Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Menjajal Keunikan Gulai Kepala Kambing Khas Kota Semarang

Mahfudin Akbar by Mahfudin Akbar
07/08/2019
in Destinasi
Menjajal Keunikan Gulai Kepala Kambing Khas Kota Semarang

Proses pengguyuran kuah panas gulai kambing tanpa santan.

Kuliner pinggir jalan di Kota Semarang cukup banyak. Satu di antara kuliner pinggir jalan unik di Semarang adalah gulai kepala kambing. Seperti apa keunikan gulai kepala kambing di Semarang? Yuk, Nabs kita cari tahu bersama.

Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Semarang memang jadi tempat yang tepat untuk berwisata kuliner. Segala macam kuliner khas Indonesia bisa ditemui dengan mudah di Semarang. Dari yang mainstream, sampai yang unik dan bikin bergidik.

Contoh kuliner unik yang ada di Kota Semarang adalah gulai kepala kambing. Dari namanya mungkin terlihat biasa saja. Tapi jangan salah Nabs. Gulai kepala kambing di Semarang punya ciri khas tersendiri. Yakni tak menggunakan santan sebagai bumbunya.

Kita tentu tahu bahwa santan merupakan bahan utama pembuatan gulai. Namun di Semarang, santan bisa dihilangkan dari daftar bahan utama pembuatan gulai. Jadi, gulai kepala kambing di Semarang itu ada yang bebas dari santan kelapa.

Abdul Gani adalah satu di antara penjual gulai kepala kambing khas Semarang. Kakek yang berjualan di sudut Jalan Sendowo, Kota Lama, Semarang tersebut menjajakan gulai kepala kambing tanpa santan.

Dengan gerobak sederhana, Pak Abdul-sapaan akrabnya, menjajakan gulai kepala kambing sejak jam 9 pagi. Silih berganti para pembeli mendatangi lapak sederhana milik Pak Abdul. Baik untuk sarapan, maupun makan siang.

Menurut Pak Abdul, gulai buatannya memang tak menggunakan santan kelapa. Sehingga, kuah gulai jadi lebih jernih dan rasanya jadi lebih ringan.

“Bumbu gulai pakai rempah-rempah biasa. Ndak pakai santan,” ujarnya menjelaskan.

Selain tak memakai santan, keunikan lain terletak pada bagian kepala kambing yang disajikan. Semua bagian kepala kambing diikutsertakan dalam sajian. Mulai dari pipi, lidah, kuping, hidung, bahkan isi kepala.

Tahap pertama yang dilakukan oleh Pak Abdul adalah menggerus cabai rawit merah di piring. Rasa pedas dari penganan ini didapatkan langsung dari cabai rawit mentah. Bagi yang tak suka pedas, biasanya cukup dua buah cabai rawit merah saja. Namun bagi para penggila kuliner pedas, bisa meminta 7 sampai 10 buah sekaligus.

Setelah cabai rawit halus di piring, Pak Abdul kemudian memotong-motong terlebih dahulu bagian kepala kambing yang hendak disajikan. Setelah terpotong di piring, Kakek berusia setengah abad lebih tersebut kemudian menambahkan nasi di pinggirnya.

Tahap terakhir dan yang terpenting adalah mengguyurkan kuah gulai tanpa santan dari panci yang selalu dipanaskan. Seporsi gulai kepala kambing tanpa santan pun siap dinikmati.

Gelegar rasa langsung tercipta di suapan pertama. Bagaimana tidak, kuah dari aneka rempah yang nikmat berpadu mesra dengan aneka bagian kepala kambing yang empuk. Tak ada bau prengus. Semuanya mulus. Hingga mulut tak kuasa untuk berkata; Maknyus!

Kuah gulai yang biasanya terasa berat karena adanya santan, kini jadi lebih ringan. Lidah, perut dan organ lain pun jadi lebih dimanjakan.

Kuliner satu ini sangat cocok disantap saat jam makan siang. Kehangatan dan kesegaran rasa dari gulai kepala kambing ini bisa mengembalikan energi untuk beraktivitas lagi.

Seporsi gulai kepala kambing Pak Abdul ini terbilang cukup terjangkau. Hanya dengan Rp 13 ribu saja, kita sudah bisa menikmati gegap gempita rasa dari gulai kepala kambing tanpa santan, khas Kota Semarang.

Keberadaan gulai kepala kambing tanpa santan ini membuktikan satu hal. Bahwa keragaman kuliner pinggir jalan di Kota Semarang memang tak terbantahkan.

Penasaran dengan gulai kepala kambing Pak Abdul? Datang saja ke kawasan Kota Lama, tepatnya di Jalan Sendowo, Semarang. Puas berfoto ria di kawasan Kota Lama, langsung lanjut dengan menyantap gulai kepala kambing tanpa santan yang rasanya istimewa.

Tags: Kukiner Khas SemarangKuliner Semarang
Previous Post

Susi Pudjiastuti dan Robot Sampah Plastik Ala Desa Mojodeso

Next Post

Layanan Musik Streaming dan Kreativitas Berjualan Karya

BERITA MENARIK LAINNYA

Mesquita De La M-30: Masjid dan Pusat Budaya Islam di Madrid Spanyol
Destinasi

Mesquita De La M-30: Masjid dan Pusat Budaya Islam di Madrid Spanyol

09/04/2026
‎Baabus Shofa, Masjid dengan Pintu yang Selalu Terbuka
Destinasi

‎Baabus Shofa, Masjid dengan Pintu yang Selalu Terbuka

06/04/2026
‎Waduk Norjo, Wisata Nggawan Kembar di Bojonegoro
Destinasi

‎Waduk Norjo, Wisata Nggawan Kembar di Bojonegoro

29/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal

Antiklin Dandangilo: Lipatan Tektonik dan Jejak Rembesan Minyak Dangkal

25/05/2026
Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

24/05/2026
Bojonegoro History Gelar Diskusi Ekspedisi Naga Api sebagai Upaya Penguatan Literasi Geopark Bojonegoro

Bojonegoro History Gelar Diskusi Ekspedisi Naga Api sebagai Upaya Penguatan Literasi Geopark Bojonegoro

24/05/2026
Percakapan di Tengah Hujan dengan Ivan Illich

Percakapan di Tengah Hujan dengan Ivan Illich

23/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: