Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Ngerti, Ngroso, Nglaku: Tiga Kata yang Terlupa di Sekolah Kita

Toto Rahardjo by Toto Rahardjo
09/11/2025
in Cecurhatan
Ngerti, Ngroso, Nglaku: Tiga Kata yang Terlupa di Sekolah Kita

Ilustrasi: Taman Siswa

Di hari yang sunyi nanti, kita akan sadar bahwa pendidikan sejati adalah perjalanan pulang menuju diri sendiri. Di sana; ngerti, ngroso, dan nglaku bukan sekadar konsep, tapi cara hidup dan mencintai dunia. 

Sekolah-sekolah kita berdiri megah di tengah kota yang bising—papan namanya berkilau, slogan-slogannya berwibawa. “Mencetak Generasi Emas.” “Menyiapkan Pemimpin Masa Depan.” Tapi di ruang-ruang kelas yang dingin oleh pendingin udara dan kering oleh imajinasi, anak-anak duduk diam, menyalin kata-kata dari layar proyektor ke buku catatan yang akan segera dilupakan.

Baca Juga: Yang Terlupakan; antara Riset, Rumput Tetangga, dan Dedaunan Tropis 

Mereka diajari untuk ngerti—memahami rumus, menghafal definisi, mengulang teori. Tapi di mana ngroso dan nglaku yang pernah diajarkan Ki Hadjar Dewantara sebagai napas pendidikan sejati? Tiga kata itu—ngerti, ngroso, nglaku—bukan sekadar urutan proses belajar, melainkan trilogi kemanusiaan.

Ngerti berarti memahami dengan akal; ngroso berarti menyelam ke kedalaman rasa; nglaku berarti menjadikan pengetahuan dan rasa itu nyata dalam tindakan. Di situlah pendidikan menjadi hidup, bukan sekadar administrasi. Tapi hari ini, kita hanya berhenti di kepala. Sekolah menjadi industri informasi, bukan taman bagi pengalaman.

Di sudut-sudut negeri, guru seni diminta menyerahkan jam pelajarannya demi “mata pelajaran inti”. Olahraga dipangkas, musik dianggap hobi. Pendidikan karakter dijadikan kurikulum formal, diseragamkan dalam lembar kerja dan rubrik penilaian. “Nilai moral” diajarkan, tapi tanpa tubuh, tanpa napas, tanpa ruang untuk merasakan. Seakan-akan rasa bisa diukur oleh pilihan ganda.

Ironisnya, ketika anak-anak berhenti merasa, mereka juga berhenti bertindak. Sekolah mengajarkan kepatuhan, bukan keberanian. Keberhasilan diukur dari kemampuan meniru, bukan mencipta. Pendidikan yang seharusnya menumbuhkan manusia yang utuh—yang berpikir, merasakan, dan bertindak dengan kesadaran—telah direduksi menjadi mesin sertifikasi.

Lihatlah bagaimana negara merespons krisis moral dengan menambah jam pelajaran Pancasila, seolah nilai bisa ditanam lewat hafalan. Seolah kejujuran dan solidaritas lahir dari PowerPoint. Pancasila kehilangan tubuhnya di tengah ritual upacara, kehilangan nadinya di ruang rapat birokrasi pendidikan.

Padahal, semangat ngroso dan nglaku itu justru hidup di tempat-tempat yang tak diakui sekolah: di bengkel tempat anak muda belajar membuat meja dari kayu bekas; di sanggar kecil tempat anak-anak menggambar mural tentang mimpi mereka; di ladang, ketika petani muda mencoba memahami tanah dan musim dengan tangannya sendiri. Di situlah pendidikan masih berarti—di tempat di mana belajar bukan untuk nilai, tapi untuk hidup.

Namun kita tetap saja menempatkan pendidikan vokasi di kelas dua, seolah bekerja dengan tangan lebih rendah daripada berpikir dengan kepala. Kita lupa bahwa makership—kemampuan membuat sesuatu—adalah wujud paling konkret dari berpikir. Kita lupa bahwa karya adalah doa yang diwujudkan dalam bentuk.

Mungkin, di masa depan, sekolah harus kembali menjadi taman. Tempat anak belajar menanam, bukan hanya menghitung. Tempat anak mendengarkan, bukan sekadar menjawab. Tempat akal dan rasa berdialog, tangan bekerja, dan hati memahami arah hidupnya sendiri.
Karena pendidikan tanpa ngroso melahirkan manusia tanpa empati.

Pendidikan tanpa nglaku melahirkan generasi yang hanya pandai berbicara. Dan bangsa tanpa keduanya hanya akan berisi orang-orang pintar yang kehilangan rasa, kehilangan arah, dan kehilangan makna kemanusiaannya sendiri.

Sekolah hari ini seperti kota yang kehilangan matahari: sibuk, terang oleh cahaya buatan, tapi dingin dan gelap di dalamnya. Anak-anak duduk di ruang-ruang berpapan tulis digital, tapi tak lagi belajar. Mereka hanya bersekolah. Padahal, konsep pokok dalam pendidikan adalah belajar—juga berguru—bukan bersekolah.

Belajar bukan soal nilai atau ijazah, melainkan proses memaknai pengalaman. Dan pengalaman, sebagaimana setiap dongeng yang baik, selalu bercerita tentang aku dan sekelilingku.

Di situlah pendidikan sejati lahir: dari tubuh yang bersentuhan dengan waktu dan ruang, dari hati yang belajar mengolah rasa, dari tangan yang berbuat dan membuktikan. Namun, “aku” dalam sistem pendidikan kita kini menghilang. Ia digantikan oleh angka, ranking, skor, rubrik penilaian, dan data statistik yang dingin.

Sementara waktu dan ruang dikurung dalam jadwal pelajaran yang teratur rapi, tak memberi tempat bagi kebetulan, kesalahan, atau keajaiban—padahal justru dari situlah pengalaman hidup tumbuh.

Ki Hadjar Dewantara dulu mengajarkan ngerti, ngroso, nglaku. Kini, kita hanya ngerti—itu pun sekadarnya, lewat slide presentasi dan pilihan ganda. Pendidikan telah tereduksi menjadi informasi. Anak-anak belajar untuk menjawab, bukan untuk memahami. Padahal, setiap belajar sejati harus melalui siklus alami: baca-tulis-bicara.

Belajar dimulai dari mengalami—dari meraba dunia dengan pancaindra, dari menggumamkan pertanyaan kecil pada semesta. Lalu membaca—tak hanya teks, tapi tanda-tanda di langit dan bumi. Menulis—mengolah simbol menjadi makna, membangun dunia dari kata. Dan akhirnya bicara—menyebarkan kebenaran yang ditemukan melalui pengalaman.

Siklus itu spiritual, bukan administratif. Ia digerakkan oleh siklus lain: bukti-cari-tegak-sebar. Praktik adalah bukti, membaca adalah pencarian, menulis adalah penegakan, dan bicara adalah penyebaran kebenaran. Dua siklus ini—belajar dan kebenaran—hanya hidup jika dibakar oleh karakter: amanah, jujur, cerdas, dan peduli.

Tetapi sekolah kita kini kehilangan jiwa itu. Ia menjadi pabrik sertifikasi. Ia mencetak tenaga kerja, bukan manusia. Ia menjauhkan murid dari guru, karena guru sendiri telah kehilangan otoritas spiritualnya. Guru dijadikan pelaksana kurikulum, bukan penuntun kehidupan.

Di ruang-ruang guru, kita sering mendengar keluhan yang sunyi: “Anak-anak sekarang sulit diatur.” Padahal mungkin bukan anak-anak yang berubah, melainkan sekolah yang tak lagi relevan. Dunia telah bergeser: teknologi informasi melesat lebih cepat daripada kurikulum. Mesin pencari kini menjadi guru baru. Dan jika sekolah tak berubah, ia akan menjadi museum abad ke-21, dengan guru sebagai fosil yang masih menjelaskan peta dunia di zaman yang sudah berpindah ke metaverse.

Ivan Illich sudah lama memperingatkan: deschooling society—membebaskan masyarakat dari mitos sekolah. Sebab sekolah bukan satu-satunya jalan menuju pengetahuan. Pengetahuan adalah milik semua orang yang berani mengalami, membaca, menulis, dan berbicara tentang kebenaran hidupnya sendiri.

Pendidikan sejati adalah kegiatan spiritual. Ia bukan ritual ujian nasional, melainkan doa yang panjang untuk memahami kehidupan. Ia lahir dari perjumpaan antara manusia, alam, dan Tuhan. Alam adalah simbol, Tuhan adalah esensinya. Membaca tanda-tanda alam berarti membaca ayat-ayat Tuhan yang terserak di setiap embun, setiap daun yang gugur, setiap langkah kaki di jalan tanah.

Dan mungkin, pendidikan masa depan tidak lagi berbentuk gedung dengan pagar dan seragam, tapi jaringan-jaringan kecil dari para pembelajar yang saling berbagi makna. Mereka berguru pada kehidupan, bukan pada sistem. Mereka membuktikan iman mereka lewat karya—karena belajar sejati adalah keberanian berkarya sebagai bukti dari keyakinan.

Barangkali, di hari yang sunyi nanti, kita akan sadar bahwa sekolah hanyalah rumah sementara. Bahwa pendidikan sejati adalah perjalanan pulang menuju diri sendiri. Di sana, ngerti, ngroso, nglaku bukan sekadar konsep, tapi cara kita hidup—dan mencintai dunia. []

 

Nitiprayan, 01 November 2025

Tags: Catatan Toto RahardjoMakin Tahu IndonesiaNgerti Ngroso Nglaku
Previous Post

Canda Tawa Imam Syafi'i dengan Seorang Politisi

Next Post

Peringati Hari Pahlawan, Perpustakaan Unugiri Lakukan Besih-bersih

BERITA MENARIK LAINNYA

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur
Cecurhatan

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas
Cecurhatan

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya
Cecurhatan

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026

Anyar Nabs

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: