Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Geopark Bojonegoro: Laboratorium Lembah Kendeng

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
22/06/2025
in Sainsklopedia
Geopark Bojonegoro: Laboratorium Lembah Kendeng

Mata Air dan Batuan Karst

Secara geospasial, Bojonegoro adalah lembah peradaban yang diberkahi tiga pilar ekosistem alam: geodiversitas, biodiversitas, dan cultural diversity. Ketiganya jadi pilar penyangga laboratorium “Taman Bumi”. 

Pada april 1816 M, peneliti Belanda, H. W. Van Waey melakukan perjalanan sungai dari Jogja menuju Surabaya. Ketika perahu sampai di Jipang (Bojonegoro), tiba-tiba matanya berkaca-kaca, dengan pundak bergetar seketika. Di hadapannya, gugusan bukit kapur dan jati raksasa, membentang di sepanjang Padangan  hingga Babat.

Pasca menyaksikan indahnya gugusan bukit kapur dan tegakan jati raksasa itu, malam harinya, Van Waey mengalami semacam ekstase — kerasukan rasa kagum yang amat sangat di dalam dadanya. Kekaguman itu, kemudian dia ekspresikan dalam tulisan emosional berbentuk prosa puitis berikut ini.

“Bintang menyemut. Imajinasi melintasi formasi batuan yang menakjubkan. Sebuah malam yang cerah, setelah musim hujan, pada April 1816, ketika saya menyaksikan pemandangan indah ini, dan sampai sekarang, setelah bertahun-tahun, kesan itu tetap melekat pada diri saya”. Prosa penuh kekaguman ini, terlampir pada sebuah catatan memoar berjudul De Rivier van Padangan tot Surabaya (1875 M).

Van Waey mengunci kekagumannya pada sebuah kalimat: formasi-batuan-yang menakjubkan. Sebuah kalimat yang tak akan pernah bisa ditulis, tanpa menyaksikan sebuah realitas. Van Waey bisa menulis demikian, karena bersaksi atas gugus batuan yang gagah memagari sungai Bengawan, dan rimbun Jati alam yang tegak berdiri di atasnya.

Baca juga: Embrio Geopark Bojonegoro Dicatat sejak Ribuan Tahun Silam 

Apa yang Van Waey saksikan dan tuliskan 209 tahun silam, adalah bagian kecil dari cikal bakal apa yang hari ini kita sebut sebagai Geopark Bojonegoro. Artinya, sejak dua abad silam, Taman Bumi Bojonegoro sudah memantik kekaguman peneliti Belanda. Ingat, dua abad silam! Dan ini fakta empiris yang tak bisa disembunyikan.

Laboratorium Lembah Kendeng

Dalam kaidah geospasial, Bojonegoro adalah lembah peradaban. Batas selatannya dipagari bukit kapur yang terbentang dari Margomulyo hingga Sekar. Batas utaranya, melintang bukit kapur dari Kedewan hingga Trucuk. Sementara di bagian dalamnya, mendominasi sungai terpanjang di Pulau Jawa.

Dengan kondisi geografis semacam ini, sebuah keniscayaan ketika Bojonegoro, sejak lama, dikenal sebagai inkubator peradaban manusia. Tercatat, masyarakat Bojonegoro mengalami puncak peradaban sosial (tulis-menulis), sejak abad 10 M, seperti divisualkan Prasasti Telang dan Sangsang.

Program riset etnografis berbasis kearifan lokal yang dilakukan Suluk Geobiculta, mencatat sejumlah data alam Bojonegoro — baik dalam konteks maritim sungai maupun terrestrial pegunungan — yang terbagi ke dalam tiga kategori utama; Geodiversitas, Biodiversitas, maupun Cultural Diversitas.

Pembina Riset Suluk Geobiculta, Noer Fauzi Rachman, PhD mengatakan, dalam konteks keilmuan, Bojonegoro merupakan laboratorium. Dosen Psikologi Lingkungan Unpad Bandung itu beralasan, Bojonegoro memiliki kelengkapan medium sebagai bahan untuk pembelajaran.

Lebih jauh akademisi yang mendalami bidang Environmental Science di Universitas California Berkeley ini menjelaskan, kelengkapan medium pembelajaran itu, terdapat pada keberadaan tiga pilar ekosistem alam; Geodiversitas, Biodiversitas, dan Cultural Diversity yang ada di Bojonegoro. Ibaratnya, tiga bidang keilmuan dalam satu laboratorium lapangan.

 

Kosmos Keseimbangan: spirit api pembangunan, dan spirit air kelestarian.

Dalam kosmos keseimbangan lingkungan, Bojonegoro tak hanya di penuhi spirit pembangunan energi api, tapi juga spirit harmoni keteduhan energi air. Keseimbangan ini terbukti. Bojonegoro tak hanya memiliki gas api yang muncul dari batuan, tapi juga mat air yang keluar dari celah bebatuan.

Geodiversitas
Dalam hal Geodiversitas (ragam geologi), Bojonegoro memiliki struktur geologi variatif. Mulai plistosen gunungapi, plistosen sedimen, aluvium gunung api, hasil gunung api tua, hasil gunung api muda, dan aluvium. Di antara batuan yang amat khas Bojonegoro, adalah batuan karst yang membentang di sepanjang perbukitannya.

Aliran mata air dalam celah batuan Karst (foto: Jurnaba. co)

Batuan karst punya peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kawasan Karst adalah penyerap air hujan yang dapat membuatnya jadi sumber mata air tawar bersih. Selain menyediakan sumber mata air, Batuan Karst juga jadi habitat flora dan fauna.

Biodiversitas
Bojonegoro juga memiliki ragam Biodiversitas (aneka hayati) yang sampai saat ini masih terjaga. Sebut saja pohon jati dan pohon ficus raksasa, hingga tanaman obat-obatan. Beberapa titik hutan juga menjadi habitat kupu-kupu dan burung merak hijau.

Sisa Jati dalam Pelukan

Di beberapa hutan lindung Bojonegoro, masih dijumpai habitat tanaman-tanaman yang dijadikan obat masyarakat setempat. Di antara tetumbuhan itu, misalnya, tumbuhan tapakliman dan sambiloto. Tanaman-tanaman ini terbukti masih lestari, di tengah isu buruknya sistem ekologi.

Cultural Diversity
Sementara dalam hal ragam kebudayaan (Cultural Diversitas), Bojonegoro memiliki kearifan lokal harmoni alam berupa prinsip Lengo Urup Banyu Urip dan tradisi masyarakat kuno yang dikenal Mblantung (pertambangan minyak). Bojonegoro juga memiliki tradisi pertanian berbasis maritim sungai yang masih lestari hingga kini.

Bale Lantung: Falsafah Lengo Urup Banyu Urip

Belum lagi kesenian-kesenian lokal yang berkembang di setiap wilayahnya. Seperti misalnya Kesenian Sandur yang tumbuh sebagai representasi budaya maritim sungai, dan kesenian Genthik Pandan yang merepresentasikan budaya terrestrial pegunungan. Semuanya masih lestari terjaga.

Geopark Bojonegoro

Untuk diketahui, tiga pilar di atas adalah rukun wajib yang menjadikan sebuah lokasi bisa memiliki titel sebagai Geopark. Di Bojonegoro, keberadaan Geodiversitas, Biodiversitas, dan Cultural Diversity masih terjaga hingga kini. Maka masuk akal jika Geopark Bojonegoro jadi program unggulan.

Geopark Bojonegoro Hari Ini

Saat ini, Pemkab Bojonegoro sedang gencar mendorong penilaian Geopark Nasional menuju UNESCO Global Geopark (UGGp). Untuk itu, Pemkab mengadakan Festival Geopark yang akan dilaksanakan mulai 26-29 Juni 2025 mendatang. Ini untuk memperkuat laju Geopark Bojonegoro sebagai Taman Bumi yang diakui UNESCO.

Dalam konteks khazanah peradaban, jejak Geopark Bojonegoro terdeteksi sejak seribu tahun silam, melalui sejumlah prasasti. Namun, secara empiris, potensi Geopark Bojonegoro terdeteksi sejak dua abad silam, melalui catatan peneliti Belanda bernama H. W. Van Waey. Menurutnya, Bojonegoro punya aset geodiversitas di pinggir sungai, yang memukau mata orang-orang Eropa.

 

Bahan Bacaan

‎Rachman, N. F. (2024). Ensiklopedia Tanah Air Indonesia‎; Rizkiawan, A.W. (2025). Peradaban Nggawan‎; Bobbette, A. (2023). The Pulse of the Earth; Van der Aa, A.J. (1857). Nederlands Oost-Indie. 

 

Tags: Geopark BojonegoroKERISKELOKAMakin Tahu IndonesiaRiset Geopark BojonegoroSejarah Geopark BojonegoroSuluk Geobiculta
Previous Post

Remaja Harapan Bangsa: Menjaga Pergaulan Melalui Kebijakan Jam Malam Di Kota Surabaya

Next Post

Sebuah Upaya Menggerakkan Unit Penerbitan

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Medang Kamulan: Cikal Bakal Njipangan
Sainsklopedia

‎Medang Kamulan: Cikal Bakal Njipangan

10/08/2025
‎Desa Pungpungan, Peradaban Medang yang Terlupakan
Sainsklopedia

‎Desa Pungpungan, Peradaban Medang yang Terlupakan

05/08/2025
‎Sumbu Kosmologis Bojonegoro
Sainsklopedia

‎Sumbu Kosmologis Bojonegoro

30/07/2025

Anyar Nabs

Pelajaran dari Luka yang Sama

Pelajaran dari Luka yang Sama

15/01/2026
Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

15/01/2026
Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

14/01/2026
Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

14/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: