Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Pesan Kedua Kiai Dahlan: tentang Prinsip dalam Perbedaan Argumen

Ahmad Fuady by Ahmad Fuady
06/04/2022
in Headline
Pesan Kedua Kiai Dahlan: tentang Prinsip dalam Perbedaan Argumen

Meskipun tegas dalam persoalan akidah dan ketuhanan, Kiai Dahlan tak segan untuk mencontoh, mengambil, dan memodifikasi hal-hal yang baik dari umat beragama lain.

Bising. Itu alasan utama saya pamit undur diri dari media sosial Facebook dan Instagram lebih dari lima tahun lalu. Praktis saat ini saya hanya aktif di media sosial Twitter dan Whatsapp. Kebisingan yang saya rasakan jika ditarik akarnya adanya persoalaan kalim kebenaran: Saya dan kami benar, kamu dan mereka salah.

Media sosial menjadi dunia baru tempat memperebutkan eksistensi. Tak pelak, kebutuhan untuk memperoleh predikat siapa yang benar begitu amat menggoda. Efek dasi sebagai ikutan fakta ini adalah hilangnya kepakaran. Setiap orang, kelompok, dan golongan dengan begitu mudah mengeklaim dirinya sebagai ‘pakar’ yang tahu segala persoalan. Produk akhirnya kebenaran kian abu-abu.

Kompetisi perebutan nilai; kontestasi aneka pemikiran; disrupsi banyak gagasan adalah wajah dunia kita hari ini. Penyematan aku benar-kamu salah juga kami baik-mereka buruk begitu amat melelahkan. Manusia zaman kini menganggap sedang berselancar dengan limpahan informasi, meski sejatinya telah terombang-ambing informasi.

“Manusia satu sama lain selalu melemparkan pisau cukur, mempunyai anggapan pasti paling tepat dia melemparkan celaka kepada orang lain.” Kalimat fatwa Kiai Dahlan terasa betul dengan dunia kita hari ini. Kebenaran menjadi alat cukur yang digunakan untuk melukai pihak lain, individu dan kelompok.

Kiai Dahlan begitu mengkhawatirkan kondisi masyarakat secara individual maupun komunal yang menganggap dirinya benar dan sudah benar, kemudian mengarahkan telunjuk kepada individu dan kelompok lain sebagai pihak yang salah.

Akibatnya, ada individu dan kelompok yang sudah merasa benar dan tidak mau memahami keadaan, pendirian, hujjah, dan argumen liyan. Akibatnya sudah pasti: Perselisihan, pertengkaran, dan permusuhan. “Semua golongan bersukaria dengan barang yang ada dalam golongannya”, tandas Kiai Dahlan mengutip ar-Ruum ayat 32.

Kegelisahan Kiai Dahlan kalau kita kontekstualisasikan dengan dunia kita hari ini, betapa mengena. Informasi bertebaran, mudah diperoleh, pakar dan ahli tidak lagi dirujuk, percaya diri dan yakin pendapatnya adalah “kebenaran” itu sendiri. Setiap pihak seperti memegang senjata yang siap dilemparkan untuk melukai ke pihak lain yang berseberangan.

Kondisi saling mengeklaim kebenaran juga terjadi di kalangan umat beragama. Baik antaragama yang berbeda maupun antarumat dalam satu agama yang sama. “Kebanyakan di antara para manusia,” kata Kiai Dahlan, “berwatak angkuh dan takabur, dan mereka mengambil keputusan sendiri-sendiri.”

Klaim kebenaran antaragama lumrah terjadi. Islam mengajarkan agama paling benar, selainnya salah. Kristen menganggap selain dirinya salah. Bahkan orang yang tidak beragama menilai orang yang beragama adalah salah. Masing-masing doktrin agama membenarkan ajarannya sambil memberi predikat salah bagi selainnya.

Kiai Dahlan begitu tegas dalam soal doktrin akidah Islam. Kebenaran agama Islam bersifat mutlak sekaligus rasional. Oleh sebab itu, dalam soal perbedaan doktrin agama, Kiai Dahlan menganjurkan para tokoh masing-masing agama untuk duduk bersama untuk mendiskusikan mana yang benar dan salah.

Prinsip diskusi, musyawarah, dan berdebat dalam menilai ajaran agama mana yang benar dan salah dilakukan oleh Kiai Dahlan. Upaya itu untuk menegaskan kebenaran ajaran agama, bukan untuk mencampuradukkan ajaran agama.

Kiai Dahlan dikenal sebagai sosok yag luas pergaulannya, baik dengan tokoh seagama maupun yang berbeda agama. Kiai Dahlan kerap kali bertukar pikiran dengan mereka. Kiai Dahlan tercatat pernah bertukar pikiran serta berdebat tebtang masalah ketuhanan dengan para pendeta, di antaranya van Lith, van Driesse, dan Domine Bakker. Hal ini menunjukkam prinsip teguh Kiai Dahlan soal kebenaran iman Islam.

Meskipun tegas dalam persoalan akidah dan ketuhanan, Kiai Dahlan tak segan untuk mencontoh, mengambil, dan memodifikasi hal-hal yang baik dari umat beragama lain. Ketika mendirikan rumah sakit dan kekurangan dokter, Kiai Dahlan mempekerjakan dokter nonmuslim di rumah sakit yang didirikannya.

Situasi yang seringkali pelik adalah hubungan antarumat dalam satu agama. Tidak jarang karena hanya berpijak dari pandangannya sendiri, yang dinilai benar, individu dan kelompok lain diberi stempel salah. Beragama yang demikian akan jatuh ke lubang hitam bernama kelompokku benar, kelompokmu salah.

Kiai Dahlan betul-betul mengharapkan antarkelompok sesama muslim mengedepankan duduk bersama beusayawarah untuk mengetahui masing-masing pendapat, sehingga timbul kesepahaman dan kebenaran yang disepakati bersama. Tanpa ada kerelaan diri melakukan hal itu, fanatisme sempit akan menjadi sumber retakan yang berujung konflik.

Organisasi yang tumbuh dari rahim Islam sangatlah beragam dengan corak, manhaj, dan pengorganisasian khas demi mencapai tujuan yang utama: Memuliakan Islam dan pemeluknya. Organisasi hanyalah alat mencapai tujuan, bukanlah tujuan itu sendiri. Oleh karena itu, kesepahaman dan kerelaan diri untuk saling memahami adalah mutlak untuk ketercapaian tujuan.

Berlomba-lomba menampilkan amalan terbaik tentu adalah hal yang patut dikedepankan, tetapi merasa paling baik akan jadi persoalan. Mengupayakan kebenaran adalah mulia, tentu jangan sampai merasa paling benar. Menjadi alim tentu adalah dambaan, tetapi menilai diri paling alim tentu tidaklah cerminan sebagai seorang alim.

Beragama, berorganisasi, dan berdakwah bukanlah untuk menjadikan diri takjub dan takabur. Melainkan untuk saling menerima keragaman watak, menghargai dengan tulus, dan kemudian berlomba dengan amalan terbaik meski dengan jalan berbeda.

Tags: Khasanah RamadhanMuhammadiyahPesan Kiai Dahlan
Previous Post

Sebuah Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa

Next Post

Berikut 4 Tanda Tubuh Kamu Lelah dan Butuh Istirahat

BERITA MENARIK LAINNYA

Hakekat Lomba Agustusan dalam Kehidupan Sehari-hari
Headline

Hakekat Lomba Agustusan dalam Kehidupan Sehari-hari

17/08/2024
Islam Indonesia dan 7 Strata Masyarakat Nusantara
Headline

Islam Indonesia dan 7 Strata Masyarakat Nusantara

12/07/2024
5 Kuliner Bojonegoro Tempo Dulu yang Harus Kamu Tahu
Destinasi

5 Kuliner Bojonegoro Tempo Dulu yang Harus Kamu Tahu

07/05/2024

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: