Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Di Hadapan Tulisan, Kita Terbentur Terbentuk dan Terlupakan

Abu Syukur by Abu Syukur
15/12/2019
in Peristiwa
Di Hadapan Tulisan, Kita Terbentur Terbentuk dan Terlupakan

Mereka yang pernah menulis, pasti pernah menjalani proses benturan hebat di kepalanya. Pernah mengalami pembentukan keberanian, dan pernah merasakan sedihnya dilupakan.

Acara diskusi jurnalistik pergerakan bertajuk “diawali dengan bacaan dan diakhiri dengan tulisan” diselenggarakan PK PMII Sunan Giri Bojonegoro pada (14/12) kemarin, tak hanya membahas bermacam jenis tulisan, tapi juga membeber teknik melawan sedihnya ditinggalkan mantan.

Sebagai aktivis yang tergolong progresif, militan dan agak kesepian, saya benar-benar tertantang untuk menulis apa yang saya saksikan pada saat mengikuti acara diskusi yang diselenggarakan di Aula PCNU Bojonegoro tersebut. Terlebih, saya sebagai Ketua Panitia.

Dalam acara tersebut, hadir sebagai pemateri adalah Wahyu Rizqiawan dari Jurnaba.co, ia membahas bermacam jenis tulisan berbasis perspektif yang meliputi Opini, Esai, Kolom dan Artikel. Menurutnya, tiap tulisan yang berbasis sudut pandang, pasti masuk salah satu dari empat mazhab tulisan perspektif.

“Yang penting nulis dulu, tidak perlu bingung dengan mazhab maupun jenisnya.” Kata Mas Rizqy.

Menurutnya, menulis memang bukan perkara mudah. Sebab butuh keberanian untuk salah dan terlihat aneh. Tapi, bukan berarti dihindari. Tapi justeru harus diawali.

Sialnya, yang namanya mengawali pasti sulit. Seperti saat kita ingin mengawali berkenalan pada seseorang: butuh keberanian.

Menurut pemateri, segala sesuatu memang harus diawali, terlepas bagaimanapun akhirnya (hasilnya). Seperti halnya perasaan cinta, ia harus diungkapkan. Masalah ditolak atau diterima, itu urusan belakangan.

Jadi, mengawali itu memang sangat penting. Sebab, bagaimana bisa mencipta sebuah karya jika tidak pernah mengawalinya?

Dalam diskusi yang amat santai dan penuh guyonan tersebut, ada hal yang sangat menarik dan sulit dilupakan. Bukan soal apa yang didiskusikan. Tapi lebih pada soal moderator yang membawakan acara diskusi. Ya, si moderator adalah sahabat Joko Kuncoro.

Joko baru beberapa hari putus dari pacarnya. Iya, dia sedang patah hati. Tapi, Joko tetap terlihat tegar saat memoderasi acara diskusi. Bahkan, senyum lebar pun masih tampak di wajahnya. Meski sesungguhnya, dia menggendong kesedihan.

Dari sana, diskusi pun melebar ke berbagai arah. Bahkan mengarah pada cara menyikapi rasa sedih akibat patah hati, menggunakan tulisan. Sebab, menurut pemateri, patah hati bisa jadi semacam wasilah untuk mengawali proses menulis.

Dengan patah hati, perasaan kian tajam. Kian banyak hal yang bisa dimuntahkan dari kepala. Muntahan-muntahan itulah, disadari atau tidak, bisa jadi tinta emas sebuah tulisan.

Tapi, kata Mas Rizqy, menulis tidak perlu menunggu sedang patah hati. Dalam keadaan sedih maupun bahagia, menulis tetap bisa dilakukan. Asal mau mengawalinya, dan berniat menyelesaikannya.

Dalam acara itu, kata-kata populis dari sosok Tan Malaka: Terbentur, Terbentur, Tebentur dan Terbentuk pun, berubah menjadi Terbentur, Terbentuk dan Terlupakan sebagai cermin atas apa yang Joko rasakan.

Terbentur untuk bertemu, terbentuk perasaan cinta, lalu terlupakan oleh cahe entah karena apa.

Tapi, Joko tetap tersenyum. Joko tetap tegar. Sebagai Wakil Ketua 1 PK PMII Sunan Giri, dia tetap berdada jembar. Sebab dia yakin bahwa proses terbentur, terbentuk dan terlupakan adalah fase yang wajar dialami manusia dalam hidup.

Terlebih, mereka yang pernah menulis, kata pemateri, pasti pernah menjalani proses benturan hebat di kepalanya. Pernah mengalami pembentukan keberanian, dan pernah merasakan sedihnya dilupakan.

Benturan hebat di kepala tentu bukan membentur-benturkan kepala di tembok. Tapi benturan antara keyakinan dan keraguan, yang akhirnya membentuk keberanian untuk mengambil keputusan, dan siap melawan sedih jika ia dilupakan.

Karena itu, di dalam proses menulis, terbentur, terbentuk dan terlupakan adalah sesuatu yang wajar. Sesuatu yang normal. Seperti halnya datangnya perasaan sedih saat teringat seorang mantan.

Tags: PK PMII Sunan GiriTerbentukTerlupakanTulisan
Previous Post

Forum Radio Bojonegoro Peringati Hari Disabilitas Internasional

Next Post

Ujian Nasional Harus Tetap Ada

BERITA MENARIK LAINNYA

Warga Desa Trucuk Antusias Mengikuti Praktik Pengelolaan Sampah Untuk Menambah Penghasilan Rumah Tangga
Peristiwa

Warga Desa Trucuk Antusias Mengikuti Praktik Pengelolaan Sampah Untuk Menambah Penghasilan Rumah Tangga

18/02/2026
Program GAYATRI Dorong Peningkatan Penghasilan Keluarga Rentan di Desa Mori Trucuk
Peristiwa

Program GAYATRI Dorong Peningkatan Penghasilan Keluarga Rentan di Desa Mori Trucuk

12/02/2026
PAC IPNU–IPPNU Dander Bojonegoro Guncang Tabu Sejarah Lewat Diskusi Genosida 1965
Peristiwa

PAC IPNU–IPPNU Dander Bojonegoro Guncang Tabu Sejarah Lewat Diskusi Genosida 1965

01/02/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Di Antara Lapar dan Debu

Di Antara Lapar dan Debu

18/02/2026
Warga Desa Trucuk Antusias Mengikuti Praktik Pengelolaan Sampah Untuk Menambah Penghasilan Rumah Tangga

Warga Desa Trucuk Antusias Mengikuti Praktik Pengelolaan Sampah Untuk Menambah Penghasilan Rumah Tangga

18/02/2026
Cahaya di Ufuk Barat: Kisah Perburuan Hilal Awal Ramadhan dari Masa ke Masa

Cahaya di Ufuk Barat: Kisah Perburuan Hilal Awal Ramadhan dari Masa ke Masa

18/02/2026
‎Sejarah Desa Mori, Jejak Tionghoa di Kelokan Bengawan

‎Sejarah Desa Mori, Jejak Tionghoa di Kelokan Bengawan

17/02/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: