Pada masa pandemi corona, terjadi peningkatan penjualan mie instan di Bojonegoro. Itu terjadi karena banyaknya pihak yang membeli mie instan untuk keperluan bantuan pangan kepada masyarakat yang terdampak corona.
Satu kurang. Dua kebanyakan. Tiga baru pas. Tentu kamu tahu dong Nabs, jargon yang cukup monumental tersebut? Hehe~
Bagi yang belum tahu, jargon satu kurang dua kebanyakan itu merujuk cara mengonsumsi mie instan di Indonesia. Bikin satu bungkus masih kurang. Nambah jadi dua eh malah kebanyakan. Hmmm~
Indonesia memang tak bisa dilepaskan dari yang namanya mie instan. Bahan makanan satu ini sangat digemari karena mudah disajikan dan harganya yang terjangkau. Modal Rp 3 ribu udah bisa “makan” soto ayam.
Varian rasanya pun beraneka ragam. Dulu mungkin hanya ada varian mie goreng, rasa soto, dan rasa ayam bawang.
Kini varian rasanya sungguh beragam dan kadang tak masuk akal. Mulai dari dari rasa rendang, sop buntut, cabai ijo, ayam geprek, sate, hingga tahu tek. Bahkan ada varian rasa mie aceh dan mie celor. Mie kok rasa mie? Wkwkwk~
Konsep awalnya, mie instan dijadikan sebagai makanan pengganti nasi. Namun konsep seperti itu tak berlaku di Indonesia. Jangan heran jika di Indonesia, mie instan masih dimakan sama nasi. Hayo, siapa yang suka makan Indomie pakai nasi? Xixixi
Baca juga: Alasan Mie Instan Buatan Warung Lebih Enak daripada Masak Sendiri
Mie instan juga identik dengan bantuan kemanusiaan. Jika sedang terjadi suatu bencana atau kejadian luar biasa, mie instan turut serta dalam membantu korban yang terdampak. Contoh terbaru tentu saja saat pandemi corona.
Berbagai pihak, mulai dari swasta hingga pemerintah memberikan aneka paket bantuan kepada masyarakat yang terdampak pandemi corona. Salah satu isi paket bantuan tersebut adalah mie instan.
Menurut Sales Supervisor PT Indomarco Adi Prima yang merupakan distributor produk Indofood, Arland Rojeb, pada bulan Mei 2020, terjadi peningkatan penjualan mie instan di Bojonegoro, terutama kawasan kota. Tak tanggung-tanggung, lonjakannya mencapai 50 persen lebih.
“Peningkatannya cukup drastis. Data update terakhir Bojonegoro Kota growth mencapai 52,5 persen,” ujar Arland.
Pada bulan Mei 2019 penjualan mie instan mencapai 36,696 karton untuk kawasan Bojonegoro Kota. Sedangkan bulan Mei 2020, terjual sebanyak 56,393 karton.
Peningkatan penjualan itu disebabkan oleh banyaknya lembaga atau pihak yang ingin menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat.
Baca juga: Muhammadiyah Bojonegoro Bagikan 65 Ton Beras ke Masyarakat
Di Bojonegoro, kebanyakan bantuan sembako terdiri dari beras, gula, minyak goreng, dan setidaknya 5 bungkus mie instan. Karena itulah, terjadi peningkatan permintaan mie instan dari distributor.
“Pertumbuhan atau growth penjulan bukan karena sales konsumtif, tetapi untuk dijadikan bantuan di masa pandemi,” tambah Arland.
Namun yang juga jadi catatan nih Nabs, produk yang mengalami lonjakan penjualan adalah mie instan yang harganya paling murah dari Indofood yakni Supermie. Supermie adalah produk mie instan yang kualitasnya masih di bawah Indomie.
Karena harganya lebih murah dari Indomie, Supermie lebih banyak dipilih untuk paket sembako di masa pandemi. Kuantitas nomor satu pokoknya. Hehe~
Meski begitu, tetaplah bijak dalam mengonsumsi mie instan ya, Nabs. Jangan tiap hari juga makannya. Sayangi usus dan lambungmu.
Kalau bosan dengan mie instan yang begitu-begitu saja, cobalah untuk bikin kreasi menu alternatif. Kayak bikin martabak mie, perkedel mie, atau bisa juga jadi campuran nasi goreng.
Mie instan memang jadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan orang Indonesia. Baik sedang dalam kondisi prihatin maupun gembira, mie instan selalu menemani hari-hari kita semua.








