Hikayat Takut Kualat
“Kau tahu kenapa bangsa kita tak pernah maju?” ia berteriak ke arahku. “Mereka yang mengatur itu serakah, penakut, ambisius, hedonis!....
Read more“Kau tahu kenapa bangsa kita tak pernah maju?” ia berteriak ke arahku. “Mereka yang mengatur itu serakah, penakut, ambisius, hedonis!....
Read moreAl-Furqon, pesantren yang terletak di pinggiran Sungai Barkah itu dipimpin Kiai Darmin sejak tahun 1980. Dia pendiri sekaligus pengasuh utama...
Read moreHujan deras mengguyur desa tanpa henti selama tiga hari berturut-turut. Air sungai terus meluap sehingga masuk ke pemukiman warga. Jeritan...
Read moreSudah pukul berapa ini? Aku mengerjapkan mata, menatap sinar matahari yang mengintip dari celah gorden kusam yang sudah berbulan-bulan tak...
Read moreBelakangan aku lelah mendengarkan orang-orang mengeluhkan tingginya biaya masuk kuliah. Di warung, di pasar, di rumah nasabah, dan bahkan di...
Read moreDua dunia seorang perempuan Yahudi Muslimah Mesir. “KE MANAKAH aku harus melangkah? Tetap menetap di Mesir atau pindah ke Israel?”...
Read moreKota tak sekadar ingar bingar. Ada lilin kecil yang terus berjuang untuk berpendar. Mendung bergelantungan di area kota. Ajeng atau...
Read moreProgresif dan militan saja tak cukup. Aktivis perlu mewariskan kenangan karya dan pemikiran. "Mas, iki Rudi dalam kondisi berbahaya." Kata Jokun...
Read more"Tapi, siapalah aku, memantik api cemburu di cerutumu yang lekas jadi abu...." Bait terakhir puisi itu diucap fasih sekali. Puisi...
Read moreAku terbangun lagi di tengah tidur malam ku, masih dengan mimpi yang sama, ku raba sekitar dan mengambil handphone, pukul...
Read more