Film Freedom Writers membuktikan bahwa menulis punya peran besar bagi kehidupan.
Nobar dan diskusi Vol.1 , Freedom Writers yang diselenggarakn pada (14/6) di Sematta Coffee cukup ramai. Acara diadakan Komunitas Sematta berkolaborasi dengan beberapa UKM/LPM se-Bojonegoro tersebut terbilang sukses.
Acara dipantik Aw Saiful Huda dan Ahmad Wahyu Rizkiawan, dengan MC Salwa Alya Ashari. Di forum tersebut, tidak hanya menyajikan Nobar maupun diskusi, tapi juga terdapat beberapa pameran lainnya.
Seperti, misalnya, peminjaman buku dari Buku Jenggala dan Lukisan-lukisan buatan dari Crengep art. Dimeriahkan juga oleh tamu-tamu yang datang dengan diskusi didalam forum kecil-kecilan tersebut.
Mungkin kalian akan bertanya-tanya, Seperti apakah film Freedom Writers itu? Mengapa harus menonton itu?
That’s a common question, and also interesting to discuss. Awal mula cerita seorang guru, yang bernama Erin Gruwell. Tokoh sekaligus penulis dari cerita ini hingga diangkat menjadi sebuah film. Tugasnya yang dipindahkan ke Long Beach, California.
Dia adalah guru bahasa Inggris yang berpendidikan tinggi. Hingga disaat dia mengajar salah satu kelas, dengan permasalahan-permasalahan dari murid-muridnya tersebut. Apakah Bu Guru Erin Gruwell bisa menyelesaikan semua permasalahan yang ada di kelas tersebut?
Untuk kelanjutan ceritanya, kalian bisa menonton sendiri, ataupun ikut berdiskusi dengan para anggota Komunitas Sematta.
Nobar berlangsung dengan tenang dan nyaman. Tidak ada yang mengobrol di dalam forum disaat penayangan. Diskusi pun berjalan mengalir selayaknya air yang mengalir di sungai bengawan Solo.
Ada beberapa pendapat dari para tamu-tamu yang mengomentari tentang film yang sempat diperlihatkan sebelumnya. Dengan sedikit dimeriahkan dengan beberapa pengalaman disaat berdiskusi maupun pengalaman pribadi setelah melihat film tersebut.
“Dalam film tersebut sosok Erin Growell mempraktikkan pendidikan yang membebaskan. Melalui pendekatan dialogis. Si guru tersebut sangat menarik karena bisa menarik rasa ingin tahu siswa. Seharusnya Guru memang seperti itu, harus punya metode yang bagus untuk menarik rasa ingin tahu siswa. ” terang Mas Aw.
” Apa yang dilakukan oleh guru Erin Growell itu seperti yang dipraktekkan Walisongo dulu. Yaitu menggunakan cara yang halus. Bukan kekerasan. Istilahnya : kenek iwak e gak butek banyune. Dari film itu kita tahu bahwa Wong moco iku garai ati lembut. Murid-murid yang awalnya seorang geng keras semacam itu, tetapi ketika diberi bacaan diary Anne Frank menjadi lembut, dan Larut. ” ucap Mas Rizky.
Kita tahu, tidak semua guru bisa disebut guru. Guru yang baik, adalah bagaimana cara mereka membimbing muridnya dalam melangkah maupun berproses. Dan, semua orang bisa menjadi gurumu.
Bukan hanya di sekolah, di pondok, ataupun tempat dimana kau menempa ilmumu. Tetapi, guru bisa kau dapati dimana saja asalkan, orang itu bisa membimbingmu dalam mengejar kebaikan.
Berawalan dengan hening, gelap, dan hanya cahaya dari proyektor yang menempel di dinding. Dengan suara percakapan, ataupun suara-suara yang ada didunia film tersebut muncul dari speaker. Nobar dan diskusi pada malam itu selesai dengan rasa kebahagiaan.








