Dalam Limolasan, sejarah tak hadir sebagai teks beku. Tapi narasi yang hidup dan mengalir seperti sungai Bengawan, tak pernah berhenti menyusun diskursus pengetahuan. Kali ini, Limolasan membahas Asram Bramacari, universitas kuno yang pernah ada di Blora dan Bojonegoro.
Tas ransel dan tumbler tergeletak di bawah teduh pepohonan. Di pinggirnya, para peserta duduk melingkar. Tanpa podium, tanpa mikrofon. Hanya tikar dan buku-buku lusuh yang tersimpan di dalam kepala, sebagai bahan percakapan tentang pengetahuan masa silam yang nyaris terlupakan. Itulah suasana Limolasan, forum ilmiah partikelir mempertemukan para periset dari provinsi Jateng dan Jatim.
Forum Limolasan biasanya memang dilaksanakan pada malam purnama pertengahan (15-16) Hijriah. Namun, membuka tahun 2026 ini, Limolasan dilaksanakan pada sore hari, pertengahan (15-16) Masehi. Sebab, bebarengan Jumat terakhir Rajab dan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW — momen identik gerbang pengharapan dan risalah ilmu pengetahuan.
Forum diskusi kecil penuh makna itu, berlangsung di Gunung Jali Tebon, bukit kapur tepi Bengawan, pembatas antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Selain titik antar provinsi, Gunung Jali merupakan tempat bersejarah yang diukir abadi sebagai tanah inkubasi peradaban, kawah penyelaras ilmu pengetahuan dari zaman ke zaman.
Limolasan kali ini diawali menanam tunas-tunas kelapa dan kurma, simbol penyelaras peradaban yang jadi identitas Gunung Jali sejak berabad-abad silam. Pasca menanam bersama, peserta forum duduk melingkar serupa Limolasan sebelumnya; membuka tema, membaca fenomena, menyimak wacana, dan, tentu saja, berdialektika bersama.

Sambil menatap arus sungai Bengawan dari atas tebing Gunung Jali, para peserta memahami nilai-nilai penting dari prasasti Telang (903 M), Sangsang (907 M), Pucangan (1041 M), Maribong (1246 M), Adan-adan (1301 M), hingga Naditira Canggu (1358 M) yang secara empiris, jadi bukti sahih atas besarnya jejak peradaban Medang, Kahuripan, Jenggala, Singashari, hingga Majapahit di tanah “Lemah Citra” ini.
Dokumen prasasti dari masa silam itu, secara urut dan tertib, mengabarkan tentang kuatnya perekonomian, kedaulatan pangan, hingga kemajuan teknologi dalam mengelola alam di kawasan Kapur Lantung ini. Bahkan, dokumen-dokumen itu juga menunjukan fakta tentang majunya lini pendidikan — keberadaan universitas kuno yang dikenal dengan Asram Bramacari.
Sudah menjadi rahasia zaman bahwa Sumber Daya Alam (SDA) yang besar, menuntut pertanggungjawaban besar. Sehingga dihuni Sumber Daya Manusia (SDM) yang tangguh dan kontekstual. Dengan premis itu, bukit “Kapur Lantung” yang membentang di kawasan Blora, Bojonegoro, hingga Tuban Selatan, memang sepatutnya dihuni masyarakat berperadaban tinggi. Dan itu terbukti empiris melalui keberadaan universitas kuno Asram Bramacari.
Di atas tebing Gunung Jali Tebon, para peserta juga mempelajari kebijaksanaan Sidi Jamaluddin Husain, pendiri Zawiyah Gunung Jali, dalam memodifikasi dan melanjutkan esensi Asram Bramacari ke dalam spirit ajaran Islam, melalui sebuah prinsip wasathiyah dan kredo keselarasan yang berbunyi: Jawa Temata Arab Ngetrap (Yang lama sudah tertata, yang baru menyempurnakannya).
Baca Juga: Sidi Jamaluddin, Ajaran Moderasi Zawiyah Gunung Jali
Sejak abad 14 M, Zawiyah Gunung Jali jadi simbol halusnya transisi ajaran lama ke ajaran baru. Gus Dur menyebutnya prototype toleransi. Di kawasan ini tak pernah ada pertumpahan darah atas nama agama. Bahkan masyhur sebagai tempat di mana Islam datang membawa keselamatan, melalui ajaran welas asih dan rahmat pertaubatan.

Forum Limolasan sebagai mimbar dialektika yang egaliter, memahami segala sesuatu melalui berbagai macam pandangan dan paradigma. Sebagai wadah sinau bersama, Forum Limolasan juga menjadi tempat di mana keberagaman pandangan mampu menemukan tempat untuk terus bergeliat. Begitupun dalam mengakui, menerima, dan mengunduh esensi manfaat dari Asram Bramacari.
Totok Supriyanto, anggota forum Limolasan mengatakan, cukup banyak pelajaran-pelajaran penting dari masa silam untuk terus dipelajari. Dan nilai-nilai penting dari masa lalu tersebut, harus bisa diunduh sebagai pengetahuan hari ini. Termasuk keberadaan Asram Bramacari, kata Totok, merupakan pelajaran yang tak hanya berbentuk cerita dongeng. Namun berbasis bukti empiris berupa teks-teks kuno yang harus dibaca dan dipahami dalam kajian ilmu filologi.
“Mempelajari sejarah tak boleh terjebak sekadar meromantisasi masa lalu. Tapi harus bisa mengambil nilai-nilai manfaatnya untuk hari ini” ucapnya.
Asram Bramacari sebagai entitas pendidikan masa silam, memiliki kelengkapan sistem universitas yang sangat memukau sebagai jejak peradaban. Ia tak hanya memberikan pesan moral. Namun juga sistem kehidupan sosial dan metode pembelajaran. Bahkan memberi pemahaman tentang hubungan penting antara guru besar, dosen, hingga para mahasiswa.
Sementara Wahyu Rizki, anggota Limolasan yang lain mengungkapkan, Asram Bramacari sebagai sebuah entitas pendidikan kuno, memang memiliki hubungan kuat dengan kondisi sumber daya alam (SDA). Tanpa kekayaan sumber daya alam, manusia cukup sulit untuk bertahan hidup. Karena itu, dengan adanya sumber daya alam yang baik, manusia tak hanya bisa bertahan hidup. Namun juga mampu mengembangkan kreativitasnya. Terbukti dengan adanya lembaga pendidikan kuno tersebut.
“Sumber Daya Alam adalah pondasi dasar atas terbentuknya budaya dan kreativitas manusia. Maka sudah sepatutnya bukit Kapur Lantung ini dipenuhi manusia berperadaban tinggi sejak lama” ucapnya.
Forum Limolasan menyepakati, Asram Bramacari bukan sekadar tempat belajar. Namun sebuah universitas — sistem pendidikan berbasis asrama yang menghimpun bidang fakultas dan mandala ilmu pengetahuan. Ia sudah ada sejak zaman Jawa Kuno, bertahan pada zaman Hindu – Budha, dan menyesuaikan diri pada zaman Islam. Ia menjadi tempat para cantrik menerima pendidikan dari Para Begawan (Wiku, Rsi Brahmana, hingga Wali). Asram Bramacari adalah universitas kuno yang terus bermetamorfosis hingga kini.
Forum Limolasan percaya, peradaban besar tidak selalu ditandai keberadaan bangunan megah. Sebab, ia bisa dihancurkan kapan saja. Peradaban besar, justru tersisa sebagai fragmen-fragmen di dalam dokumen kuno, yang selama berabad-abad telah menunggu untuk dibaca, dipahami, dan di-kontekstualisasi sebagai bagian penting dari kemajuan hari ini.
Temaram semakin turun. Lampu-lampu kampung mulai menyala. Diskusi perlahan usai, tetapi percakapan tentang universitas kuno itu tidak benar-benar berakhir. Ia tinggal di dalam ingatan, di buku lusuh yang kembali dimasukkan ke dalam kepala, dan di tekad untuk terus mencari, meneliti, dan tentu, menuliskan secara tegas jejak-jejaknya.








