Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Sancaka dan Begawan Utara

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
28/07/2025
in Sainsklopedia
Sancaka dan Begawan Utara

Ilustrasi: Naga Sancaka (TheConstellation of Draco Persian 16 c)

Kereta Api Sancaka dan mitologi Naga Raksasa — moda kendara para Begawan dari Utara. 

‎Selama beberapa bulan ini, dalam rangka bolak-balik Bojonegoro – Jogja, saya naik Kereta Api (KA) Sancaka Utara, pasca ia diaktifkan lagi sejak Februari 2025. Kereta ini cukup menarik bagi saya. Nyaman dan harganya masuk logika. Terlepas dari itu semua, ada ibrah menarik untuk dikulik.

KA Sancaka dioperasikan pertama kali pada 27 Mei 1997, melayani rute Surabaya – Yogyakarta dengan kelas penumpang Eksekutif-Bisnis. KA Sancaka pernah mati suri pada 1 April 2020 karena Covid 19. Sancaka Utara — salah satu layanan KA Sancaka — kembali diaktifkan pada 1 Februari 2025, pasca hiatus selama 5 tahun.

Kereta Api Sancaka Utara (Jurnaba)

Sebagai penulis Jurnaba, saya mudah tertarik pada perihal kecil nan sederhana — simbol-simbol, nama-nama, atau tanda-tanda —  untuk dibaca dan dicari makna,  kemudian menuliskannya. Di Jurnaba, kami menyebutnya sebagai Citra Semiotika. Begitupun saat mendengar istilah Sancaka Utara, kereta yang sedang saya tumpangi ini.

Baca Juga: Ziarah Ideologis Bojonegoro dan Jogjakarta 

‎Dalam konteks literatur, Sancaka merupakan bahasa Sanskerta, mengacu nama sosok Legenda Naga yang konon jadi tunggangan para Begawan. PT KAI tampaknya terinspirasi Sang Naga, berharap jadi transportasi andalan para penumpang. Sementara kata Utara, jelas menunjukan rute perlintasan kereta yang berada di jalur utara Jawa.

Siapapun yang mendengar kata Utara Jawa, pasti akan mengingat Kendeng Utara. Dan siapapun yang mendengar Kendeng Utara, pasti akan mengingat Puncak Kendeng Utara dan lembah raksasa yang berada di dalamnya: Bumi Njipangan — tempat di mana Sotasrungga dan Bhinnasrantaloka berdiri tegak di tanahnya.

Bumi Njipangan, merujuk pada suatu wilayah kebudayaan di antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tepatnya Jawa Tengah bagian timur dan Jawa Timur bagian barat: Bojonegoro, Blora, dan Tuban Selatan — titik konstelasi provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sebagai wilayah kebudayaan, kawasan ini memiliki budaya yang khas — baik dalam tradisi, dialek, bahasa, ataupun ragam seni yang berbeda dengan bagian Jawa lainnya. Budaya Njipangan berbeda dengan budaya Jawa Tengah (Semarangan) maupun Jawa Timur (Suraboyoan) secara umum.

Selama berabad-abad, Bumi Njipangan telah dikubur Londo Jowo dan Londo Holland. Kebesarannya dimanipulasi dan dihilangkan, dan tak pernah lagi diceritakan. Sebagai gantinya, ia “dibonsai” dengan babad dongeng perang yang dibikin belum lama, demi menutupi kebesaran empiris yang berada di rahim tanah buminya.

Gerbang Naga Jawa
Secara ideografis, Bengawan digambarkan sebagai Naga Raksasa. Kepalanya berada di Pesisir Gresik dan ekornya berada di hulu pedalaman selatan. Sementara jantung dan denyut nadinya, berada di Bumi Njipangan. Sebagai Dominator Bengawan, Njipangan adalah Denyut Nadi Pulau Jawa: sakelar peradaban, penyeimbang pesisir dan pegunungan.

Ilustrasi: posisi Bumi Njipangan dalam semesta Kebengawanan (Kitab Suwar al Kawakib, Abdurrohman al Sufi)

Jika lajur Bengawan diibaratkan ular raksasa, posisi Bumi Njipangan memang berada di bagian paling vital: jantung. Secara anatomi geografis, Bumi Njipangan tepat di bagian paru dan jantungnya. Bukan hulu. Bukan tengah. Tapi hilir bagian luar (bawah leher) tepat. Dan secara anatomi biologis, di situlah letak posisi jantung ular.

Nagapuram in Chavaka-nadu: Gerbang Naga Pulau Jawa, begitu istilah yang menggambarkan Bumi Njipangan sebagai dominator sungai Bengawan, tempat yang dihuni para Begawan dari zaman ke zaman: Pertapan para Wiku, Lemah Citra para Rsi Brahmana, dan tentu saja, Zawiyah Para Wali.

Sancaka sebagai tunggangan para Begawan, bermakna moda transportasi yang mengantar bermacam ajaran-ajaran kebijaksanaan. Dan itu memang tergambar dari fungsi sungai Bengawan, yang menjadi kendara utama dalam bermacam geliat penyebaran kebaikan.

Kejayaan Bumi Njipangan berlangsung selama berlapis zaman. Sejak zaman Sotasrungga (Raja Dyah Baletung, abad 10 M); periode Bhinnasrantaloka (Raja Wisnuwardhana, abad 13 M); dan era Biladi Jipang (Syekh Jumadil Kubro, abad 14 M). Kejayaan berlapis-lapis zaman itu, ditutup dedongengan yang diproduksi pada abad 19 M.

Begawan Utara
Kolonial tampaknya tak begitu suka membahas Utara. Sebab, membahas utara artinya membahas Bengawan. Dan membahas Bengawan berarti membahas kebesaran Sotasrungga dan Bhinnasrantaloka — dua simbol kebesaran sungai Bengawan yang sangat dibenci mental kolonial. Karena itu harus ditutup dan dihilangkan.

Sejak abad 19 M, Kolonial membangun narasi bahwa peradaban besar selalu ada di Selatan. Sementara utara hanya hamparan kosong tanpa apa-apa. Mereka lupa, Njipangan adalah kawasan yang dipenuhi jejak empiris megalitikum, tempat di mana manusia purba pernah ditemukan. Mereka lupa, sejak abad 10 M, di Utara sudah dipenuhi para Begawan dari bermacam golongan seperti Gusti, Kalang, Vinkas, dan Variga.

Kolonial juga membangun narasi bahwa kaum Kalang — status sosial tinggi pada abad 10 M — sebagai “suku” keturunan anjing tak berperadaban. Mereka lupa bahwa Prasasti Telang dan Prasasti Sangsang telah mengabadikan “Kalang” sebagai Begawan Citralekha, penjaga marwah Kapur Utara.

Mereka, para kolonial itu, lupa bahwa di Utara terdapat Bale Lantung, lemah citra yang selalu memunculkan dirinya meski berupaya dihilangkan dan  ditutupi. Mereka, para kolonial itu, lupa bahwa cahaya peradaban bisa menerobos Pedalaman Jawa, berkat keberadaan Gerbang Naga Jawa.

Pusaka Kalimahausada
‎Kolonial, selama ini, seperti hanya memunculkan Selatan dan mengubur hidup-hidup peradaban Utara. Mereka lupa bahwa Selatan tanpa Utara akan jomplang. Sebab, keduanya adalah Geomagnetik Peradaban, dua kutub yang saling berkaitan. Ibaratnya, Selatan tanpa Utara akan memicu Antartika kehilangan Artik-nya.

Bumi Njipangan memang peradaban tua. Secara ilmiah, manusia purba Homo Erectus Ngandong ditemukan di Desa Ngandong, Kradenan, Blora (Jawa Tengah). Berdekatan Jipangulu, Margomulyo, Bojonegoro (Jawa Timur). Dan inilah kawasan yang disebut sebagai Bumi Njipangan — wilayah kebudayaan yang oleh Kolonial berupaya dihilangkan.

Kalimahausada. Kali Maha Usada: waktu adalah obat terbaik. Sehebat apapun kolonial melukai utara (Bumi Njipangan), waktu lah yang akan mengobatinya. Sekuat apapun kolonial menenggelamkan utara (Bumi Njipangan), waktulah yang akan kembali memunculkannya.

Gerbong KA Sancaka Utara, 27 Juli 2025 

Tags: Begawan UtaraBumi NjipanganMakin Tahu IndonesiaSancaka Utara
Previous Post

Gus Dur dan Ikan Curian Yang Menjadi Halal: Hikmah Humor dan Pencurian (3)

Next Post

Forum Rembug Desa: BI Gelar Pemetaan Penghidupan Berkelanjutan di Desa Sendangharjo Ngasem

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Medang Kamulan: Cikal Bakal Njipangan
Sainsklopedia

‎Medang Kamulan: Cikal Bakal Njipangan

10/08/2025
‎Desa Pungpungan, Peradaban Medang yang Terlupakan
Sainsklopedia

‎Desa Pungpungan, Peradaban Medang yang Terlupakan

05/08/2025
‎Sumbu Kosmologis Bojonegoro
Sainsklopedia

‎Sumbu Kosmologis Bojonegoro

30/07/2025

Anyar Nabs

Pemkab Bojonegoro Salurkan Benih Tembakau Unggul, Petani Bidik Panen Lebih Produktif

Pemkab Bojonegoro Salurkan Benih Tembakau Unggul, Petani Bidik Panen Lebih Produktif

03/06/2026
Kebiasaan Mencuri Sang Binatang Jalang: Hikmah Humor dan Pencurian (18)

Kebiasaan Mencuri Sang Binatang Jalang: Hikmah Humor dan Pencurian (18)

03/06/2026
Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

02/06/2026
Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

02/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: