Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Apa Jadinya Bila Perempuan Patah Hati Karena Ayah

A. Farid Fakih by A. Farid Fakih
12/01/2020
in JURNAKULTURA
Apa Jadinya Bila Perempuan Patah Hati Karena Ayah

Dan jika pohon jambu itu nantinya berbuah, ingin saya berikan sembari berucap: Terima kasih telah bertahan. Mari berjuang sekali lagi, agar sembuh dari patah hati. 

“Ayah adalah cinta pertamaku, tetapi ayah juga penyebab patah hati pertamaku,” kata seorang perempuan yang berkomentar pada sebuah video di Twitter, mengenai keharuan seorang bapak yang tengah meniup lilin kue ulang tahun dengan anaknya di penjara.

Pernyataan itu lekas direspon oleh netizen lainnya, dan meski menyakitkan, pada akhirnya dipandang maklum. Sebab, toh, memang banyak figur ayah yang gagal menjalani perannya dalam sebuah keluarga.

Komnas Perempuan pada awal tahun 2019 mencatat, kekerasan seksual yang dialami perempuan oleh laki-laki di tahun 2018 meningkat 14 persen dari tahun sebelumnya, yaitu 406.178 (kasus). Dan yang tertinggi, terjadi di kalangan privat, yaitu 9.637 kasus.

Banyaknya jumlah itu jelas mengecewakan. Betapa tidak, sosok pengayom dan pemimpin dalam rumah tangga yang begitu didamba sepenuh hati, justru menyumbang peranan besar terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.

Baca juga: Malam, Ayah dan Segenggam Kesedihan Klasik

Tetapi, tidak adil juga rasanya jika tidak menyertakan realitas yang lain bahwa ada pula sosok ayah yang menjadi cinta pertama seorang anaknya, terutama perempuan. Ia menjadi figur dan amat dekat dengan sang anak.

Bahkan ada yang bilang bahwa seandainya seorang anak terlahir perempuan, maka akan cenderung lebih dekat pada ayahnya. Dan bila laki-laki, maka tak akan jauh-jauh dari ibunya.

Relasi sosial dalam rumah tangga itu memang berdampak besar pada diri seseorang. Pada seorang kenalan, misalnya, ia bisa menjadi perempuan yang tangguh dan mandiri juga karena ayahnya.

Sejak kecil, sang ayah kerap memberikan nasihat hidup dan pelajaran apa saja. Bahkan, tentang percintaan sekalipun.

Baca juga: Bahaya Ular Kobra dan Semburan Bisa Mantan

Namun pada taraf yang lain, ada juga perempuan yang amat benci pada sang ayah. Penyebabnya macam-macam, tetapi kebanyakan tak jauh-jauh dari sikap sang ayah yang melakukan tindakan tercela dalam keluarganya, seperti melakukan kekerasan, tidak memberi tanggung jawab, hingga berhianat pada wanita lain.

Saya merasa tak perlu menyebut detail kasus tersebut di sini, yang jelas, pada orang-orang yang mengalami kejadian itu, saya tahu persis betapa hancurnya perasaan yang dialaminya.

**

Pada 1997, AS Laksana menulis cerpen di Kompas Minggu yang berjudul Menggambar Ayah. Tokoh utama, “Aku”, adalah seseorang yang tak pernah dikehendaki lahir di dunia. Ia tercipta dari sebuah “kecelakaan” akibat profesi ibunya sebagai pekerja seks komersial.

Nyaris setiap hari ia berusaha dilenyapkan. Sang ibu sering meminum obat agar ia gugur. Namun, toh, ia lahir juga meski dalam keadaan fisik yang tak beraturan: matanya melotot besar dan tangannya panjang sebelah.

Ia sering berharap sang ibu menunjukan siapa sang ayah yang sebenarnya. Jika tidak begitu, paling tidak sang ibu membawakannya seorang ayah, entah siapapun. Tapi itu pupus karena lagi-lagi, ibunya akan memarahinya terus-terusan dan membuatnya ingin membunuh ibunya.

Hingga ia tak pendek akal, ia menciptakan sendiri sosok ayah. Ia lantas menggambarnya pada dinding kamar, lantai, dan media apa saja. Yang penting, sang ayah ada dan bisa menemaninya sehari-hari dalam belajar, dan menjalani hidup.

Namun, orang-orang lekas tak menyukainya. Dan mereka melabeli “Aku” dengan sebutan orang gila.

Padahal, “Aku” hanya berupaya mendekatkan diri pada sosok ayah di dinding yang berwujud sebuah gambar penis menjulang seperti ular. Dan dengan sosok ayah itu, “Aku” bebas berkeluh kesah.

**

Baca juga: Saat Seseorang Memanggilmu “Ayah”

Membaca cerpen tersebut lantas membuat saya ingin menangis di bawah pohon jambu berlama-lama. Sembari membayangkan apa jadinya perasaan mereka yang kadung patah hati pada figur-figur ayah, betapa gigihnya perjuangan mereka, dan ingin sekali rasanya memastikan mereka kuat terus menerus.

Dan jika pohon jambu itu nantinya berbuah, ingin saya berikan sembari berucap: Terima kasih telah bertahan. Mari berjuang sekali lagi, agar sembuh dari patah hati.

Tags: Ayahberjuangpatah hati
Previous Post

Kuncen Cup dan Tradisi Sepakbola yang Tak Pernah Mati

Next Post

Tafsir Lirik Sugeng Dalu: Lagu Melankolis nan Bijaksana

BERITA MENARIK LAINNYA

Buluqiya dan Tujuh Lautan Menuju Ujung Dunia
JURNAKULTURA

Buluqiya dan Tujuh Lautan Menuju Ujung Dunia

27/08/2026
Ketika Kekuasaan Kehilangan Akal Sehat, Membaca Novel Garcia Marquez
JURNAKULTURA

Ketika Kekuasaan Kehilangan Akal Sehat, Membaca Novel Garcia Marquez

25/08/2026
Quo Vadis NU Pasca Muktamar ke-35, Membaca Nahdlatul Ulama Hari Ini
JURNAKULTURA

Quo Vadis NU Pasca Muktamar ke-35, Membaca Nahdlatul Ulama Hari Ini

23/08/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Membaca NU di Bawah Dua Kyai Terpilih dari Jawa Timur

Membaca NU di Bawah Dua Kyai Terpilih dari Jawa Timur

31/08/2026
BALKONDES Bonorejo Resmi Dibangun, Jadi Harapan Baru Untuk Mendorong Kemandirian Ekonomi Desa

BALKONDES Bonorejo Resmi Dibangun, Jadi Harapan Baru Untuk Mendorong Kemandirian Ekonomi Desa

29/08/2026
Kota Iram: Misteri dalam Al Quran dan Badai Gurun Pasir

Kota Iram: Misteri dalam Al Quran dan Badai Gurun Pasir

28/08/2026
Buluqiya dan Tujuh Lautan Menuju Ujung Dunia

Buluqiya dan Tujuh Lautan Menuju Ujung Dunia

27/08/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: