Mengusung spirit buah apel sebagai inspirasi Teori Gravitasi, APeL Bojonegoro berharap jadi medan gravitasi yang mampu mengajak masyarakat untuk kian peduli lingkungan.
Banyaknya bencana alam terjadi dalam sebulan ini, memicu sejumlah komunitas lingkungan bersinergi dalam Aliansi Peduli Lingkungan (APeL) Bojonegoro (15/3/2025). Aliansi ini bertujuan membangun kesadaran kolektif untuk kian peduli pada isu lingkungan dan potensi kebencanaan.
Selama Januari hingga Maret 2025 ini, berbagai bencana terjadi di Bojonegoro. Banjir bandang di Kecamatan Gondang, serta tanah longsor di sejumlah kecamatan seperti Malo, Ngasem, Tambakrejo, Dander, Purwosari, Ngraho, hingga Padangan, sudah sepatutnya menjadi trigger untuk kian meningkatkan sikap peduli pada lingkungan.
Keprihatinan atas banyaknya kejadian bencana itu, membuat sejumlah perwakilan komunitas lingkungan bertemu untuk bersinergi dalam Aliansi Peduli Lingkungan (APeL) Bojonegoro. Di antaranya; Elang Bengawan Rescue (EBR), Pandu Perubahan (PANDAN) Foundation, World Clean Up Day (WCD) Bojonegoro, hingga sejumlah pelajar-mahasiswa Pecinta Alam di Bojonegoro.
EBR yang fokus pada mitigasi kebencanaan, PANDAN yang fokus pada edukasi dan inisiasi-konservasi, hingga WCD yang fokus pada kampanye dan sosialisasi lingkungan bersih, tentu berharap agar lebih banyak lagi organ lingkungan ikut berkolaborasi untuk bangun kesadaran kolektif dalam hadapi Kalabendu Antroposense — masa di mana aktivitas manusia punya dampak bagi ekosistem bumi — ini.
Dalam paparan akademik berjudul Berpikir Dalam Skala Bumi (2022), Dosen Psikologi Lingkungan Unpad Bandung, Noer Fauzi Rachman PhD menyebut Antroposene sebagai era yang ditandai dampak manusia merusak bumi dan mengancam keberlanjutan lingkungan. Istilah Antroposene, merujuk pada era di mana manusia memiliki pengaruh global terhadap ekosistem Bumi.

Peduli Lingkungan, bukan sekadar seremoni latah sosial berbasis proyek dan kejadian. Peduli Lingkungan, sudah seharusnya dibangun dengan kualitas pemahaman sekaligus kuantitas kesadaran-penyadaran masyarakat.
Sehingga, makna kepedulian tidak sesempit sekadar menangani bencana yang telah terjadi belaka. Namun juga memahami dan menanggulangi potensinya, melalui bermacam gerak edukasi dan pengembangan diri.
Kepedulian terhadap lingkungan, tidak bersifat statis dan hanya bermodal perasaan. Peduli lingkungan, harus berkarakter dinamis. Di mana, di dalamnya terdapat tiga pilar kualitas; kemampuan membaca potensi (mitigasi), peningkatan sumber daya manusia (edukasi-inisiasi), hingga ajakan sistematis (sosialisasi). APeL Bojonegoro, disusun atas pilar-pilar kualitas tersebut.
APeL Bojonegoro dirajut dalam bingkai kualitas dan kuantitas. Sehingga Peduli Lingkungan bukan lagi sekadar respon atas kejadian. Tapi peningkatan terhadap pemahaman lingkungan dan bertambahnya mereka yang peduli lingkungan, terlepas ada atau tidaknya momen kebencanaan.
Pembentukan APeL Bojonegoro ditujukan untuk membangun colective awareness (kesadaran bersama) atas nasib bumi dan lingkungan alam kedepan. Karena itu, pilar edukasi, mitigasi, dan sosialisasi menjadi perkara penting yang tak bisa ditinggalkan. Ketiga unsur itu jadi identitas gerak APeL Bojonegoro.

Membawa prinsip buah apel yang identik rasa manis dan aroma harum, APeL Bojonegoro menjadikan prinsip kebermanfaatan sebagai poros utama pergerakan. Bahwa kepedulian terhadap lingkungan, sudah sepatutnya membawa manfaat bagi banyak masyarakat.
Mengambil semangat buah apel yang identik inovasi, teknologi, dan pengembangan (Steve Jobs), APeL Bojonegoro ingin membangun kesadaran kolektif bahwa kepedulian lingkungan tidak bersikap statis-responsif, tapi berkarakter dinamis-inovatif.
Mengusung spirit buah apel sebagai landasan inspirasi Teori Gravitasi (Isaac Newton), APeL Bojonegoro berharap menjadi medan gravitasi yang memiliki daya tarik magnetik untuk mengajak masyarakat agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan.








