Berikut ini pengumuman hasil Sayembara Nulis Bahagia 2020 Jurnaba. Kepada para juara, selamat!
Meski para motivator mengatakan jika hidup adalah pilihan dan karena itu harus memilih, memilih juara Sayembara Nulis Bahagia 2020 ternyata bukan hal mudah. Sebab semua naskah yang kami terima, bagus-bagus.
Ada belasan naskah sayembara yang sempat masuk ke ruang redaksi Jurnaba. Dari semua naskah yang dikirim sejak 6 Desember – 29 Desember itu, tak semuanya masuk nominasi. Hanya sekitar 9 saja.
Untuk membacanya, Nabsky bisa ngecek dengan cara ngeklik tag Sayembara Nulis Bahagia 2020 di bawah artikel ini. Pasti muncul.
Semua naskah yang terkumpul, bagus-bagus. Tapi bagaimanapun, kami hanya mencari 3 tulisan terbaik. 3 tulisan yang kami anggap sesuai standar Jurnaba. Kami menyebutnya dengan istilah, tulisan yang Jurnabis.
Dalam konteks framing, tulisan yang Jurnabis memiliki sejumlah indikator yang bisa dititeni secara langsung. Antara lain; mengglorifikasi kesederhanaan, berpihak pada hal-hal kecil dan, tentu saja, mengandung unsur dekonstruktif.
Sementara dalam konteks warna penyampaian, ia menjadi Jurnabis ketika ada adonan haru dan sedih dan suram yang dikemas secara nyinyir-nyinyir cuek dan sesekali lucu, namun tak pernah meninggalkan kelegaan psikologis di akhir cerita.
Dan dengan indikator seperti di atas, kami berupaya mencari tulisan yang pas. Dari 9 tulisan itu, akhirnya kami menemukan 3 yang pas. Meski, tentu saja, pilihan itu diambil dengan cara yang tidak mudah dan penuh pertimbangan.
Untuk kategori paling mencengangkan, pilihan kami jatuh pada tulisan Dicky Eko Prasetio berjudul Bahagia Di Balik Nisan Konstitusi. Bagi kami, ini naskah yang sangat mencengangkan. Cengang karena ada kelokan epic di akhir cerita.
Bagaimana mungkin seorang kritis yang mengetahui banyak hal buruk dari tatanan sebuah negara, misalnya, bisa dengan legowo dan optimistis memandang masa depan. Naskah ini dibuka dengan kemarahan, lalu ditutup dengan sikap rela yang elegan.
Sementara untuk kategori paling mengharukan, pilihan kami jatuh pada tulisan Desliana Maulipaksi berjudul Bukan Nabi Musa yang Membelah Lautan. Naskah ini bercerita tentang dialog ibu dan anak menjelang tidur.
Selain lucu, sederhana, dan ditulis dengan keintiman dialektik antara ibu dan anak yang memukau, naskah ini mengandung keharuan bahagiawi yang membuat siapapun pembacanya, langsung rindu pada sosok ibu.
Dan untuk kategori paling membahagiakan, pilihan kami jatuh pada tulisan Yesi Dermha Abadi berjudul Terima Kasih. Sebuah tulisan yang amat sederhana sejak dari judulnya. Sejenis kesederhanaan yang memang tidak akan pernah sederhana.
Naskah ini mengandung keharuan yang manis dan kebahagiaan yang tetap terasa melankolis. Keterlibatan hal-hal kecil juga menjadikan naskah ini kian terasa Jurnabis. Tulisan ini punya warna Pesimisme Defensif, sebuah konsep yang sering diusung Jurnaba.
Dalam hal penyampaian, ibaratnya, si penulis bisa dengan mudah menggunakan istilah ndakik-ndakik untuk menyampaikan gagasan. Tapi, dia sengaja memilih piranti sederhana untuk mendekonstruksi rasa bahagia — yang sesungguhnya tak pernah sederhana itu— secara sederhana.
Nabs, itu hasil Sayembara Nulis Bahagia tahun ini. Jurnaba akan selalu berupaya mengadakan sayembara-sayembara macam ini tiap tahun. Tujuannya tentu, agar kita terbiasa memicu rasa bahagia dari hal-hal kecil, atau bahkan dari kondisi yang mustahil.








