Islam Nusantara sangat dekat dengan Maroko. Secara keilmuan, mayoritas Ulama Nusantara bersanad lurus ke Maroko.
Maroko (Maghribi) masyhur tanah yang diberkahi. Tanah yang dihuni para Quthbul Ghauts, guru Wali Quthub. Sebut saja Sidi Abu Madyan Al Ghauts al Husaini (guru Ibnu Arabi dan Ibnu Al Masyisyi), Sayyid Abdissalam Ibnu Al Masyisyi al Hasani (guru Abul Hasan Asy-syadzili), Sayyid Ahmad Al Badawi al Husaini (pendiri Tarekat Badawiyah), Sayyid Hasan Asy- Syadzili al Hasani (pendiri Tarekat Syadziliah).
Sayyid Al Jazuli al Hasani (pengarang Dalail Khoirot), Sayyid As-Sanusi al Hasani (pengarang Umm al-Barahin), Ibnu Ajurrum as-Shanhaji (pengarang Kitab Jurumiyah), Sayyid Abdul Aziz Ad-Dabbagh al Hasani (pendiri Tarekat Khadiri Muhammadi), Sayyid At-Tijani al Hasani (Pendiri Tarekat Tijaniyah), hingga Sayyid Ibrahim At-Tazi Al Hasani (pengarang Shalawat Nariyah).
Nama-nama di atas, belum termasuk Ibnu Batutah, Syekh Ahmad Zarruq al Fusi, Syekh Abul Abbas Al Mursi, Syekh Muhammad al Darqawi, Syekh Qadhi Iyad, dan para pembesar Sufi berjuluk Sab’atu Rijjal (Tujuh Pilar Maroko) lainnya. Serupa di Irak dan Mesir, para dzuriyah (Keturunan Nabi) di Maroko hanya dikenal dengan sebutan Syekh, dan tak pernah mempromosikan diri.
Negeri Sejuta Wali
Kebesaran Maroko bukan sekadar klaim golongan. Tapi pengakuan konsensus para ulama dunia. Kemasyhuran Maroko sebagai Negeri Sejuta Wali, bisa dilihat dari kebesaran figur Sidi Abu Madyan Al Ghauts dan Sayyid Abdussalam Ibnu Al Masyisyi. Guru dan muridnya itu, dikenal sebagai saka guru para Wali Besar dunia.
Ibnu Atha’illah Sakandari (Pengarang Kitab Al-Hikam), menyebut Sidi Abu Madyan Al Ghauts sebagai guru dari 12 ribu Waliyullah. Sidi Abu Madyan juga dikenal secara masyhur sebagai pilar langit dari barat (Maroko), penggenap Sayyid Abdul Qodir Jailani al Hasani yang merupakan pilar langit dari timur (Baghdad).

Penyebutan derajat kewalian di atas, tentu sangat pantas. Sebab, Sidi Abu Madyan adalah guru dari dua sufi besar dunia; Ibnu Arabi dan Sayyid Abdusalam Al Masyiyi. Sidi Abu Madyan juga menulis karya monumental yang terkenal di Dunia Barat seperti Bidayat al-Muridin, Ouns al Wahid, hingga The Way of Abu Madyan (terjemahan Vincent Cornell).
Sementara Sayyid Abdullah At-Talidy Al Hasani dalam kitab al-Muthrib Ahlil Magrib, menyebut kedudukan Sayyid Abdissalam Ibnu Al Masyisyi di Maroko menyamai kedudukan Imam Syafi’i di Mesir. Sayyid Abdisalam Al Masyisyi dikenal luas sebagai guru para Wali Quthub dunia.
Penyebutan di atas tentu juga sangat beralasan. Sayyid Abdusalam Al Masyisyi adalah pengarang Sholawat Masyisyiah. Sayyid Al Masyisyi juga guru utama Sayyid Abul Hasan Asy-Syadzili. Tarekat Syadziliyah — yang merupakan salah satu tarekat terbesar di dunia — bermula dari ajaran Sayyid Abdussalam Al Masyisyi pada Sayyid Abul Hasan Asy-Syadzili.
Dari Sidi Abu Madyan Al Ghauts dan Sayyid Abdussalam Al Masyisyi, Maroko memberi dampak besar bagi spektrum tasawuf dunia. Pemikiran Sidi Abu Madyan dipopulerkan Ibnu Arabi. Sementara pemikiran Abdissalam Al Masyiyi dipopulerkan Sayyid Hasan Asy-Syadzili. Dari keduanya, kelak melahirkan banyak Wali Quthub di tiap zaman.
Maroko tak hanya dikenal sebagai episentrum tasawuf dunia, tapi juga dikenal Madinatul Irfan (Kota Ilmu), pusat sains dan ilmu pengetahuan. Universitas Al Qarawiyyin yang berdiri di Maroko pada 859 M, tercatat sebagai universitas pertama di dunia, yang telah banyak melahirkan para pemikir dan filsuf besar dunia, seperti Ibnu Rusyd (Averos) dan Hajjaj Al Fasi.
Bumi Dzuriyah Nabi
Negeri Maroko modern, didirikan oleh Sayyid Idris bin Abdullah (Maula Idris Al Kabir), seorang dzuriyah (keturunan) Rasulullah Muhammad SAW dari jalur Al Hasani. Idris Al Kabir (Idris I) merupakan ulama besar sekaligus pejuang dari Tanah Hijaz (Madinah).

Ayah dari Sayyid Idris Al Kabir bernama Abdullah bin Hasan At Tsani. Sementara Ibunya bernama Atikah binti Abdulmalik. Dari jalur ayahnya, nasab Idris Al Kabir tercatat lengkap: Idris bin Abdullah Kamil bin Hasan Tsani bin Hasan Al Mujtaba bin Fathimah binti Rasulullah SAW.
Lahir di Madinah pada (127 H / 744 M), Idris tumbuh menjadi ulama dan pejuang yang melawan rezim Abbasiyah. Di Tanah Hijaz (Madinah), kala itu terjadi konflik antara dzuriyah Rasulullah SAW dengan Kekhalifahan Abbasiah, yang memaksa terjadinya perang Al-Fakh.
Dalam peperangan itu, Idris bergabung dengan Pasukan Ahlul Bayt yang dipimpin Sayyid Musa al-Kadzim. Sayangnya, pasukan Ahlul Bayt mengalami kekalahan secara telak. Kekalahan ini berdampak pada genosida (pembantaian) terhadap para dzuriyah Rasulullah SAW.
Idris yang tertekan, melarikan diri dari Madinah menuju Fez (Maroko). Singkat cerita, sesampainya di Fes, Idris menyatukan Suku Barbar dan para imigran yang ada di Maroko, dengan membangun kekuasaan politik yang kelak dikenal dengan Kesultanan Idrisiah. Sejak itu, Sayyid Idris Al Kabir bergelar Sultan Idris I.
Sultan Idris I membangun Maroko pada (788–791 M). Melalui Sultan Idris I, sejarah modern Negeri Maroko dimulai. Sultan Idris I mengembangkan kesultanan yang ia dirikan, menjadi imperium Islam terbesar di Afrika. Inilah muasal Kesultanan Idrisiyah, imperium Islam yang disegani dunia Barat dan Timur. Dari Kesultanan inilah, Negeri Maroko yang modern itu dibangun.
Sultan Idris II, Sang Penerus
Sultan Idris I menikah dengan perempuan bernama Kenza bin Ishaq al-Awrabi. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Idris bin Idris (Idris II / Idris Al Saghir). Idris Al Saghir melanjutkan perjuangan sang ayah dengan menaklukkan wilayah strategis di Afrika Utara, dan membangun banyak peradaban Islam baru di sana.
Idris Al Saghir membangun Maroko pada (791–828 M). Di tangan Idris Al Saghir, Negeri Maroko tumbuh menjadi negara adidaya, sekaligus pusat ilmu pengetahuan dunia. Idris Al Saghir memiliki 12 putra. Dari 12 putra Idris Al Saghir inilah, kelak melahirkan para penguasa dan Wali besar di Tanah Hijaz dan Maroko, termasuk nama-nama Wali yang disebut pada paragraf paling atas tulisan ini.
Di antara keturunan Idris Al Saghir yang paling terkenal tentu saja; Muhammad Al-Idrisi (penemu peta/globe dunia), Sayyid Abdissalam Ibnu Masyisyi (guru Sayyid Hasan Asy-Syadzili), Sadah al-Maliki Hijaz (keluarga Sayyid Muhammad Al Maliki), hingga Sadah Al-Ghumari Maroko (keluarga Sayyid Ahmad Al Ghumari).
Sanad Maroko di Nusantara
Dalam corak beragama, Maroko sangat mirip Nusantara. Maroko adalah negeri kebudayaan yang tak begitu vulgar dalam menampakan “fashion” keagamaan. Hal ini sama persis dengan Islam Nusantara. Islam di Maroko dan Nusantara dibalut keberagaman dan kebudayaan.
Sama seperti Nusantara, Maroko juga menganut paham Aswaja yang tercermin dalam prinsip Al- Huwiyyah ad-Diniyyah al-Maghribiyyah (identitas keberagamaan masyarakat Maghrib), yaitu: bermazhab Akidah Asy’ariyah, Fiqih Maliki, dan Tasawuf Junaid Al-Baghdadi.
Perbedaan Maroko dan Nusantara terdapat pada mayoritas mazhab fiqihnya. Jika Nusantara mayoritas bermazhab Syafi’iyah, Maroko mayoritas Malikiyah. Namun, seperti halnya Nusantara yang terdapat mazhab Maliki, di Maroko juga terdapat banyak ulama yang bermazhab Syafi’i.
Jejaring keilmuan ulama Nusantara dan Maroko sangat lurus dan kuat. Keduanya terhubung dari segala bidang keilmuan. Baik secara tauhid, akidah, tata bahasa, tasawuf, bahkan amalan wirid. Keilmuan ulama Nusantara, bersambung ke Maroko.

Secara Tauhid dan Aqidah, ulama Nusantara menganut paham Asy’ariah. Keilmuan ulama Nusantara di bidang Aqidah Asy’ariyah, mayoritas bersanad pada ulama besar Maroko, Sayyid As-Sanusi Al Hasani, melalui kitab Umm al Barahin. Ini alasan kitab Umm al Barahin begitu masyhur di Nusantara.
Di bidang Ilmu Tata Bahasa Arab, mayoritas ulama Nusantara bersanad pada ulama besar Maroko, Ibnu Ajjurum As-Shanhaji, melalui Kitab Jurumiyah. Ini alasan Kitab Jurumiyah sangat terkenal di berbagai pesantren di wilayah Nusantara.
Dalam konteks Tarekat dan Ilmu Tasawuf, mayoritas Ulama Nusantara bersanad pada Pembesar Sufi dari Maroko. Tarekat Syadziliah (Sayyid Asy-Syadzili Al Hasani) dan Tarekat Tijaniyah (Sayyid At-Tijani Al Hasani) sangat masyhur sebagai tarekat para ulama di Nusantara.
Di bidang amalan sholawat, hampir mayoritas Ulama Nusantara mengamalkan dan mengajarkan wirid para pembesar sufi dari Maroko. Sebut saja Shalawat Masyisyiah (Sayyid Al Masyisyi), Shalawat Dalail Khairat (Sayyid Al Jazuli), hingga Shalawat Nariyah (Sayyid Ibrahim At-tazi).
Fakta secara ilmiah, Nusantara punya kedekatan dengan Maroko. Dari bermacam corak dan disiplin keilmuan, ajaran-ajaran Ulama Nusantara berporos ke Maroko. Ini bukti otentik bahwa ulama Nusantara bersanad tegak lurus ke Maroko.








