Sejumlah penyakit dan gangguan kesehatan patut diwaspadai saat bencana banjir melanda. Contohnya seperti demam berdarah, malaria, hingga leptospirosis. Tak hanya itu, warga yang terdampak banjir juga wajib mewaspadai serangan hipotermia.
Bencana banjir yang melanda kawasan Ibukota Jakarta jadi perhatian publik di awal 2020. Tak hanya Jakarta saja, kota-kota penyangga seperti Depok, Bekasi, Tanggerang, dan Bogor juga terkena bencana ini.
Banjir di awal 2020 ini tak hanya merusak rumah maupun kendaraan warga, tapi juga merenggut korban jiwa. Dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB, hingga Sabtu (4/1/2020) sebanyak 47 orang meninggal dan hilang akibat banjir Jabodetabek 2020 ini.
“Korban meninggal terbanyak berada di Kabupaten Bogor 11 orang, kemudian Jakarta Timur 7 orang, Kota Bekasi dan Kota Depok masing-masing 3 orang, dan masing-masing 1 orang untuk Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Kabupaten Bekasi, Kota Bogor dan Kota Tangerang,” kata Kapusdatin dan Humas BNPB Agus Wibowo sepeti dilansir dari CNBC Indonesia.
Baca juga: Banjir Jakarta dan Taman yang Instagramable
Salah satu penyebab meninggalnya korban banjir adalah hipotermia. Menurut BNPB, ada 3 warga yang meninggal akibat hipotermia. Diduga, korban terlalu lama berada di dalam air, mengenakan pakaian basah, atau karena kondisi-kondisi lainnya yang menyebabkan suhu tubuhnya turun drastis.
Hipotermia sendiri diartikan sebagai kondisi suhu tubuh manusia yang berada di bawah 35 derajat celcius. Sehingga, penderitanya mengalami kedinginan akut. Hipotermia ditandai dengan gejala menggigil, susah bergerak, sesak napas, pusing, hingga halusinasi.
Tubuh manusia memiliki mekanisme untuk melindungi tubuh dari udara dingin dengan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Namun, saat suhu tubuh sudah turun di bawah 35 derajat Celcius, fungsi syaraf dan organ tubuh lainnya akan terganggu. Hipotermia pun rentan terjadi.
Mengatasi Hipotermia
Sebagai tindak pencegahan, Palang Merah Indonesia langsung bergerak cepat agar kejadian hipotermia terhadap korban banjir tak terulang lagi. PMI melakukan sosialisasi kepada korban banjir mengenai pencegahan dan penangan hipotermia.
Biro Humas PMI Pusat, Aulia Ariani mengatakan jika selain membantu korban banjir, PMI juga memberikan sosialisasi mengenai hipotermia dan penyakit lainnya.
“Biasanya korban banjir mudah terserang hipotermia yang dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin,” ujar Aulia.
Dalam sosialisasi tersebut, PMI menjelaskan mekanisme sederhana dalam mengatasi hipotermia. Jika ada warga mengalami gejala hipotermia seperti kedinginan atau susah bergerak, segeralah lakukan tindakan lepas dan ganti baju yang basah dengan yang kering.
Baca juga: Hikayat Banjir dan Hari Air Sedunia
Gunakan pula beberapa lapis selimut atau jaket untuk menghangatkan tubuh. Kemudian, berikan minuman hangat yang tidak mengandung kafein. Cara itu merupakan pertolongan pertama yang bisa dilakukan dengan mudah.
Untuk penganan lebih lanjut, sebaiknya memang membawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis yang memadai. Karena jika tak segera mendapatkan pertolongan medis, nyawa penderita hipotermia bisa tak tertolong.
Bencana banjir di awal tahun memang punya potensi untuk mendatangkan banyak penyakit. Karena itu Nabs, jaga diri baik-baik ketika kamu terdampak bencana banjir.
Jangan lama-lama berada dalam air atau luar ruangan. Pastikan tubuh kamu selalu dalam kondisi hangat. Sehingga, di cuaca dan curah hujan yang tak menentu seperti sekarang ini, kamu terhindar dari serangan hipotermia.








