Tlatah Bhinnasrantaloka adalah status istimewa yang pernah dimiliki Bojonegoro, sebagai titik penentram dan penyatu Nusantara. Mayoritas Raja Jawa, menaruh penghormatan pada Bhinnasrantaloka.
Pernah dengar mitos “Bojonegoro wilayah yang dihindari Presiden?” Ya, mitos ini, sesungguhnya mengabarkan sedimentasi fakta sejarah. Secara ilmiah, ada banyak data empiris yang menyebut Bojonegoro sebagai wilayah yang dihormati mayoritas Raja Jawa.
Data literatur menunjukan, ratusan tahun sebelum bernama Bojonegoro, wilayah ini sudah memiliki keistimewaan di mata Para Raja. Kawasan bertembok bukit raksasa, didiami energi api, dan mendominasi sungai terpanjang di Pulau Jawa ini, adalah titik Bhinnasrantaloka — posisi geografis yang dihormati Para Raja.

Bhinnasrantaloka merupakan istilah “original” Bojonegoro. Selain merujuk pada posisi yang khas beserta Sumber Daya Alamnya, Bhinnasrantaloka juga merujuk pada kebijaksanaan Para Begawan yang berkontribusi besar atas penyatuan Nusantara, serta membangun pondasi berdirinya Wangsa Rajasa dan Kerajaan Singhasari.
Istilah Bhinnasrantaloka yang ditulis Raja Wisnuwardhana pada 1246 M inilah, yang kelak menginspirasi Empu Tantular menulis kalimat berbunyi Bhineka Tunggal Ika pada (1389 M). Keduanya bermakna penyatuan, harmoni, keseimbangan, hingga titik temu berbagai macam perbedaan.
Baca juga: Bhinnasrantaloka, Konsep Harmoni dan Toleransi dari Bojonegoro
Wilayah yang kini dikenal dengan Bojonegoro ini, sejak berabad-abad silam, masyhur sebagai tempat penempaan Para Raja, dan pondasi berdirinya kerajaan-kerajaan. Hampir di tiap zaman, wilayah ini jadi pusat Para Begawan: Pertapan Wiku, Pendharmaan Brahmana, dan Zawiyah Wali.

Hampir mayoritas Maharaja Jawa, khususnya dalam Wangsa Rajasa (dari pendiri wangsa sampai Raja generasi terakhir wangsa), tercatat menaruh jejak penghormatan pada Bojonegoro. Penghormatan itu dibuktikan adanya dokumen kuno menceritakan kondisi Sumber Daya Alam di wilayah Bojonegoro, pada tiap-tiap masa kepemimpinan mereka.
Tlatah Bhinnasrantaloka merupakan status geografi istimewa yang ditetapkan Sri Maharaja Wisnuwardhana (1248 – 1268 M) untuk Jipang (Bojonegoro), sebagai tanah penentram dan penyatu Nusantara. Status istimewa tersebut, didukung posisi geografis yang amat strategis: berpagar bukit raksasa, mengandung energi api, dan mendominasi sungai terpanjang di Pulau Jawa.
Penetapan Bojonegoro sebagai Tlatah Bhinnasrantaloka, dilakukan Raja Wisnuwardhana pada 28 Agustus 1246 M, melalui Prasasti Maribong, sebuah prasasti yang menceritakan kebesaran dan kebijaksanaan Para Begawan dan Brahmana di wilayah Maribong (sebuah wilayah yang kini berada di Dusun Merbong, Payaman, Ngraho, Bojonegoro).
Pondasi Kerajaan Tumapel
Raja Wisnuwardhana merilis Prasasti Maribong, atas dasar rasa hormat sekaligus terimakasih, karena Para Brahmana Maribong, telah membantu leluhurnya dalam menyatukan Jawa. Berkat bantuan Para Begawan Maribong itu, Wangsa Rajasa dan Kerajaan Tumapel (Singhasari) pun bisa berdiri.
Para Brahmana Maribong menyatukan Jenggala dan Panjalu (Kediri), dan meminta Ken Anggrok untuk membangun kerajaan baru yang bernama Tumapel (Singashari). Pondasi dan embrio Singashari disiapkan di tempat ini. Hal ini jadi alasan, Ken Anggrok beserta semua penerusnya, sangat hormat pada para Begawan dan Brahmana di wilayah ini.
Sebagai penerus Kerajaan Singhasari, Raja Wisnuwardhana merasa pantas memberi penghormatan pada Para Begawan Maribong, dan menasbihkan tanah di mana mereka hidup itu, sebagai Tlatah Bhinnasrantaloka: tanah penentram dan penyatu Nusantara.
Dokumen tentang Bhinnasrantaloka tercatat abadi pada baris ke-5 Prasasti Maribong (1264 M). Prasasti yang membahas kebesaran Bojonegoro ini, entah kenapa, tak pernah diajarkan pada kurikulum pelajaran di sekolah. Untuk diketahui, prasasti ini tersimpan dengan nama kode: Prasasti Trowulan II (Koleksi Museum Nasional).

Prasasti yang dihadiahkan untuk Para Begawan Maribong tersebut, jelas tertera kalimat: swapitamahastawana bhinnasrantalokapalaka, sebuah kalimat yang oleh para sejarawan diartikan sebagai: leluhurnya yang telah menentramkan dan mempersatukan dunia/nusantara.
Para sejarawan (L.C Damais, JL. Moens, dan Marwati Djoened) menyebut leluhur atau kakek Wisnuwardhana yang dimaksud pada teks itu, adalah Raja Ken Anggrok. Informasi itu, sesuai Naskah Negarakertagama yang menyebut Sri Ranggah Rajasa atau Ken Anggrok (Pendiri Singashari), telah berhasil menyatukan Nusantara.
Penyatuan Nusantara, dalam hal ini, adalah penyatuan Jenggala (Utara Jawa) dan Panjalu (Selatan Jawa), yang pada masa pemerintahan Raja Erlangga (1019 – 1043 M), atas nama kerukunan, sempat dipisah untuk menghindari perang saudara. Dan atas nama perdamaian, Para Begawan Maribong (Bojonegoro) kembali menyatukannya.
Berkat bantuan Para Begawan Bojonegoro itulah, Raja Ken Anggrok mampu mendirikan Kerajaan Singhasari dan Wangsa Rajasa. Ini alasan utama Raja Wisnuwardhana sangat hormat pada para Begawan Maribong (Bojonegoro). Penghormatan itu, secara empiris, diwujudkan dengan Prasasti Maribong (1264 M).
Sejarawan lainnya menyebut, leluhur Wisnuwardhana yang dimaksud di atas adalah Raja Airlangga (990-1049 M). Sebab, Raja Airlangga pernah menyatukan Medang Jawa Tengah dan Medang Jawa Timur di titik yang sama dengan lokasi Maribong, seperti tercatat pada Prasasti Pucangan (1041 M). Berkat penyatuan Medang Jawa Tengah dan Medang Jawa Timur itulah, Kerajaan Medang Kahuripan (1019 – 1046 M) pun akhirnya bisa berdiri.
Harus diketahui, Raja Wisnuwardhana adalah keturunan Raja Airlangga, melalui kekerabatan keluarga Jenggala. Jika Raja Airlangga pernah menyatukan Medang Jawa Tengah dan Medang Jawa Timur di Lwaram (Pucangan 1041 M), Raja Wisnuwardhana juga menyatukan Jenggala dan Panjalu di Maribong (Maribong 1264 M). Wajib diketahui, Maribong adalah lokasi yang sama dengan Lwaram (Loram).
Namun, yang wajib diketahui lagi, ratusan tahun sebelum itu semua terjadi, Bumi Njipangan sudah dimuliakan Raja Dyah Baletung (898-910 M), sebagai tlatah Devata Lumah ing Sotasrungga, kawasan Medang yang masyhur sebagai persemayaman Para Dewa. Data empiris terkait Sotasrungga, bisa dilihat dalam Prasasti Telang (903 M) dan Prasasti Sangsang (907 M). Sotasrungga adalah pondasi utama Bhinnasrantaloka.
Tanah yang Dihormati Para Raja
Tak hanya Raja Wisnuwardhana yang memberi penghormatan pada Bhinnasrantaloka. Semua anak cucu Wangsa Rajasa juga melanjutkan tradisi itu. Raja pertama hingga raja terakhir Majapahit misalnya, melanjutkan penghormatan pada Bhinnasrantaloka, seperti yang telah dilakukan para leluhurnya. Berikut data-faktanya.
1. Maharaja Dyah Wijaya atau Raden Wijaya (1293 – 1309 M), pendiri Kerajaan Majapahit, merilis sebuah dokumen membahas kondisi wilayah Bojonegoro tepat di awal masa kepemimpinannya. Dokumen bernama Prasasti Adan-adan (1301 M) itu, mendokumentasikan titik-titik kewilayahan dan SDA di sisi utara Bojonegoro pada masa itu.
Secara genealogi, Raden Wijaya adalah suami dari Tribuaneswari, yang merupakan putri dari Raja Kertanegara (1268 – 1292 M). Sementara Raja Kertanegara, adalah putra dari Raja Wisnuwardhana. Artinya, Raden Wijaya adalah cucu mantu dari Raja Wisnuwardhana.
2. Maharaja Hayam Wuruk (1350 – 1389 M), penguasa Terbesar Majapahit, juga merilis dokumen membahas wilayah Bojonegoro, di awal masa kepemimpinannya. Dokumen bernama Prasasti Naditira (1358 M) itu, menunjukan secara empiris dominasi kemakmuran sungai Bengawan di wilayah Bojonegoro.
Secara genealogi, Raja Hayam Wuruk adalah putra dari Ratu Tribhuwana Tunggadewi, pemimpin perempuan terbesar Majapahit. Sementara Tribhuwana Tunggadewi, adalah putri dari Raden Wijaya. Artinya, Raja Hayam Wuruk adalah cucu Raden Wijaya.
3. Maharaja Hayam Wuruk juga merilis Prasasti Sekar (1365 M), yang mendokumentasikan pembagian wilayah serta kondisi geo-politik saat itu. Dokumen kuno yang juga disebut dengan Prasasti Nglawang itu, menjelaskan secara detail kondisi alam di kawasan Gunung Lawang, Sekar, Bojonegoro.
4. Maharaja Dyah Suraprabhawa (1466-1468 M), yang merupakan penguasa terakhir Majapahit, merilis Prasasti Pamintihan (1473 M). Selain membahas ekosistem Gunung Pandan, juga menyiratkan kedekatannya pada gunung tersebut, yang membuat namanya dikenal sebagai Raja Pandansalas.
Secara genealogi, Raja Dyah Suraprabhawa adalah putra Raja Kertawijaya (1447-1451 M), penguasa ke-7 Majapahit. Raja Kertawijaya adalah putra dari Raja Wikramawardhana (1389-1429 M), penguasa ke-5 Majapahit, yang juga adik kandung Raja Hayam Wuruk. Artinya, Raja Suraprabhawa terhitung cucu Raja Hayam Wuruk.
Fakta Penting
Literatur di atas jadi bukti bahwa mayoritas Maharaja Jawa, dari zaman Sri Raja Ranggah Rajasa (Ken Arok), Raja Wisnuwardhana, Raja Dyah Wijaya (Raden Wijaya), Raja Hayam Wuruk, hingga Raja Suraprabhawa (Pandansalas), meninggalkan jejak penghormatan untuk Bhinnasrantaloka.
Artinya, sejak zaman pendiri Wangsa Rajasa (Raja Ken Anggrok); zaman Keemasan Singhasari (Raja Wisnuwardhana); zaman pendiri Majapahit (Raden Wijaya); zaman Keemasan Majapahit (Raja Hayam Wuruk); hingga akhir Majapahit (Raja Pandansalas), para Maharaja Jawa menaruh penghormatan yang empiris pada Tlatah Bhinnasrantaloka.
Data di atas adalah fakta penting bahwa semua Wangsa Rajasa — mulai pendiri wangsa (Raja Ken Anggrok) sampai anggota terakhir wangsa (Raja Dyah Suraprabhawa) — menaruh penghormatan empiris pada Bhinnasrantaloka, status istimewa yang pernah dimiliki Bojonegoro, sebagai titik penyatu Nusantara.
Penghormatan Wangsa Rajasa pada Bhinnasrantaloka di atas, sesungguhnya wajar. Sebab, jauh sebelum era Wangsa Rajasa, wilayah yang kini dikenal sebagai Bojonegoro ini, adalah pusat Wangsa Isyana (abad 10 M), sekaligus pewaris spirit “banyu-lengo“ Peradaban Telang (903 M) dan Sangsang (907 M).








