Di tengah zaman Artificial Intelligence (AI), Zakemsalam amat penting untuk kembali dimunculkan, meski sekadar paradigma dan pedoman.
Zakemsalam memang sudah hilang dan punah. Namun, menyisakan rentetan nilai, hikmah, serta paradigma dalam menghadapi kemajuan zaman. Melalui penulisan Seri Zakemsalam, selama beberapa tahun ini, Jurnaba fokus menjadikannya tema yang terus dimunculkan.
Golden Age of Islam atau Zaman Keemasan Islam (Zakemsalam), merupakan masa ketika Dunia Islam mengalami pesatnya perkembangan teknologi dan kebudayaan, bahkan menjadi tauladan Dunia Barat, khususnya dalam bidang sains, teknik rekayasa, dan ilmu kedokteran.
Zakemsalam juga dikenal sebagai masa ketika Dunia Barat, mengakui secara empiris, bahwa mereka mengekor pada kemajuan Dunia Islam (Dunia Timur). Masa Zakemsalam ini, terjadi pada abad 8 M hingga 13 M. Tepatnya pada tahun 750 M hingga 1258 M.
Dua mercusuar Zakemsalam adalah Perpustakaan Baitul Hikmah Baghdad dan Perpustakaan Kordoba Andalusia. Serupa Perpustakaan Baghdad yang mampu menciptakan ekosistem keilmuan dunia, Perpustakaan Kordoba Andalusia juga menetaskan banyak ilmuan besar dunia.

Pada abad 8 M, Baitul Hikmah Baghdad memiliki ratusan ribu koleksi naskah, pusat berkumpul para ilmuwan yang memiliki observatorium astronomi. Lebih dari itu, ia juga jadi pusat penerjemahan dan penulisan pengetahuan. Kontribusi terbesarnya adalah memengaruhi lahirnya perpustakaan lain, termasuk Perpustakaan Kordoba.
Kota Kordoba menjadi pusat keilmuan pasca Baitul Hikmah Baghdad. Pada abad ke-10 M, Kordoba Andalusia memiliki 70 perpustakaan. Di mana, satu perpustakaan memiliki 500 ribu koleksi naskah. Sebagai perbandingan, perpustakaan terbesar di Eropa kala itu memiliki 400 naskah, bahkan pada abad ke-14 M, Universitas Paris baru memiliki sekitar 2.000 buku.
Zakemsalam ditandai dengan lahirnya spirit literasi di kalangan masyarakat muslim. Baitul Hikmah Baghdad dan Cordoba Andalusia menggemparkan dunia dengan cara membangun ekosistem penulisan, penerjemahan, dan penyalinan ilmu pengetahuan.

Puncak Zakemsalam terjadi pada abad 9 dan 10 M, ketika muncul berbagai kemajuan di bidang sains, astronomi, teknik rekayasa, hingga ilmu kedokteran. Sementara di abad yang sama (abad 9 M dan 10 M), Dunia Barat masih buta diselimuti zaman kegelapan.
Pilar-pilar Zakemsalam
Pada abad 8 M, Jabir bin Hayyan (721 – 815 M), sudah amat masyhur sebagai Alkemis besar. Magnum opus berjudul Korpus Jabir, menjadi landasan dan pondasi ilmu kimia modern. Dunia Barat menyebut namanya sebagai Geber, dan melabelinya sebagai Bapak Ilmu Kimia Modern.
Pada abad 9 M, Al Kindi (805 – 873 M) sudah menemukan ilmu keamanan informasi berbasis algoritma kode. Al Kindi sudah menemukan perbedaan frekuensi kemunculan huruf untuk mengurai kode. Kelak, penemuannya ini dikenal sebagai Kriptografi. Dunia Barat menyebut Al Kindi sebagai Bapak Kriptografi.
Pada abad 9 M, Sahl Al Balkhi (850 – 934 M) sudah menemukan landasan teori neuroscience, cabang ilmu pengetahuan yang menghubungkan anatomi, fisiologi, dan biologi molekul jaringan saraf. Dunia Barat menyebut Al Balkhi sebagai pelopor psikoterapi, Bapak Psikofisiologi dan pengobatan Psikosomatis.
Pada abad 9 M, Zakariya Ar Razi (864 -930 M) sudah menulis teori kedokteran, bahkan menjadi penemu alkohol sebagai instrumen kesehatan. Karya-karyanya di bidang kedokteran jadi rujukan Eropa. Bahkan, menjadikan namanya dikenal sebagai dokter dan kimiawan terbesar sepanjang masa.
Pada abad 10 M, Abdurrahman al Sufi (903 – 986 M), sudah mampu menjelaskan bintang galaksi dan posisi bulan. Dia menjelaskan 48 rasi bintang beserta posisi astronomi bintang-bintang di dalamnya. Ia juga menemukan posisi planet serta arah pergerakan matahari. Dunia Barat mengenang namanya sebagai Azophi Arabus.
Pada abad 9 M, Al Khawarizmi (780 – 850 M), sudah menemukan konsep keseimbangan kalkulasi, metode Al Jabr, dan menerbitkan buku yang kelak dikenal sebagai Dixit Algorizmi, sebuah metode yang melandasi semua penemuan di bidang pemrograman dan komputer.
Nama-nama di atas, adalah pilar-pilar yang menjadi pondasi hampir semua inovasi teknologi hari ini. Termasuk Artificial intelligence (AI). Nama-nama di atas, juga menjadi inspirator utama lahirnya ombak zaman Aufklarung (pencerahan) di Eropa pada abad 18 M.
Nama-nama seperti Jabir bin Hayyan, Al Kindi, Sahl Al Balkhi, Zakariya Ar Razi, hingga Abdurrahman Al Sufi telah dilupakan Dunia Islam sendiri, hanya karena “disyiahkan”. Sementara diam-diam, Dunia Barat menauladani mereka dengan penuh kesunyian.
Wajib diketahui, Jabir bin Hayyan, Al Kindi, Sahl Al Balkhi, Zakariya Ar Razi, hingga Abdurrahman Al Sufi telah dilupakan Dunia Islam sendiri, hanya karena “disyiahkan” berjamaah, sehingga generasi setelahnya tak mau mengingat namanya, alih-alih mempelajari penemuannya.
Sementara diam-diam, Dunia Barat menauladani mereka dengan penuh kesunyian. Buktinya, mereka itulah yang kelak, “5 Abad Kemudian” menginspirasi lahirnya pemikiran progresif Galileo Galilei (1564 – 1642 M), Rene Descartes (1596 – 1650 M), hingga Isaac Newton (1643 – 1727 M).
Hancurnya Zakemsalam
Zakemsalam mengalami kehancuran karena beberapa sebab. Namun, yang paling utama ada dua. Yaitu, hancurnya Perpustakaan Baitul Hikmah Baghdad, serta dimusnahkannya Perpustakaan Kordoba Andalusia. Hancurnya dua mercusuar ini mengakhiri kebesaran Zakemsalam.
Pada 1258 M, pasukan Hulagu Khan Mongol menginvasi Baghdad. Jutaan buku dari Perpustakaan Baitul Hikmah dibakar dan dihanyutkan, hingga membuat arus sungai Tigris terbendung. Saking banyaknya buku, membuat air di sungai itu berwarna hitam kemerahan, akibat tinta buku-buku yang luntur mengubah warna sungai.
Pada 1492 M, benteng terakhir Andalusia menyerah pada Raja Fernando dari Aragon. Kekalahan Andalusia ini, kemudian diikuti pencurian semua koleksi naskah dari perpustakaan-perpustakaan Kordoba. Banyak dari koleksi ini yang disimpan di Vatikan dan kelak, pada abad 18 M, baru diterjemah, dipelajari, dan ditulis ulang Dunia Barat (masa Aufklarung).
Paradigma Zakemsalam
Zakemsalam memang sudah runtuh. Namun, rentetan nilai dan hikmah yang pernah ada, harus menjadi sebuah paradigma, dan pedoman pergerakan. Nilai-nilai Zakemsalam harus dipahami. Bahwa sebelum Dunia Barat mengenal inovasi, Islam sudah menghayati serta mengalami teknologi dan inovasi.
Zakemsalam mampu menggetarkan sekaligus menerangi dunia sejak abad 9 M dan 10 M. Sementara Dunia Barat baru bisa melakukannya pada abad 18 M. Faktanya, butuh waktu 8 abad (800 tahun) bagi Dunia Barat untuk mengejar kegemilangan Dunia Islam.
Spirit Zakemsalam harus dimunculkan. Dengan cara “membadaikan” tradisi literasi di kalangan masyarakat. Di tengah zaman Artificial Intelligence, Paradigma Zakemsalam penting untuk dimunculkan. Sehingga kita memahami bahwa DNA Timur (Islam) bukan sekadar objek inovasi, tapi subjek sekaligus native dari inovasi itu sendiri.








