Selama ini, kita mungkin hanya tahu tentang teks proklamasi yang ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta. Padahal, sebenarnya ada teks proklamasi lain yang pernah dibuat beberapa hari jelang 17 Agustus 1945, namun tak pernah dibacakan secara umum.
Peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia identik dengan berbagai macam hal. Salah satunya tentang teks proklamasi. Teks yang mengumumkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tersebut jadi narasi penting dalam sejarah tanah air.
Teks proklamasi yang dibacakan oleh Presiden Soekarno saat proklamasi memang punya daya magis luar biasa. Meski hanya berisikan 23 kata saja, teks proklamasi itu berhasil membuat rakyat bersuka cita dalam nuansa kemerdekaan.
Selama ini, kita mungkin hanya tahu kalau teks proklamasi yang ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta. Padahal, sebenarnya ada teks proklamasi lain yang pernah dibuat beberapa hari jelang 17 Agustus 1945.
Teks proklamasi versi lain itu disusun oleh Sutan Sjahrir. Jelang proklamasi kemerdekaan, Sjahrir memang punya peran yang cukup penting dalam kemerdekaan Indonesia. Sjahrir yang mendapatkan dukungan golongan muda diminta mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera mengumumkan kemerdekaan.
Menurut esai sejarawan Indonesia, Zen RS, pada 15 Agustus 1945, Sutan Sjarir sudah menuliskan teks proklamasi kemerdekaan. Teks buatan Sjahrir tersebut kemudian sempat disebarkan kepada orang-orang yang ikut dalam rapat penyusunan teks proklamasi.
Pada 16 Agustus, teks proklamasi buatan Sjahrir tersebut sempat dibacakan oleh Dr. Soedarsono di Cirebon. Namun, isi dari teks buatan Sjahrir itu tak terdokumentasikan.
Sampai sekarang belum ada catatan lengkap mengenai apa yang ditulis Sjahrir dalam teks proklamasi miliknya itu. Pada akhirnya, bukan teks buatan Sjahrir yang dibacakan oleh Soekarno. Melainkan teks yang disusun oleh trio Soekarno, M. Hatta dan Achmad Soebardjo pada dini hari 17 Agustus 1945.
Mungkin sejarah akan sangat berbeda jika teks proklamasi buatan Sjahrir yang dibacakan oleh Soekarno pada 17 Agustus. Walaupun sampai sekarang ini, tidak ada dokumentasi yang jelas dan pasti mengenai teks proklamasi buatan Sjahrir itu.
Sjahrir adalah sosok pahlawan yang dikenal sangat menentang keras penjajahan Jepang. Ia bahkan dengan keras mengkritik Soekarno-Hatta yang sempat membantu Jepang. Sikap keras dari Sutan Sjahrir ini membuatnya disegani dan disukai oleh kelompok muda.
Pasca kemerdekaan, Sjahrir sempat diserahi jabatan sebagai Perdana Menteri. Ia jadi perdana menteri dari 1945-1947. Ketika tu, Sjahrir jadi perdana menteri termuda di dunia.
Sayangnya kiprah dan karir Sjahrir di dunia perpolitikan Indonesia berakhir dengan derita. Pada akhir masa hidupnya, Sjahrir “dibuang” ke Swiss dan jadi tahanan politik di sana. Sampai meninggal pada 1966.
Sutan Sjahrir akan tetap dikenang sebagai sosok pahlawan yang punya integritas tinggi. Dengan watak kerasnya, Sutan Sjahrir jadi sosok yang disegani oleh semua golongan, baik tua maupun muda.
Sampai sekarang, isi teks proklamasi buatan Sjahrir masih jadi tanda tanya. Sejarah kemerdekaan Republik Indonesia mungkin akan berbeda jika teks proklamasi buatan Sjahrir yang dibacakan Soekarno pada 17 Agsutus 1945.








