Bojonegoro Institute (BI) bekerjasama dengan Ford Foundation adakan pelatihan metode penelitian Sustainable Livelihood Approach (SLA). Acara dihelat di Javanila Resto Bojonegoro (19/5/2025) itu, ditujukan untuk memperkenalkan metode SLA sebagai cara pengentasan kemiskinan.
Kegiatan ini juga diikuti beberapa perwakilan NGO, akademisi, hingga para pegiat sosial di Bojonegoro. Sebagai narasumber utama, Pakar Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan, Dr. Rita Parmawati SP., ME. dari Universitas Brawijaya Malang.
Meski memiliki APBD sebesar 7,4 Triliun, data BPS menyebut sebanyak 147,33 ribu jiwa atau sekitar 11,69 persen masyarakat Bojonegoro berada di bawah garis kemiskinan, yang mayoritas berada di kawasan pedesaan, dengan mata pencaharian bergantung pada sumber daya alam.
Masyarakat miskin pedesaan semakin rentan, akibat meningkatnya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Sebagaimana diketahui, pertanian dan peternakan jadi sektor perekonomian paling terdampak perubahan iklim. Terlebih lagi, Bojonegoro juga langganan bencana: kekeringan saat musim kemarau, dan banjir saat musim penghujan.
Berangkat dari hal itu, Bojonegoro Institute (BI) bekerjasama dengan Ford Foundation – dan telah mendapat persetujuan dari Pusat Fasilitasi Kerjasama (Fasker) Kementerian Dalam Negeri, gelar pelatihan fasilitasi metode Penghidupan Berkelanjutan (Sustainable Livelihood Approach/SLA).

Dalam paparannya, Dr. Rita Parmawati menyatakan, SLA merupakan pendekatan komprehensif dalam berfokus pada upaya mengatasi kerentanan, meningkatkan aset dan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup secara berkelanjutan, serta menjaga kelestarian lingkungan dan potensi lokal.
“SLA ini untuk meningkatkan efektivitas program pembangunan dan mempromosikan penghidupan berkelanjutan” Ucap Rita.
Lebih jauh ia menjelaskan, konsep utama SLA adalah pembangunan ekonomi yang selaras dengan kelestarian ekologi. Karena itu, identitas SLA bisa dilihat pada keberadaan 5 unsur modal utama SLA. Yaitu Modal Alam, Modal Fisik, Modal Finansial, Modal Sosial, dan Modal Manusia.
SLA, menurut dia, sangat menitikberatkan pada partisipasi masyarakat. Tidak hanya fokus pada dimensi ekonomi, tetapi juga dimensi sosial, budaya, serta lingkungan. Ini alasan SLA sangat identik dengan promosi kearifan lokal. Bahkan, mendorong kemajuan berbasis inovasi kearifan lokal.
Direktur Bojonegoro Institute, Awe Syaiful Huda berharap, dalam kegiatan ini, para pemangku kebijakan dan pemangku kepentingan desa sekitar kawasan migas dan hutan mampu menerapkan pendekatan penghidupan berkelanjutan (Sustainable Livelihood Approach) dalam pemberdayaan masyarakat miskin.
“Metode SLA sangat kompleks dan detail dalam memetakan kerentanan sosial. Karena itu, harus banyak yang memahaminya” Ucapnya.
Tujuan dilaksanakannya SLA, kata dia, dalam rangka meningkatkan kemampuan partisipan — yang terdiri atas akademisi, pegiat NGO, komunitas perempuan, difabel, pemangku kebijakan, serta para Kader Desa — dalam mengembangkan penghidupan berkelanjutan (Sustainable livelihood) masyarakat desa kawasan migas dan hutan.








