaban Nggawan.








